<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Self Healing - Reza Gunawan</title>
	<atom:link href="http://www.rezagunawan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rezagunawan.com</link>
	<description>memelihara ketenteraman dan kesehatan seutuhnya, dengan                       melatih kesadaran diri, agar hidup semakin ringan, ikhlas, dan selaras.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 05:58:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Resolusi Awal Tahun, Perlukah?</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/12/resolusi-awal-tahun-perlukah/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/12/resolusi-awal-tahun-perlukah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 05:58:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[
Tiada ucapan selamat tahun baru yang lengkap tanpa meninjau apa yang kita sebut sebagai resolusi awal tahun. Rasanya sudah tidak asing lagi kebiasaan awal tahun di mana kita diajak membulatkan niat, menanam suatu cita-cita, dan menancapkan tekad untuk mencapai suatu perubahan.
Seorang teman pernah bilang, bahwa baginya resolusi awal tahun adalah proses menggodok semangat juang dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-385" title="New Year's Resolutions" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/12/istock_000004424431xsmall.jpg" alt="New Year's Resolutions" width="425" height="282" /></p>
<p>Tiada ucapan selamat tahun baru yang lengkap tanpa meninjau apa yang kita sebut sebagai resolusi awal tahun. Rasanya sudah tidak asing lagi kebiasaan awal tahun di mana kita diajak membulatkan niat, menanam suatu cita-cita, dan menancapkan tekad untuk mencapai suatu perubahan.</p>
<p>Seorang teman pernah bilang, bahwa baginya resolusi awal tahun adalah proses menggodok semangat juang dalam hidup, supaya dia bisa mengukur kemajuan dan prestasinya dari tahun ke tahun. Teman yang lain berkata, resolusi awal tahun itu hanya sumber stres, karena menurutnya dari sekian banyak keinginan yang tercantum, lebih banyak yang tidak tercapai daripada yang terwujud.</p>
<p>Baris demi baris target dirumuskan, dari mulai janji untuk mulai berolahraga secara rutin, berhenti merokok, mulai memperhatikan pola dan asupan gizi yang lebih sehat, mengurangi konsumsi kafein, dsb. Ada juga yang bertarget tentang hubungan cintanya &#8211; baik sudah punya pasangan maupun tidak &#8211; yang penting tahun ini bisa menikah. Atau barangkali kita menetapkan resolusi yang berkaitan dengan karier, rezeki dan kesuksesan kita.</p>
<p>Jadi apa saja resolusi awal tahun Anda?</p>
<h3><span id="more-379"></span>Ketidakpastian, Perubahan &amp; Pilihan</h3>
<p>Mari kita lihat rutinitas yang biasa terjadi di perbatasan antara akhir tahun dan awal tahun. Pertama, tidak ada resolusi awal tahun yang afdol tanpa refleksi akhir tahun.Pada penghujung tahun, kita menengok resolusi yang telah dibuat pada tahun sebelumnya. Kita tepuk bahu kita sendiri atas niatan yang telah tercapai, dan kita pindahkan semua niatan yang belum tercapai sebagai kandidat penghuni daftar resolusi tahun selanjutnya.</p>
<p>Saya sendiri, terus terang, jarang tergerak untuk menyusun resolusi awal tahun, saya lebih senang menjalani hidup ini langkah demi langkah. Mengapa begitu? Saya berusaha melihat kembali setiap momen ketika saya membuat rencana, dan sering sekali rencana tersebut tidak terjadi sesuai dengan apa yang kita prediksikan sebelumnya.</p>
<p>Hidup ini memang sarat dengan perubahan dan ketidakpastian. Terkadang target dipasang supaya keinginan kita punya &#8220;bahan bakar&#8221; untuk tumbuh, bergerak dan berkembang, namun di tengah bersemangatnya kita mengejar keinginan, tanpa sadar dalam hati terselip rasa &#8220;keharusan&#8221; yang memaksa. Ini acapkali menjadi sumber stres yang tidak perlu.</p>
<p>Tidak bisa disangkal, kita memang butuh semangat hidup. Tanpa itu, hidup bisa terasa hambar. Namun semangat hidup yang terjangkit &#8220;harusitis&#8221; &#8211; radang serba harus ini dan itu &#8211; berpotensi menjepit hati, dan akhirnya merampas kemampuan kita untuk menikmati hidup momen demi momen, serta membuat kita lebih mudah untuk lupa bersyukur atas hal-hal yang sederhana namun indah dalam hidup kita.</p>
<h3>Menyentuh Energi Kreatif Tak Terbatas Dalam Diri</h3>
<p>Bagi saya, meluangkan waktu hening dan merenungkan bagaimana kita mengelola energi kreatif dalam hidup, lebih bermanfaat ketimbang sekadar mencantumkan setiap keinginan dalam &#8220;daftar belanja&#8221; awal tahun.</p>
<p>Ada yang mengatakan bahwa potensi kreativitas manusia itu tak terbatas. Sebagian menjelaskan dengan mengatakan bahwa baru 2% dari otak kita yang sudah terpakai secara optimal. Sebagian lagi menyatakan bahwa karena kita adalah bagian dari ciptaan Ilahi, sumber mahakreatif yang mampu menciptakan dan mewujudkan segalanya. Manapun yang benar, agaknya alam berusaha berpesan bahwa kita punya potensi ‘mencipta&#8217; yang luar biasa, termasuk untuk mewujudkan segala hal yang kita inginkan dalam hidup.</p>
<p>Lalu bagaimana caranya agar potensi mencipta ini bisa terwujud menjadi kenyataan? Salah satunya adalah dengan menarik garis batasan yang akan memberikan fokus dan kesempatan agar potensi menjadi nyata.</p>
<p>Contoh, setiap penulis punya segudang ide kreatif untuk menghasilkan karyanya. Namun seringkali tanpa kehadiran garis batasan yang namanya ‘deadline&#8217;, kemahakreativan tersebut sulit sekali dilahirkan dalam bentuk kata-kata. Inilah kekuatan agung dari garis batasan.</p>
<p>Di sinilah saya melihat manfaatnya resolusi awal tahun. Garis batasan di awal dan akhir tahun, memberikan kita semua ‘rahim ruang dan waktu&#8217; untuk mencipta, berkarya dan mewujudkan potensi diri seutuhnya.</p>
<h3>Niat: Penjara vs Kesempatan Bertumbuh</h3>
<p>Gunakan target, dan batas waktu sebagai sarana untuk tumbuh dan berkembang, dan perhatikan dengan saksama agar hal tersebut justru jangan menjadi &#8220;penjara serba harus&#8221;. Bagaimana caranya?</p>
<ul>
<li>Pertama, untuk mencegah stres karena terlalu banyak cita-cita dan keinginan, bagaimana kalau kita belajar untuk membatasi berbagai batasan yang kita buat sendiri? <em>Know when to limit your limits</em>. Jangan jadikan diri Anda sebagai tahanan dalam penjara keinginan yang dibuat sendiri.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kedua, untuk mengimbangi semangat hidup dengan kebijaksanaan, belajarlah untuk juga menyambut terbuka sifat kehidupan yang serba tidak pasti dan senantiasa berubah. Buka hati untuk hadir penuh perhatian di ‘sinikini&#8217; &#8211; here and now. Meskipun Anda bisa saja membuat rencana untuk 5 tahun ke depan, kenyataannya rencana tersebut hanya dapat dilakukan, dicapai, dan dinikmati hanya di momen ini. Sekarang juga.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ketiga, tidak ada salahnya kita mengingatkan diri untuk bersyukur akan hal-hal yang indah namun sederhana dalam hidup. Nikmatnya seteguk air putih, nyamannya bernapas, serta tulusnya senyum, merupakan harta yang bisa kita petik setiap hari, setiap saat.</li>
</ul>
<ul>
<li>Dan akhirnya, ikhlaskan segala kemungkinan terbaik dan terburuk, agar Anda tidak nafsu menang dan takut kalah. Menang dan kalah, berhasil dan gagal, merupakan persepsi yang sangat relatif. Apalagi kalau kita ingat bahwa setiap jiwa kita bertumbuh dan semakin kuat, biasanya justru dari pengalaman-pengalaman yang kita tuding sebagai kekalahan dan kegagalan.</li>
</ul>
<p>Pada awal tahun ini, saya mengajak Anda untuk ‘bermain&#8217; dalam hidup. <em>Have fun in your life, instead of letting your life make fun of you. </em></p>
<p>Dalam setiap tahun yang baru, kita semua dihadiahi 31.536.000 detik baru. Mari kita cintai sepenuh hati setiap detik tersebut, setiap momen, apa adanya.</p>
<p><em>Published, Eve Magazine, Januari 2008.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/12/resolusi-awal-tahun-perlukah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 05:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[
Disclaimer:
Prosedur penyembuhan diri sendiri yang dijelaskan dalam tulisan ini adalah untuk mengurangi rasa stres, takut dan masalah mental emosional lainnya. Ini tidak ditujukan sebagai terapi penyakit tertentu, baik fisik maupun mental, atau sebagai pengganti terapi medis atau psikologis profesional.
