Feed on
Posts
Comments

Kisah mengenai ditemukannya TAT bermula pada pencipta metode ini, Tapas Fleming. Dia seorang wanita yang tinggal di Kalifornia Selatan, dan sejak kecil memang sudah meminati berbagai kegiatan yang terkait meditasi, penyembuhan mental emosional dan praktek spiritual.  Kepribadiannya yang penuh welas asih, membuatnya bercita-cita untuk menjadi perawat suatu saat nanti.

Saat dewasa dan menikah, Tapas hamil dengan 2 janin kembar. Namun sayangnya karena terjadi komplikasi dengan kehamilannya, terpaksa dilahirkan secara prematur.  Dia begitu sedih ketika dikabari oleh dokternya bahwa salah satu janin ternyata sudah meninggal dunia, dan yang satu lagi harus dirawat dalam “TABUNG” gawat darurat.  Akibat janin pertama yang meninggal dan terlanjur membusuk dalam rahimnya, Tapas terpaksa dirawat berbulan-bulan di rumah sakit, dan tepat di hari ke-100, janinnya yang kedua juga meninggal dunia.  Tapas pun akhirnya diizinkan pulang dalam keadaan berduka dan belum pulih kesehatannya.  Pengalaman traumatis ini membuatnya urung mewujudkan cita-cita menjadi perawat.

Sepulangnya dari rumah sakit, Tapas berjuang untuk kembail sehat.  Seorang kawan menyarankan Tapas untuk berobat ke Master Ni, seorang akupunkturis legendaris yang masih keturunan langsung dari Dinasti Han, yang tinggal dan praktek di Amerika.  Perlahan-lahan, dengan bimbingan yang piawai dari Master Ni, energi dan kesehatan Tapas mulai pulih.  Saat sudah sembuh, Tapas tetiba punya cita-cita baru: ingin jadi akupunkturis.

Momen ini menjadi halaman baru dalam hidup Tapas. Dia mendaftarkan diri ke dalam sekolah akupunktur di Amerika dan menempuh pendidikannya dengan semangat baru.  Beberapa tahun kemudian, Tapas lulus dan mulai berpraktek sebagai akupunkturis.

Suatu hari, Tapas bertemu dengan teman sekolah akupunkturnya.  Teman ini bercerita tentang sebuah teknik akupunktur baru, yang disebut dengan NAET (Nambudripad Allergy Ellimination Technique), karya dokter Devi Nambudripad.  Teknik ini cukup unik dan bermanfaat mengatasi alergi.  Salah satu keunikannya adalah bila pasiennya anak / bayi, maka anak tersebut akan dipangku oleh ibu / ayahnya, dan titik akupunktur yang distimulasi adalah pada punggung orangtuanya saat memangku anak.  Ajaibnya, yang mengalami kesembuhan alergi adalah anaknya. Luar biasa bukan?

Sedemikian menariknya teknik ini, Tapas dan rekan akupunkturis tersebut memutuskan untuk belajar teknik NAET langsung dari dokter Devi Nambudripad, dan setelah menyelesaikan rangkaian pelatihannya, kini mereka bisa berpraktek 2 teknik: akupunktur secara konvensional dan teknik NAET.

Saya ingin menggambarkan lebih rinci tentang prosedur penyembuhan alergi dengan teknik NAET.  Umpama seorang pasien mengalami alergi terhadap gula.  Maka dia akan diberikan tabung kecil yang berisi alergennya, dalam hal ini gula.  Tabung tersebut dipegang terus selama terapi.  Selama terjadi kontak kulit dengan tabung tersebut, serangkaian titik akupunktur di tubuh, sebagian besar di kiri-kanan tulang punggung, dan sebagian lagi di tungkai tubuh, akan distimulasi oleh terapis NAET.  Prosedurnya hanya memakan waktu sekitar 3 menit saja. 

Setelah itu, pasien diizinkan beristirahat selama 15 menit sambil tetap terus memegang tabung tersebut.  Bila pasiennya seorang anak, umumnya tabung kecil alergen akan diselipkan ke dalam kaus kaki yang dia pakai, agar terus berkontak dengan kulit pasien.  Setelah itu, proses selesai dan sekarang bagian yang tersulit: pasien dilarang kontak dan mengkonsumsi alergen tersebut selama kurang lebih 25 jam!  Bila berhasil menghindarinya, maka umumnya terapi alergi berhasil.

Meski unik dan efektif, sebagaimana Anda dapat baca, metode NAET ini punya satu kelemahan yang kadang sulit diatasi, yakni periode menghindari kontak dengan alergen selama 25 jam paska terapi.  Terkadang ada pasien yang alergi debu dan sulit sekali untuk memastikan dia tidak terpapar debu selama 25 jam.  Jadi terkadang ada pasien yang terapi alerginya berhasil, dan kadang ada juga yang gagal dan perlu diulang.

Suatu hari, Tapas tertidur di meja terapi kliniknya.  Dalam tidurnya, dia bermimpi bertemu dengan seorang tabib tua yang mengatakan bahwa dalam ilmu akupunktur, ada 2 titik di sudut mata dalam, yang sesungguhnya mewakili seluruh titik-titik akupunktur di sisi tulang punggung.  Tapas terbangun dari tidur, dan tiba-tiba terilhami untuk menggunakan kedua titik dekat sudut mata dalam tersebut pada pasien berikutnya.  Hal selanjutnya yang terjadi sungguh mengejutkan, karena saat kedua titik tersebut dipakai, ternyata terapi alerginya berhasil TANPA perlu menghindari alergen selama 25 jam ke depan!  Sejak saat itu, Tapas merevisi cara menerapi alergi dengan 2 titik baru di sudut mata dalam ini.

Setelah selang sekian waktu, Tapas menceritakan temuannya ini kepada rekannya yang akupunkturis, dan temannya mengomentari bahwa dalam tradisi Tai Chi yang dia pelajari, guru Tai Chi-nya mengajarkan juga untuk menyentuh kedua titik yang sama di sudut mata, ditambah dengan titik mata ketiga, sebagai cara pengobatan.  Berbekal masukan ini, terapi alergi Tapas pun sekarang berubah menjadi fokus pada 3 titik yang sama di wajah.

Tidak lama kemudian, Tapas bertemu dengan seorang teman lain, yang sedang bekerjasama dengan ilmuwan Rusia untuk membuat video game yang bermanfaat terapetik.  Teman tersebut menjelaskan bahwa semua stimulus visual yang kita lihat, diproses pada otak bagian belakang.  Mengingat 3 titik di muka yang dipakai terkait dengan fungsi mata dan penglihatan, Tapas memutuskan untuk menggunakan satu tangan lagi untuk menyentuh kepala bagian belakang. Terciptalah pose TAT yang sekarang kita pakai hingga sekarang.

Memang semua proses temuan ini, bagaikan serangkaian ilham dan kebetulan, namun ceritanya belum berakhir di sini.   Kebetulan yang terbesar hadir ketika suatu saat Tapas kedatangan pasien seorang wanita berusia 40-an dengan keluhan alergi garam.  Bayangkan betapa sulitnya hidup dengan alergi garam, yang umumnya terkandung dalam setiap menu makanan! 

Tapas kemudian seperti biasa melakukan terapi alergi garam pada wanita tersebut, dan setelah beberapa menit berproses dan dites, ternyata alergi garamnya sudah teratasi.  Tanpa diduga, pasien wanita tersebut kemudian berucap, “Saya tidak tahu apa yang barusan kamu lakukan kepada saya, dan saya juga tidak bercerita sebelumnya karena setahu saya disini hanyalah tempat untuk terapi alergi saja, namun sesungguhnya saya adalah korban dari kekerasan seksual yang terjadi berulang saat saya remaja.  Sudah bertahun-tahun saya melakukan berbagai terapi untuk mengatasi trauma serta efek dari peristiwa tersebut dalam hidup.  Entah mengapa setelah terapi alergi tadi, ini adalah kali pertama dalam hidup saya, dimana saya bisa mengingat peristiwa trauma tersebut tanpa sedih, marah dan sakit hati.  Ini luar biasa!”.