APA ITU TAT (TAPAS ACUPRESSURE TECHNIQUE)?
TAT (Tapas Acupressure Technique) adalah proses yang mudah untuk mengakhiri stres, trauma, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-350" title="istock_000001558120xsmall" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/10/istock_000001558120xsmall.jpg" alt="istock_000001558120xsmall" width="425" height="282" /></p>
<p><em>Disclaimer:<br />
Prosedur penyembuhan diri sendiri yang dijelaskan dalam tulisan ini adalah untuk mengurangi rasa stres, takut dan masalah mental emosional lainnya. Ini tidak ditujukan sebagai terapi penyakit tertentu, baik fisik maupun mental, atau sebagai pengganti terapi medis atau psikologis profesional.</em></p>
<h3>APA ITU TAT (TAPAS ACUPRESSURE TECHNIQUE)?</h3>
<p>TAT (Tapas Acupressure Technique) adalah proses yang mudah untuk mengakhiri stres, trauma, rasa takut (fobia), rasa menderita &amp; untuk menciptakan rasa bahagia.<br />
TAT adalah teknik yang baru, sederhana dan efektif untuk menciptakan rasa damai, rileks, dan sehat dalam waktu yang singkat. TAT merupakan salah satu bentuk terapi dalam kelompok ilmu Energy Psychology yang sedang berkembang pesat.</p>
<p>Teknik ini dilakukan dengan menyentuh ringan beberapa titik akupunktur di kepala(Posisi TAT), sambil mengarahkan perhatian Anda pada masalah yang ingin diatasi (7 Langkah Penyembuhan TAT). Menyentuh titik-titik ini dengan ringan akan memberikan efek pudarnya trauma, sehingga pikiran dan perasaan hati yang negatif pun berkurang, terutama setelah mengalami peristiwa yang traumatis.</p>
<h3>BAGAIMANA TAT BISA MEMBANTU SITUASI BENCANA?</h3>
<p>Ada banyak aspek tentang TAT yang menjadikannya ideal untuk membantu kondisi bencana alam. Pertama, TAT sangat mudah dipelajari, dan selalu menggunakan titik akupuntur yang sama di kepala. Dalam kondisi dimana sumber daya serta tenaga bantuan terbatas, proses penyembuhan bisa segera dimulai. Selain itu, TAT bisa digunakan untuk sekelompok orang, sehingga membantu pemulihan jauh lebih cepat dibanding proses penyembuhan yang dilakukan terhadap satu individu saja.</p>
<p>Aspek penting lain juga adalah TAT tidak mengharuskan orang untuk mengalami kembali atau menjalani ulang peristiwa traumanya. Bahkan TAT tidak terlalu banyak menggunakan bahasa / percakapan dibanding dengan bentuk terapi lainnya, dan memungkinkan individu untuk memfokuskan perhatiannya pada masalah sesuai dengan persepsi mereka sendiri, tanpa harus menceritakannya atau mengungkapkannya dengan kata-kata.</p>
<p>Dalam situasi seperti bencana, dimana seringkali kita merasa kehilangan kendali atas aspek hidup kita, TAT dapat sangat bermanfaat. Dengan TAT, seseorang bisa melakukan proses penyembuhannya sendiri, dan sekarang memiliki &#8220;perangkat&#8221; yang dapat digunakan kapan saja. Ini sangat membantu orang untuk menyadari bahwa mereka adalah pihak yang &#8220;selamat&#8221; dan bukan &#8220;korban&#8221;.</p>
<p>TAT juga melepaskan dan menyembuhkan trauma masa lalu yang tersimpan di bawah sadar dan berkaitan dengan situasi krisis saat kini. Memori trauma punya kecenderungan untuk berkumpul dan terakumulasi, sehingga mempengaruhi individu maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan. TAT juga efektif untuk mencegah terjadinya trauma sekunder pada para relawan/tenaga lapangan yang berinteraksi dengan para korban.</p>
<p>Yang lebih penting lagi, TAT tidak hanya berguna bagi korban langsung bencana saja, namun juga bisa digunakan bagi mereka yang bukan korban langsung, namun terpengaruh secara negatif akibat bencana itu.  Para relawan yang turun ke lapangan, maupun masyarakat yang menyaksikan berbagai pemberitaan bencana, seringkali mengalami dampak negatif yang tidak diinginkan juga dari bencana tersebut.  Berbagai ketakutan, kegelisahan, dan segala stres lainnya bisa sangat terbantu oleh TAT.</p>
<p>Kami menyarankan agar setiap orang mempelajari teknik TAT sebelum mengalami bencana secara langsung.  Meski kita tidak mengharapkan adanya bencana lebih lanjut, namun sangat baik bilamana kita sudah menguasai proses pemulihan psikologis jauh sebelumnya, sehingga tahu apa yang perlu dilakukan bila kebutuhan tersebut muncul.</p>
<h3><span id="more-343"></span>SIAPA YANG BISA DITOLONG DENGAN PROSES TAT?</h3>
<p>TAT dapat digunakan sebagai proses untuk (1) menolong diri sendiri , (2) menolong orang lain secara individu, dan (3) menolong orang lain secara berkelompok dengan seorang fasilitator TAT. Ketika individu tidak dapat menyentuh titik TATnya, mungkin karena cedera atau alasan lain, maka orang lain dapat menyentuh titik TAT untuk individu tersebut, dan hasilnya pun tetap bisa efektif.</p>
<h3>APAKAH TAT SUDAH BERMANFAAT UNTUK BENCANA DI NEGARA LAIN?</h3>
<p>Ya. Ignacio Jarero, pendiri dan presiden dari Asosiasi Terapi Krisis di Meksiko dan Amerika Latin, mengatakan bahwa begitu banyak anak kecil maupun orang dewasa yang mengalami pengurangan signifikan atas gejala stres paska trauma, di akhir proses TAT.</p>
<p>TAT juga merupakan teknik favorit tim terapi lapangan untuk mengurangi stres karena sangat mudah untuk dilakukan dan diajarkan ke orang lain. TAT juga bahkan digunakan oleh anggota tim krisis untuk mengatasi stres dan ketegangan yang mereka alami akibat interaksi langsung dengan para korban.</p>
<p>Asosiasi Terapi Krisis Meksiko juga telah memakai TAT untuk sekitar 1,652 anak-anak setelah bencana banjir di Meksiko, banjir dan longsor di Nikaragua, bencana gempa di Kolombia, dan banjir longsor di Venezuela. TAT juga digunakan waktu bencana Tsunami di Aceh maupun Sri Lanka.</p>
<p>Green Cross, organisasi kemanusiaan yang bersifat serupa dengan Red Cross (Palang Merah), namun lebih fokus pada penyembuhan psikologis akibat trauma, telah berupaya untuk meningkatkan jumlah tenaga ahlinya yang terlatih dengan metode Energy Psychology. Energy Psychology juga semakin banyak digunakan oleh ahli konseling yang dikirim oleh Green Cross ke daerah-daerah bencana.</p>
<p>Psikolog Charles Figley, Ph.D., pendiri Green Cross pada tahun 1995 dan juga tokoh ternama dalam bidang terapi trauma, mengatakan &#8220;Energy Psychology semakin terbukti sebagai salah satu intervensi psikologis yang terampuh bagi para tenaga ahli yang membantu korban bencana, maupun bagi tenaga ahli itu sendiri.&#8221;</p>
<p>Di Indonesia sendiri, TAT digunakan secara intensif pertama kali saat bencana gempa bumi di Yogyakarta pada tahun 2006.  Selanjutnya TAT terus berkembang dan dipakai juga saat bencana Situ Gintung, serta pemulihan psikologis saat bom Marriott kedua.</p>
<h3>TAT UNTUK STRES DAN MASALAH UMUM</h3>
<p>Bentuk penggunaan TAT yang paling mendasar dan sederhana, adalah cukup lakukan Posisi TAT dan amati masalah Anda. Sadari segala pikiran, perasaan, dan sensasi fisik yang datang dan pergi, dan izinkan diri Anda untuk mengamatinya dengan damai. Ketika Anda sudah selesai atau merasakan suatu perubahan, lepaskan tangan Anda dan sadari apa yang Anda rasakan setelah proses tersebut.<br />
Ulangi seperlunya hingga masalahnya tidak lagi mengganggu Anda, atau hingga Anda bisa rileks meskipun mengingat masalah tersebut.</p>
<h3>BAGAIMANA MELAKUKAN POSISI TAT</h3>
<p>Dengan salah satu tangan, sentuhkan dengan ringan ujung ibu jari Anda pada sudut dalam salah satu mata Anda. Dengan ujung jari manis dari tangan yang sama, sentuhkan dengan ringan pada sudut dalam mata yang lain. Titik tersebut ada di ujung dalam mata dan naik ke atas sekitar 3 mm dari ujung mata dalam tersebut.</p>
<p>Sentuhkan dengan ringan dengan tangan yang sama, ujung jari tengah Anda di titik yang berada di antara kedua alis dan naik ke atas kurang lebih 1 cm.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-345" title="tatpoints" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/10/tatpoints.jpg" alt="tatpoints" width="281" height="125" /></p>
<p>Sekarang letakkan tangan yang masih bebas di belakang kepala Anda, dengan telapak tangan menyentuh belakang kepala hingga ibu jari Anda di batas rambut belakang Anda. Telapak tangan ini menopang dasar tengkorak kepala Anda. Bila Anda menyentuh titik TAT untuk orang lain, lokasi tangan masih sama, namun jari kelingking Anda yang menyentuh batas rambut belakang. Kedua tangan disentuhkan dengan ringan, tidak ada tekanan sama sekali.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-346" title="tatposefront" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/10/tatposefront.jpg" alt="tatposefront" width="143" height="104" /><img class="alignnone size-full wp-image-349" title="tatposeback2" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/10/tatposeback2.jpg" alt="tatposeback2" width="138" height="102" /></p>
<p>Untuk anak dibawah usia 11 tahun, tangan yang di depan kepala diubah menjadi seluruh telapak diletakkan di kening depan dan menutup setengah mata bagian atas. Bagi bayi, orang yang parah kondisi penyakitnya, atau tidak nyaman disentuh, posisi TATnya sama hanya tangan dijarakkan sekitar 3 &#8211; 5 cm dari kepala pasien.</p>
<p>Setiap Langkah TAT biasanya sekitar 1 menit atau hingga Anda merasa sudah selesai. Rasa sudah selesai bisa berupa (1) menghela nafas lega secara spontan, (2) rasa tidak lagi tercengkeram oleh masalah yang diatasi, (3) perhatian yang beralih ke hal lain, (4) sensasi energi yang lepas/bebas, atau (5) sekedar suatu rasa bahwa proses Anda selesai. Bagi anak-anak, ini bisa selesai dalam beberapa detik saja.</p>
<p>Jarang sekali, perasaan hati Anda yang negatif menjadi lebih kuat ketika Anda melakukan TAT. Jika ini terjadi, tetaplah lakukan Posisi TAT dan bimbing perhatian Anda ke Langkah TAT terakhir yang baru saja Anda lakukan sebelumnya. Dengan mengikuti instruksi ini, perasaan hati tersebut biasanya berubah menjadi rasa damai dalam waktu kurang lebih 1 menit. Jika Anda tidak juga tentram setelah 1 menit, mintalah bantuan terapis kesehatan mental yang profesional.</p>
<p>Anda boleh lepaskan &amp; istirahatkan kedua lengan Anda kapan saja &#8211; baik di dalam Langkah TAT tertentu maupun diantara Langkah TAT. Mata boleh dipejamkan atau terbuka. Anda boleh menggunakan tangan yang manapun di depan kepala, atau bergantian antar Langkah TAT. Lakukan TAT dengan maksimal 45 menit setiap hari. 45 menit tersebut dihitung berdasarkan waktu dimana Anda berada dalam posisi TAT. Minumlah 6-8 gelas air putih dalam hari ketika Anda melakukan TAT.</p>
<h3>7 LANGKAH TAT UNTUK PENYEMBUHAN DAMPAK BENCANA</h3>
<p>Gunakan 7 Langkah TAT berikut ini yang dirancang untuk penyembuhan dampak bencana. Jika ada Langkah yang tidak sesuai dengan apa yang Anda butuhkan, kami sarankan untuk tetap lakukan Posisi TAT sambil berdoa bagi mereka yang mungkin membutuhkan Langkah tersebut, agar mencapai hasil yang paling baik.</p>
<p><strong>LANGKAH 1: Berdoa / Berniat bahwa semua orang yang terkait dengan masalah ini dapat mencapai penyembuhan yang terbaik. </strong></p>
<ul>
<li>Lakukan Posisi TAT, dan dalam hati Anda berdoalah / berniatlah bagi semua orang yang membutuhkan penyembuhan dari situasi saat ini. Lepaskan tangan Anda ketika sudah merasa selesai, atau setelah kurang lebih 1 menit.</li>
</ul>
<p><strong>LANGKAH 2: Dalam hati Anda, berbicaralah dengan mereka yang telah meninggal dunia akibat bencana ini, seolah-olah seandainya Anda dapat melakukan percakapan dengan mereka pada saat ini.</strong></p>
<ul>
<li>Lakukan Posisi TAT, dan dalam hati Anda bayangkan Anda melakukan percakapan dengan orang yang Anda kenal yang telah meninggal dunia akibat bencana ini. Sampaikan apapun yang perlu Anda sampaikan ke mereka, dan dengarkan apapun yang mereka sampaikan kepada Anda. Lepaskan tangan Anda ketika sudah merasa selesai, atau setelah kurang lebih 1-2 menit</li>
</ul>
<p><strong>LANGKAH 3: Dalam hati Anda, berbicaralah dengan Tuhan, seolah-olah Anda dapat bercakap-cakap dengan Tuhan pada saat ini</strong></p>
<ul>