Insert potato chips

Mendengar ini, Tapas turut senang, sekaligus kebingungan.  Dia tidak pernah terpikir terapi alergi ala Tapas yang sudah sering dilakukannya bisa punya efek terhadap penyembuhan luka batin.   Sejak saat itu, Tapas mulai mencoba pose TAT tersebut pada pasien-pasien yang memiliki gangguan stres serta trauma, dan sebagian besar mengalami penyembuhan yang baik, utuh dan lembut.

Suatu hari, Tapas menghubungi Charles Figley dari Asosiasi Traumatologi. Dia seorang figur legendaris yang berperan di organisasi Palang Hijau, sebuah kelompok yang kerap berperan dalam pemulihan psikologis di daerah bencana / perang pada berbagai negara.  Lewat telpon, Tapas menceritakan temuannya perihal terapi stres dan trauma, dan diundang oleh Charles Figley untuk mempresentasikan temuan terapi ini di sebuah simposium di Amerika.  Akibat undangan ini, Tapas merasa perlu untuk memberi nama pada metode terapinya, dan dipilihlah nama Tapas Acupressure Technique (TAT).  Ini terjadi di tahun 1993, dan hingga hari ini, Tapas masih terus melakukan eksplorasi dan sesekali merevisi metode terapinya untuk mencapai hasil yang terbaik.

Saya sendiri (Reza Gunawan), bertemu metode ini secara tidak sengaja di tahun 2005.  Saat itu, saya diminta menemani guru meditasi kesehatan saya, pak Merta Ada, dimana beliau diundang jadi pembicara di Energy Psychology Conference di Singapura.  Selain bertugas mendampingi dan menerjemahkan presentasi guru saya, saya berkesempatan hadir mendengarkan pemaparan dari berbagai pakar penyembuhan yang hadir dari dunia internasional selama 3 hari.

Ada sebuah peristiwa yang berkesan disana, setelah 3 hari penuh mencerna sedemikian banyak pemaparan dan teknik penyembuhan, saya mengalami kewalahan otak. Rasanya tidak sanggup lagi berpikir apalagi belajar sesuatu yang baru, sayangnya pesawat pulang ke Indonesia masih 2 hari kemudian.  Saya menghubungi Joseph Guan, ketua penyelenggara konferensi dan menceritakan dilema saya.  Mau pulang tiketnya baru lusa, dan mau ikut seminar tambahan namun otak saya sudah penuh dan kewalahan. 

Joseph Guan menyarankan saya untuk ikut workshop sehari dengan topik yang ringan dan mudah saja, demi mengisi 1 hari kosong sebelum jadwal pesawat pulang.  Dia lalu merujuk ke kelas perkenalan teknik TAT yang diadakan keesokan harinya.   Mengintip silabus workshopnya, saya berpikir “Wah, ini terlihat cukup ringan dan mudah! Saya kan sudah belajar berbagai metode penyembuhan mental emosi, sudah menekuni meditasi, sudah jadi hipnoterapis klinis, meski teknik ini baru, namun pasti saya mudah memahaminya tanpa perlu kuatir terlalu berat untuk dicerna… mari daftar!”.

Keesokan hari ini, kami berkumpul di sebuah kelas dengan peserta sekitar 15 orang. Saya duduk di sebelah Theresa, seorang terapis laserpunktur dari Singapura, yang kebetulan sudah saya kenal beberapa hari sebelumnya. Workshop berjalan dengan suasana yang ringan, instrukturnya Sylvia? memperkenalkan metode TAT dan prosedur pelaksanaannya melalui sebuah demo.  Lalu kami diminta untuk latihan berpasangan, satu orang sebagai pemandu TAT dan satu lagi menjadi klien.