<li>Lakukan Posisi TAT, dan dalam hati Anda lakukan percakapan dengan Tuhan saat ini. Sampaikan apapun yang perlu Anda sampaikan kepada Tuhan, dan dengarkan apapun yang Tuhan sampaikan kepada Anda. Lepaskan tangan Anda ketika sudah merasa selesai, atau setelah kurang lebih 1-2 menit.</li>
</ul>
<p><strong>LANGKAH 4: Ini sudah Terjadi, sudah Berlalu, saya Selamat, dan sekarang saya boleh Rileks</strong></p>
<ul>
<li>Lakukan Posisi TAT, dan katakan pernyataan diatas dalam hati Anda, lalu amati pikiran, perasaan hati dan tubuh Anda. Lepaskan tangan Anda ketika sudah merasa selesai, atau setelah 1-2 menit.</li>
</ul>
<p><strong>LANGKAH 5: Semua Tempat dalam Hidup saya, Pikiran saya, Hati Saya dan Tubuh Saya, yang terkait dengan masalah ini sekarang disembuhkan</strong></p>
<ul>
<li>Lakukan Posisi TAT, dan katakan pernyataan diatas dalam hati Anda, lalu amati pikiran, perasaan hati dan tubuh Anda. Lepaskan tangan Anda ketika sudah merasa selesai, atau setelah kurang lebih 1-2 menit. Anda tidak harus tahu persis dimana saja tempat yang perlu penyembuhan, cukup dengan niat saja sudah cukup untuk penyembuhan ini.</li>
</ul>
<p><strong>LANGKAH 6: Saya maafkan semua yang saya salahkan atas peristiwa ini, termasuk diri sendiri maupun Tuhan</strong></p>
<ul>
<li>Terkadang kita tidak menyadari mungkin kita telah menyalahkan orang lain, diri sendiri dan bahkan terkadang Tuhan atas peristiwa yang terjadi. Lakukan Posisi TAT, dan katakan pernyataan diatas dalam hati Anda, lalu amati pikiran, perasaan hati dan tubuh Anda. Lepaskan tangan Anda ketika sudah merasa selesai, atau setelah kurang lebih 1-2 menit.</li>
</ul>
<p><strong>LANGKAH</strong><strong> 7: Visualisasikan diri Anda bersama-sama mereka yang masih hidup bersama Anda, menyatukan rasa &amp; hati, bersyukur atas kehidupan.</strong></p>
<ul>
<li>Lakukan Posisi TAT, dan katakan pernyataan diatas dalam hati Anda, lalu amati pikiran, perasaan hati dan tubuh Anda. Betapapun sulitnya situasi saat ini, sadari diri Anda dalam kebersamaan dengan orang-orang yang dekat dan masih bersama di hidup Anda. Luangkan sejenak untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas penyembuhan yang telah Anda alami. Lepaskan tangan Anda ketika sudah merasa selesai, atau setelah kurang lebih 1-2 menit.</li>
</ul>
<p>Jika Anda merasa kurang nyaman, baik diantara Langkah TAT atau setelah seluruh Langkah dilakukan, maka lakukan Posisi TAT sambil memperhatikan pikiran, perasaan atau sensasi fisik apapun yang kurang nyaman bagi Anda, hingga Anda merasa lebih nyaman dan lega, lalu lanjutkan Langkah TAT bila belum selesai.</p>
<p>Langkah TAT tambahan yang juga bisa dilakukan bila perlu:<br />
Langkah 1: &#8220;Ini adalah kesalahan saya&#8221;<br />
Langkah 2: &#8220;Ini bukan kesalahan saya&#8221;<br />
Langkah 1: &#8220;Saya sebenarnya bisa melakukan sesuatu untuk mencegah hal ini&#8221;<br />
Langkah 2: &#8220;Tidak benar bahwa saya bisa mencegah hal ini&#8221;</p>
<p>Setelah seluruh proses selesai, mohon berbagilah apa yang Anda alami dalam proses ini kepada orang lain.</p>
<p>TAT adalah pengalaman yang lembut penuh kasih sayang, yang membawa hasil yang dalam, bermakna dan permanen. TAT adalah salah satu alat ideal yang dapat dimanfaatkan pada situasi saat ini karena cepat, praktis, efektif dan sederhana.</p>
<h3>INFORMASI &amp; DUKUNGAN LEBIH LANJUT</h3>
<p>Anda boleh membagikan tulisan ini secara gratis kepada mereka yang membutuhkan. Anda dapat meminta dokumen ini atau mengajukan pertanyaan tentang cara melakukan proses ini via email ke info@truenaturehealing.net. Kami juga melakukan Pelatihan Sehari untuk mereka yang ingin memanfaatkan proses ini langsung di lapangan / daerah bencana. Marilah satukan hati, doa dan upaya kita untuk membantu sesama untuk bangkit dan hidup dalam damai.</p>
<p>Tapas Fleming, adalah pencipta teknik TAT, dia adalah seorang pelopor dalam bidang Energy Psychology yang saat ini berkembang pesat. Hingga saat ini, Tapas mengajarkan TAT di berbagai negara, dan juga melakukan praktek klinis di California Selatan. Latar belakangnya mencakup berbagai studi dan meditasi yang terfokus pada aspek emosi dan spiritual dalam seni penyembuhan. Dia juga secara formal mempelajari TCM / Pengobatan Tradisional Cina, dan memegang izin praktek akupunktur. Website TATLife yang dimilikinya memberikan instruksi gratis tentang bagaimana melakukan TAT.<br />
Website: www.tatlife.com</p>
<p>Reza Gunawan adalah Praktisi Penyembuhan Holistik di Jakarta, Indonesia. Pesan utamanya adalah &#8220;Kita adalah Penyembuh Terbaik bagi Diri Sendiri&#8221; sebagaimana terlihat dalam upayanya dalam membantu orang lain menyembuhkan diri mereka sendiri, baik dalam praktek klinis maupun berbagai pelatihan penyembuhan yang dilakukannya. Energy Psychology adalah salah satu komponen penyembuhan utama yang dipeloporinya, termasuk TAT (Tapas Acupressure Technique), EFT (Emotional Freedom Technique) dan BIT (Bodymind Integration Therapies).<br />
Website: www.truenaturehealing.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mau Bebas dari Rokok? Jangan Berusaha Berhenti!</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/07/mau-bebas-dari-rokok-jangan-berusaha-berhenti/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/07/mau-bebas-dari-rokok-jangan-berusaha-berhenti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 07:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC Cosmopolitan 90.4 FM 14 Juli 2009


Merokok adalah suatu kegiatan yang begitu susah dilepaskan oleh para perokok, meskipun kita semua sudah kenyang mendengar propaganda bahaya merokok bagi kesehatan. Saya pribadi tidak berpendapat bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Hanya saja, dalam pengamatan saya dari pengalaman terapi, berbagai upaya yang umum dilakukan untuk berhenti dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC Cosmopolitan 90.4 FM 14 Juli 2009</strong><em><br />
</em></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-319" title="istock_000000421881xsmall" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/07/istock_000000421881xsmall.jpg" alt="istock_000000421881xsmall" width="425" height="282" /></p>
<p>Merokok adalah suatu kegiatan yang begitu susah dilepaskan oleh para perokok, meskipun kita semua sudah kenyang mendengar propaganda bahaya merokok bagi kesehatan. Saya pribadi tidak berpendapat bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Hanya saja, dalam pengamatan saya dari pengalaman terapi, berbagai upaya yang umum dilakukan untuk berhenti dari kebiasaan merokok seringkali kurang efektif. Dan lebih aneh lagi, berbagai upaya berhenti merokok justru seringkali membuahkan hasil yang sebaliknya, yakni malah memperkuat kebiasaan merokok tersebut.</p>
<p>Kali ini, saya mengundang Anda untuk memahami kembali psikologi dan mekanisme kebiasaan merokok dan sekaligus menawarkan sudut pandang berbeda.  Kalau boleh memberikan kesimpulan akhir di awal perenungan kita, kira-kira bunyinya begini:</p>
<p><em>“Jika Anda ingin bebas dari kebiasaan merokok, lepaskanlah semua keinginan, upaya, dan fokus untuk berhenti secara permanen dari merokok.”</em></p>
<h3><span id="more-318"></span>Pendekatan Umum untuk Berhenti Merokok</h3>
<ul>
<li><strong>Niat dan tekad yang kuat</strong> Secara statistik, hanya 2% perokok yang berhasil menggunakan metode ini.  Saya tertarik untuk mencari metode yang bisa menolong 98% perokok yang tidak berhasil berhenti karena tidak cocok dengan metode niat/tekad ini.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Terapi Pengganti Nikotin </strong>Meskipun ada sebagian orang yang berhasil lepas dari kegiatan merokok akibat stiker maupun jenis nikotin pengganti lainnya, saya tidak pernah habis pikir: apabila kita sudah bebas dari adiksi terhadap nikotin berbentuk rokok, apakah kita layak menganggap diri bebas dari adiksi nikotin, kalau masih menggunakan bentuk nikotin yang lain?</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Hipnoterapi </strong>Sebagai seorang hipnoterapis, saya tidak berhasil menemukan kesesuaian maupun tingkat keberhasilan yang baik dari metode ini.  Saya menemukan bahwa selama klien masih punya KEINGINAN KUAT untuk BERHENTI merokok, sugesti hipnotis yang diberikan biasanya hanya bisa membantu untuk jangka pendek dan tidak mampu memberikan support dan manfaat jangka panjang.  Lebih lagi, mengingat batin bawah sadar adalah aspek dalam diri yang sangat kuat, sebenarnya tidaklah aman ketika sebagian teknik hipnoterapi melakukan penggunaan sugesti negatif. Penggunaan kalimat sugesti hipnotis, baik yang diberikan saat trance maupun dalam percakapan biasa, yang berkonotasi “takutlah dengan akibat dari kebiasaan merokok” justru mengandung risiko bahwa tubuh akan memproduksi apa pun yang kita takutkan tersebut menjadi kenyataan. Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, saya ingin menyampaikan pengamatan bahwa terkadang para praktisi hipnoterapi pun bisa lupa bahwa perumusan sugesti hipnotis bisa dibuat sedemikian kuat hingga justru membahayakan klien.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Akupunktur</strong> Sebagai seorang akupunkturis, saya tidak menemukan juga efektivitas yang tinggi melalui metode ini. Barangkali karena banyak akupunkturis yang terlalu fokus pada aspek detoksifikasi tubuh atas nikotin, tetapi kurang mengarahkan terapi pada aspek psikologis pasien yang sebenarnya merupakan gudang pemicu perilaku merokok.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Makan </strong>Melarikan dari kebiasaan merokok ke kebiasaan konsumsi baru (seperti makan atau mengunyah permen karet) kurang tepat jika disebut sebagai penyembuhan karena lebih bersifat pelarian. Tidak jarang pula pelarian ini merupakan objek adiksi baru yang belum tentu juga sehat.</li>
</ul>
<p>Mungkinkah ada pendekatan yang lebih natural dan lebih mudah?  Ada yang bilang, bahwa upaya untuk berhenti merokok biasanya harus dilakukan antara 3-6 kali hingga mencapai keberhasilan. Benarkah?</p>
<h3>Mengapa Jangan Berusaha Berhenti Merokok?</h3>
<p>Dari sudut pandang medis, Dr. Joseph Mercola, seorang dokter yang sangat mempopulerkan merawat kesehatan secara alami, justru menganjurkan agar seorang perokok jangan LANGSUNG BERHENTI merokok.  Alasannya?  Dalam rokok tersimpan berbagai zat yang bersifat obat, yang bilamana sudah dikonsumsi sekian lama maka tingkat metabolisme tubuh juga bergantung pada pasokan obat tersebut.  Bila rokok tiba-tiba dihentikan tanpa merawat kebutuhan nutrisi yang cukup dan gaya hidup yang sehat, maka bisa terjadi perubahan drastis metabolisme tubuh yang bisa saja mengakibatkan efek buruk yang tidak diinginkan (salah satunya peningkatan berat badan).</p>
<p>Sementara menurut sudut pandang saya sendiri, begitu seseorang berkeinginan untuk berhenti merokok secara PERMANEN, dia otomatis masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal”:  apakah saya bisa berhenti merokok selama-lamanya, ataukah saya akan gagal dan kembali merokok seperti yang sudah terjadi sebelumnya?</p>
<p>Masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal” ini justru akan membuat kita memaksakan diri untuk berhasil.  Setiap pemaksaan diri, meskipun untuk tujuan yang baik, akan menyebabkan STRES TAMBAHAN di bawah sadar.  Mengingat sebagian perokok menggunakan kebiasaan merokok untuk melegakan diri, menciptakan rasa nyaman, atau melepaskan stres, maka STRES TAMBAHAN ini justru meningkatkan peluang perilaku merokok untuk terulang kembali.</p>
<h3>Siklus “Merokok Yo-Yo”</h3>
<p>Pada fenomena diet berambisi langsing, fenomena menarik ini juga terjadi. Dalam jangka pendek, bisa saja tekad dan fokus kita untuk berbadan ideal terlaksana. Namun, begitu target tercapai, ada energi kompensasi yang mendorong kita untuk makan dan mengumpulkan kembali berat badan yang hilang.  Ini yang disebut “diet yo-yo”. Dan kita bisa menggunakan metafora yang sama dengan “merokok yo-yo”.</p>