Saya berlatih dengan Theresa.  Saat saya jadi pemandu, prosesnya biasa saja, relatif lancar.  Lalu kami diminta berganti peran, dan tiba-tiba di tengah Theresa memandu proses saya sebagai klien, saya mengalami pelepasan emosional yang begitu besar, tak diduga dan sangat melegakan.  Sungguh tidak saya sangka sama sekali, mengingat berbagai latihan penyembuhan emosional lainnya yang pernah saya jalani dengan berbagai teknik lainnya sebelum itu.

Hari itu mengubah hidup saya.  Tidak saja dikejutkan oleh efek jadi klien TAT pertama kali, tanpa saya sadari saat itu, saya membawa pulang ke Indonesia sebuah teknik yang selama belasan tahun kemudian ternyata membantu banyak orang dalam menyembuhkan luka batin mereka secara mandiri.

Sepulangnya ke Indonesia, saya kembali berpraktek di klinik.  Praktek saya saat itu ditentukan oleh jenis keluhan yang dibawa klien. Kadang sekedar melakukan konseling, kadang akupunktur Jepang, kadang sound healing, terkadang juga hipnoterapi klinis/medis, dan sekarang, sesekali dengan TAT. Secara umum, hasil klinis TAT cukup baik, namun saya belum siap untuk menggunakannya sebagai terapi yang diutamakan di praktek klinis saya.

Beberapa bulan kemudian, saya berkolaborasi dengan mas Erbe Sentanu dari Katahati Institute. Kami bersama membuat sebuah rangkaian seminar yang menggabungkan keahliannya di bidang brainwave entrainment, dengan metode penyembuhan emosional dimana saya mulai memperkenalkan dasar metode TAT.  Sekitar 300 peserta hadir di seminar tersebut, dan cukup mendapatkan kesan baik dari protokol yang kami kolaborasikan.  Bisa dikatakan saat itu saya belum memperkenalkan teknik TAT yang utuh dan otentik, namun hasilnya cukup menggembirakan.

Ada satu kisah menarik dari seminar tersebut.  Sepasang suami istri datang sebagai peserta. Suaminya adalah kawan saya, dan saya baru saja kenal dengan istrinya di acara seminar tersebut.  Mereka berlatih bersama dengan 300 peserta lainnya, tidak satu pun isu / masalah yang mereka proses ada yang saya ketahui tentang apa.  Mereka berproses dengan masalah masing-masing dengan panduan audio yang kami buat kolaboratif.

Selang jarak 3 hari setelah seminar selesai, saya mendapat pesan teks dari istri teman saya tersebut. Dia bercerita, “Mas Reza, saya dan suami ikut seminar kemarin.  Waktu praktikum latihan, saya memilih isu emosional saya yang berlangsung sekian lama terkait dengan mertua saya.  Setelah latihan, saya merasa lega.  Anehnya, hari ini (3 hari paska seminar) saya menstruasi.  Koq tidak ada nyeri seperti biasanya ya?”

Saya sedikit tertegun lalu menjawab, “Sejujurnya saya tidak tahu mengapa nyeri haidnya tidak sakit seperti biasa. Mengingat kita belum pernah melakukan pemeriksaan riwayat reproduktifmu sebelumnya, dan hanya bertemu di seminar saja.  Memang biasanya seperti apa?”.  Dia menjelaskan, “Begini Mas, kami sudah beberapa tahun berusaha untuk hamil, sudah 3 tahun tepatnya, namun selalu gagal karena tubuh saya punya kista.  Sudah pernah dioperasi juga tapi kistanya tumbuh lagi.  Menurut dokter saya, nyeri setiap menstruasi disebabkan karena adanya kista tersebut.” Mendengar pemaparannya, saya pun menyarankan dia untuk kembali kontrol ke dokternya, dan dia setuju.

Di hari yang sama saat malam hari, saya mendapatkan telpon dari dia.  Suaranya terdengar riang.  Dia bilang dokter telah memeriksanya dan agak kebingungan, karena kista yang baru saja difoto seminggu yang lalu, tiba-tiba hilang tanpa jejak.  Dan mungkin itulah yang menyebabkan haidnya kali ini tanpa nyeri hebat.  Beberapa bulan kemudian dia pun hamil dan melahirkan anak yang sehat.  Dan kalau tidak salah, sekarang mereka sudah punya 3 orang anak.