<p>Siklusnya seperti ini:<br />
Takut risiko merokok → Ingin berhasil berhenti merokok → Mengumpulkan tekad sekuatnya untuk memaksakan diri berhenti secara permanen → Berhasil mengurangi/berhenti merokok dalam jangka pendek → Muncul pemicu perilaku merokok (mis. stres) → Timbul keinginan merokok lagi, tapi sudah bertekad berhenti → Terjadi konflik batin antara ingin merokok supaya lega dan ingin berhenti merokok secara permanen → Konflik batin semakin kuat, stres semakin tinggi → Ketika stres sudah melalui ambang toleransi, kemampuan berpikir jernih hilang dan akhirnya kita kembali ke pola/kebiasaan lama dalam mengatasi stres → Mulai merokok lagi → Menguatnya memori bahwa merokok itu melepaskan stres → Kecewa dan MERASA GAGAL karena tidak berhasil berhenti secara permanen → Semakin takut tidak bisa lepas dari rokok → Siklus ini berulang lagi, dst.</p>
<p>Siklus tersebut begitu kuat dan mengikat sehingga kita perlu memahami bahwa untuk bebas dari rokok, kita tidak boleh masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal”.  Bagaimana caranya?  JANGANLAH BERUSAHA BERHENTI MEROKOK.</p>
<p>Ya betul, saya tidak bergurau. Semakin Anda berusaha berhenti, justru seringkali hasil sebaliknya yang Anda peroleh. Bahkan sebenarnya berhenti merokok itu begitu mudah dan bisa dicapai tanpa berupaya berhenti, kalau Anda sudah melepaskan keinginan untuk berhenti.</p>
<p>Berhenti merokok akan sangatlah sulit bagi para perokok yang sangat ingin berhenti.</p>
<h3>Memahami Jerat Rokok Dengan Jeli</h3>
<p>Untuk bisa bersahabat dan terbebas dari adiksi, kita perlu memahaminya dengan lebih dekat dan jernih.  Banyak orang berkonsep bahwa melepaskan benda kecil sekian sentimeter itu sebenarnya perkara mudah.  Saya bukannya tidak setuju, tapi kita perlu juga membarengi dengan pengetahuan bahwa sebenarnya jerat kebiasaan merokok itu terdiri dari ribuan simpul rumit yang mengikat sistem tubuh dan batin kita.</p>
<p>Kalau seluruh simpul ini, baik simpul ketergantungan secara fisik maupun ketergantungan secara psikologis, sudah menjadi jerat kompleks dalam tubuh maupun batin kita, tidaklah sulit memahami mengapa segala upaya untuk terbebas dari rokok bisa menjadi perjuangan yang diwarnai jatuh bangun bagi banyak orang.</p>
<p>Di satu sisi, secara fisik memang sebatang rokok mengandung zat-zat yang menyebabkan keterikatan (adiksi) secara fisik.  Artinya, bilamana dihentikan, maka tubuh akan merasakan kehilangan dan menuntut untuk diberikan kembali jatahnya.  Memang tuntutan tubuh untuk kembali diisi nikotin tidak terasa seekstrem fenomena “sakaw” pada pengguna obat-obatan terlarang, tapi justru karena permintaan tersebut tidak terlalu ekstrem, para perokok cenderung merasa “tidak terpenjara” oleh nikotin  dan menganggap bahwa dirinya tidak kecanduan.  Dari sudut pandang tersebut, rokok sebenarnya menjerat lebih kuat daripada narkoba, karena zat dalam rokok mengikat tanpa membuat kita sadar bahwa diri kita terikat.</p>
<p>Di lain sisi, bisa ada puluhan bahkan ribuan jerat rokok yang tidak bersifat ketergantungan fisik melainkan lebih bersifat jerat psikologis yang mengikat kita terhadap “kegiatan” merokok, bukan melulu pada rokoknya. Jerat psikologis tersebut bisa berupa memori serta kebiasaan, misalnya:</p>
<ul>
<li>Berbagai memori tentang rasa lega dan nyaman ketika merokok.</li>
<li>Ingatan tentang bagaimana merokok melepaskan stres.</li>
<li>Ingatan tentang bagaimana rokok adalah sahabat terbaik dalam kesendirian.</li>
<li>Ingatan menyenangkan berkumpul dengan teman-teman sambil merokok.</li>
<li>Keyakinan bahwa merokok membuat seseorang lebih kreatif.</li>
<li>Keyakinan bahwa merokok membuat proses berpikir dan produktivitas lebih lancar.</li>
<li>Kebiasaan nikmatnya merokok setelah makan, atau setelah bercinta.</li>
</ul>
<p>Dari berbagai pengalaman dan pengamatan saya, tidak hanya pada kasus merokok, obat terkuat yang paling ampuh untuk menyembuhkan jerat memori dan kebiasaan hanyalah satu. Dan itu bukanlah membentuk memori atau kebiasaan baru yang lebih positif.  Tahukan Anda apa kuncinya?</p>
<p>Obatnya adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih.</p>
<h3>Jerat Yang Lepas Sendiri Tanpa Usaha Sengaja</h3>
<p>Setelah sempat mengeksplorasi berbagai cara untuk berhenti merokok yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dan pada saat yang sama mengajarkan keterampilan Self Healing di berbagai pelatihan, saya menemukan fenomena yang aneh.</p>
<p>Saya menemukan beberapa peserta Self Healing yang, setelah mulai berlatih keterampilannya secara mandiri dan hidup lebih sehat, tiba-tiba berhenti sendiri merokok.  Anehnya, mereka tidak pernah melakukan upaya yang terfokus khusus untuk bebas dari merokok.</p>
<p>Sebenarnya, fenomena ini juga bisa terjadi pada mereka yang belum belajar keterampilan Self Healing.  Pernahkah Anda mendengar cerita-cerita bebas dari rokok seperti:</p>
<ul>
<li>Suatu hari, si perokok tiba-tiba merasa “ah, saya tidak ingin merokok lagi”, dan sejak itu mereka berhenti merokok.</li>
<li>Seseorang yang memulai kebiasaan jogging pagi dan setelah sekian lama ia baru menyadari bahwa sudah lama sekali ia tidak merokok sebatang pun.</li>
</ul>
<p>Setelah saya renungi dan amati lebih lanjut, ternyata ada sebuah jalan lain yang sebenarnya mampu membebaskan kita dari rokok. Namun, karena tidak pernah kita soroti dengan jeli, mereka yang berhasil melalui jalan itu kita anggap sebagai sebuah kebetulan belaka, atau kita anggap berhasil karena tekadnya kuat.</p>
<p>Jalan itu bernama “Tanpa sengaja, tiba-tiba terbebas dari rokok”.<br />
Mengapa ini bisa terjadi?</p>
<h3>Pengamatan dari Mereka yang Berlatih Self Healing</h3>
<p>Pada awal mulai berlatih keselarasan lahir batin, segala pemicu yang membuat ingin merokok ternetralisir oleh latihan mereka sendiri seperti:</p>
<ul>
<li>Rasa tegang yang tadinya hanya bisa dicairkan dengan merokok mulai berkurang karena sering berlatih relaksasi dan pernapasan.</li>
<li>Stres dan masalah yang biasanya membuat ingin merokok mulai bisa dilepaskan secara alami tanpa bantuan rokok.</li>
<li>Trauma/luka batin yang menjadi bagian dari adiksi dan biasanya harus dilarikan dengan merokok mulai bisa disembuhkan sendiri, sehingga tidak lagi ada alasan untuk pelarian dan lebih bisa menghadapi hidup dengan jernih.</li>
</ul>
<p>Setelah sekian lama berlatih, mereka juga mulai mengalami detoksifikasi alami tubuh/ pikiran, sehingga segala sisa zat yang bersifat adiktif maupun berbagai memori dan kebiasaan seputar merokok mulai melemah dengan sendirinya. Tanpa berusaha berhenti.</p>
<p>Akhirnya, ketika sudah semakin terampil Self Healing, kita semakin peka akan kebutuhan tubuh dan mulai lebih bisa merasakan respon tubuh terhadap berbagai kegiatan serta zat yang kita masukkan ke dalamnya.  Suatu saat, tanpa disengaja, secara naluriah kita mulai ingin makanan yang lebih sehat dan lidah mulai kehilangan selera terhadap zat yang kurang membahagiakan tubuh kita. Pada saat itulah si perokok seringkali tiba-tiba tidak bisa meneruskan kenikmatan merokok dan akhirnya terbebas sendiri, sekali lagi, tanpa sengaja. Tanpa usaha.</p>
<h3>Latihan Memperkuat Perhatian Merokok</h3>
<p>Seperti disebutkan sebelumnya, obat terampuh dari berbagai memori dan kebiasaan yang menjerat adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih.  Jadi, setelah melepaskan berbagai upaya dan ambisi untuk berhenti merokok, Anda bisa mencoba latihan-latihan berikut ini.</p>
<p>Catatan: latihan ini tidak dirancang untuk berhenti merokok, melainkan untuk memperkuat perhatian yang sadar dan jernih tentang kegiatan merokok.  Jika dilakukan tanpa niat untuk berhenti merokok, latihan-latihan seputar merokok ini bisa bermanfaat untuk membantu kita mengenal diri, mengasah kesadaran dan perhatian tentang merokok, serta membantu kita lebih sehat lahir batin—tanpa harus berhenti merokok.<br />
<strong><br />
Latihan #1 &#8211; Menunda: </strong><br />
Latihan ini saya sajikan setelah terinspirasi Pak Purnawan EA, seorang hipnoterapis yang sangat arif.  Beliau mengatakan, kalau kita sudah telanjur merekam nikmatnya merokok maka berusaha berhenti permanen dari merokok sangatlah sulit.  Adakah cara yang lebih mudah ketimbang berusaha berhenti?  Cobalah MENUNDA DENGAN SADAR DAN SENGAJA.  Selama ini para perokok sudah berhasil melakukan latihan menunda, meskipun tidak secara sadar dan sengaja.  Para perokok mampu menunda merokok ketika sedang sibuk, atau berada di zona non-merokok, saat tidur malam hari, saat berpuasa, dll.</p>
<p>Ketika dorongan ingin merokok muncul, Anda bisa memutuskan untuk menunda merokok selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 10 tahun, bahkan seumur hidup.  Ini akan lebih mudah dijalani karena menunda bukanlah suatu kemustahilan.  Sementara berhenti permanen, yang mewakili hilang totalnya sumber kenikmatan yang telanjur terekam kuat, membuat kita semakin stres dan malah ingin merokok kalau sudah tidak tahan.</p>
<p>Ingat, tidak ada yang permanen dalam hidup ini. Latihan menunda membuka peluang bagi kita untuk memilih antara kapan mau merokok dan kapan tidak merokok.  Setelah masa tunda berakhir, silakan pilih: apakah mau menunda lebih jauh, atau menikmati rokok seperti biasa?  Latihan menunda juga tidak membuat kita terjebak dalam kerangka pikir “Berhasil/Gagal Berhenti Permanen”, kan?</p>
<p><strong>Latihan #2 &#8211; Bernapas Tanpa Rokok: </strong><br />
Mungkin analogi berikut akan membantu: seandainya kita sedang gatal dan kemudian kita menggaruk gatal tersebut dengan satu tangan sementara satu tangan lagi sedang merokok, bisa saja kita menarik kesimpulan yang tidak tepat, yakni: merokok bermanfaat menghilangkan gatal. Tentu kesimpulan itu tidak benar. Namun, mereka yang perhatiannya tidak jernih belum tentu bisa membedakan apa yang sebenarnya menghilangkan gatal tersebut.</p>
<p>Dari contoh tersebut, cobalah tengok lagi semua kesimpulan kita bahwa merokok itu melegakan, nikmat, meringankan stres dan beban pikiran.  Mungkinkah bahwa sebenarnya manfaat tersebut bukanlah bersumber dari produk rokok itu sendiri, melainkan dari kegiatan kita yang berhenti sejenak untuk rileks, dan menikmati keluar masuknya napas?</p>
<p>Cobalah sendiri: hentikan sejenak kegiatan Anda, sekadar berniat untuk rileks dari ketergesaan dan kesibukan, lalu mulai bernapas dengan sadar dan sengaja.  Hirup napas dengan sangat lembut, rasakan ke dalam diri, lalu embuskan dengan perlahan dan lega.  Setelah melakukan ini beberapa menit, tidakkah Anda merasa lebih nyaman?  Inilah rahasia mengapa rokok itu bisa kita nikmati. Bukan karena rokoknya, melainkan karena kita bernapas secara sadar dan sengaja.</p>
<p>Ketika kita rutin melatih napas yang dilakukan secara sadar dan sengaja, pada saat itulah kita mulai membentuk pengalaman langsung bahwa napas merupakan kunci kenikmatan dan kelegaan. Pengalaman baru itu akan membentuk memori baru yang otomatis akan melonggarkan memori lama yang menganggap bahwa kenikmatan yang kita dapatkan berasal dari produk rokok.</p>
<p><strong>Latihan #3 &#8211; Merokok dengan Perhatian 100%: </strong><br />
Latihan ini terinspirasi dari renungan Osho.  Prinsipnya sederhana, gunakan kegiatan merokok sebagai latihan meditasi.  Tahu bagaimana orang Jepang melakukan upacara minum teh? Mereka menghayati proses minum teh, seolah-olah terdiri dari 1000 tahap, dan benar-benar melakukan tahap demi tahapnya dengan perhatian 100%.</p>
<p>Anda juga bisa melakukan ‘upacara merokok’ dengan perhatian 100%.  Mulai dari merasakan dorongan ingin merokok, sadari bahwa Anda pindah ke ruangan di mana Anda seolah akan ‘menyembah Dewa Rokok’, mengambil sebatang rokok, menyalakannya, mendekatkannya ke mulut Anda, menghirupnya dengan nikmat, merasakan asapnya di dalam tubuh Anda, lalu mengembuskannya dengan lega.  Setiap bagian kecil dari kegiatan merokok perlu dihayati dan dirasakan dengan perhatian 100%.  Artinya tidak boleh sambil ngobrol, melamun, kerja, nonton, atau melakukan kegiatan lain secara berbarengan.  Hayati dengan perhatian penuh tanpa sebersit pun niat untuk berhenti merokok.  Nikmati sepenuh hati.</p>