Cerita tadi sebenarnya cukup sering terjadi selama pengalaman saya berbagi TAT, hanya ini secara pribadi agak istimewa karena terjadi di awal saat saya baru mulai mengajar TAT, dan seolah hasilnya sedemikian ajaib.  Tak saya duga pada saat itu, berkahnya berbagi TAT akan menghasilkan lagi begitu banyak kisah ajaib penyembuhan.

Di periode waktu yang sama, saya memperdalam lagi TAT lewat 2 orang guru lainnya, John G. Hartung dan David Gruder.  Mereka juga belajar TAT kepada Tapas Fleming, dan semuanya menyarankan saya untuk berkenalan langsung dengan Tapas.  Akhirnya pada suatu saat, saya memberanikan diri untuk bertemu muka lewat video call Skype dengan Tapas, dan sejak saat itu jadi belajar langsung TAT dengannya.  Dia seorang wanita yang begitu hangat, ramah dan baik hati.

Di bulan Juni 2006, terjadi gempa bumi yang cukup besar di Jawa Tengah, terutama di daerah Yogyakarta.  Tapas menghubungi saya di suatu siang, dan berkata, “Reza, ada begitu banyak korban yang trauma akibat bencana gempa bumi tersebut, bisakah kita bantu mereka dengan TAT?”.  Dengan sedikit input dari saya tentang kultur dan kebiasaan orang Indonesia, akhirnya kami membuat protokol TAT untuk Trauma Bencana. 

Protokol TAT untuk Trauma Bencana tersebut lalu kami sebarluaskan melalui beberapa cara.  Pertama di Jakarta, saya memberikan kurang lebih 8 sesi pelatihan kepada total 900 relawan yang akan berangkat ke Yogya untuk membantu pemulihan.  Kedua, saya mengajarkan TAT kepada seorang guru yoga di Yogya, bernama Amalina Tri Hidayati, dan membantunya mengajarkan TAT kepada tim kecil yang bergerak di beberapa area yang terdampak bencana.  Saya juga sendiri terbang ke Yogya untuk melakukan pelatihan TAT, serta turun memandu TAT kepada kelompok-kelompok masyarakat yang terdampak.  Sungguh periode yang melelahkan namun berbuah hasil yang membahagiakan.  Dari total 6 minggu pelaksanaannya, program kami telah menerapi lebih dari 7.000 orang dengan hasil yang baik, penuh dengan cerita-cerita pemulihan yang cukup mencengangkan.

Beberapa bulan setelah program pemulihan trauma gempa bumi tersebut, Tapas Fleming menghubungi saya, dan meresmikan saya sebagai Certified TAT Trainer.  Titel ini selain diperbolehkan mengajar TAT, juga berarti saya dapat memberikan sertifikasi profesional bagi mereka yang ingin menjadi terapis TAT.  Dan sejak 2007 saya mulai tidak lagi mengajar TAT untuk klien menggunakan secara mandiri, tapi juga memulai program pelatihan terapis TAT, hingga sekarang.

Pada tahun 2014, saya sempat mengundang Tapas Fleming untuk datang ke Indonesia, dan malam saat dia tiba di bandara itulah kali pertama kami bertemu langsung.   Dia tinggal di rumah keluarga saya, dan setiap hari berkesempatan untuk tukar pikiran mengenai TAT dan penyembuhan.  Dia juga senang sekali mencicip berbagai hidangan khas Indonesia, dan sempat syok setiap kali mau berbelanja karena dalam mata uang rupiah, tiba-tiba dia merasa punya uang banyak sekali sampai ratusan ribu bahkan jutaan!

Kunjungan Tapas selama beberapa minggu di Indonesia juga menyempatkan waktu untuk bertemu para murid-murid TAT yang begitu bersemangat, bahkan histeris, saat bertemu kali akhirnya bertemu Tapas.  Sungguh pengalaman berkesan yang takkan pernah dilupakan.

Comments are closed.