<p>Apakah Anda harus melakukan upacara itu di setiap batang rokok?  Tidak. Cukup TIGA batang dari berapa pun batang rokok yang Anda konsumsi tiap hari. Nikmatilah tiga batang itu dengan perhatian dan penghayatan total. Selebihnya, silakan merokok seperti biasa.</p>
<h3>Resep Bebas dari Rokok Tanpa Berusaha Berhenti</h3>
<p>Dari semua perenungan di atas, berikut adalah resep intinya:</p>
<ul>
<li>Jangan berusaha untuk berhenti, dan lepaskan keinginan untuk berhenti permanen.</li>
</ul>
<ul>
<li>Mulailah meningkatkan kualitas kesehatan fisik: asupan nutrisi yang baik, mulai berolahraga, dan memberikan kesempatan beristirahat yang cukup.</li>
</ul>
<ul>
<li>Melatih seni rileks, lega, dan selaras, melalui belajar keterampilan Self Healing. (silakan baca informasi lengkapnya <a title="Pelatihan Self Healing" href="http://truenaturehealing.net/selfhealing" target="_blank">disini</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Melatih 3 Latihan Memperkuat Perhatian Merokok yang telah dijelaskan di atas.</li>
</ul>
<p>Lebih penting lagi, saya juga menganjurkan kita untuk tidak mendesak, mendorong, apalagi memaksa orang lain untuk berhenti merokok, karena anjuran tersebut bisa menyebabkan orang tersebut semakin merasa tidak diterima atau dicintai dan akhirnya menimbulkan stres yang menyebabkan dia semakin ingin merokok.</p>
<p>Kalau Anda tidak ingin menghirup udara yang bercampur asap rokok, menyingkirlah, atau buat kesepakatan dengan para perokok untuk sama-sama menjaga kebersihan udara yang ingin dinikmati para non-perokok.  Itu lebih baik, bijak, dan adil, daripada menuntut orang lain untuk berhenti dari sebuah kebiasaan yang jeratnya kadang begitu erat.</p>
<p>Selamat menghirup udara segar!</p>
<p><em>Terimakasih telah menikmati tulisan ini. Bila Anda menyukainya, silakan berbagi dengan para sahabat &amp; keluarga Anda, dengan menyebutkan sumbernya di <strong>rezagunawan.com</strong>. Anda pun bisa langsung mengetahui berita terbaru tentang tulisan &amp; kegiatan pelatihan dengan mengikuti saya di <a title="Reza Gunawan @ Twitter" href="http://twitter.com/rezagunawan" target="_blank">Twitter</a>. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/07/mau-bebas-dari-rokok-jangan-berusaha-berhenti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Self Healing &#8211; 2</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/05/pelatihan-self-healing-2/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/05/pelatihan-self-healing-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 12:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[
MODUL 2: Hening, Tenteram, &#38; Berserah 
Durasi Pelatihan: pukul 08.30 – 18.00
Setelah melatih berbagai keterampilan yang bersifat praktis, Anda pun bisa menikmati manfaat self healing secara lebih dalam.  Dalam modul ke-2 ini, selama satu hari, Anda akan diperkenalkan berbagai teknik self healing yang lebih berakar pada keheningan (silence) dan keberserahan (surrender).  Anda akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-239" title="istock_000008267539xsmall2" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000008267539xsmall2.jpg" alt="istock_000008267539xsmall2" width="425" height="282" /></p>
<p><strong>MODUL 2: Hening, Tenteram, &amp; Berserah </strong></p>
<p><em>Durasi Pelatihan: pukul 08.30 – 18.00</em></p>
<p>Setelah melatih berbagai keterampilan yang bersifat praktis, Anda pun bisa menikmati manfaat self healing secara lebih dalam.  Dalam modul ke-2 ini, selama satu hari, Anda akan diperkenalkan berbagai teknik self healing yang lebih berakar pada keheningan (silence) dan keberserahan (surrender).  Anda akan mempelajari lebih lanjut tentang:</p>
<ul>
<li>Berbagai latihan meditasi praktis, singkat (10 menit), jitu untuk meredakan ‘celoteh’ dan beban pikiran.</li>
<li>Membersihkan ‘sampah pikiran’ untuk terciptanya ketenteraman hati.</li>
<li>Mengalami kekuatan memaafkan, syukur, cinta, dan berserah total.</li>
<li>Menyembuhkan dampak dari pengalaman hidup  yang menyebabkan terjadinya luka hati, trauma, khawatir, takut, dendam, dan segala rasa yang meracuni hidup dan hubungan kita.</li>
<li>Mengikhlaskan berbagai masalah lahir batin dengan membundelnya sekaligus dalam 1 proses tunggal TAT (Tapas Acupressure Technique).</li>
<li>Menguatkan kapasitas diri untuk berserah pada Sang Pencipta, sesuai keyakinan masing-masing.</li>
</ul>
<p><strong>Jadwal Pelatihan dan Pendaftaran Online</strong></p>
<p>Silakan kunjungi kami di Website True Nature Holistic Healing dengan mengklik <span style="text-decoration: underline;"><a title="Jadwal &amp; Registrasi Pelatihan" href="http://www.truenaturehealing.net/jadwal.php" target="_blank">disini</a></span></p>
<p><strong>Tentang Prasyarat Kelas</strong></p>
<p>Anda tidak wajib mengikuti Pelatihan Self Healing modul 1 terlebih dahulu untuk bisa mengikuti modul 2  ini, karena kurikulumnya bersifat saling melengkapi, namun tidak bersambung/berurutan pelajarannya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/05/pelatihan-self-healing-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Self Healing &#8211; 1</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/05/pelatihan-self-healing-1/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/05/pelatihan-self-healing-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 11:59:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[
Modul 1: Rileks, Lega &#38; Selaras
Durasi Pelatihan: pukul 08.30 &#8211; 18.00
Dalam satu hari pelatihan ini, Anda akan mempelajari berbagai manfaat self healing yang bisa digunakan kapan saja dalam keseharian, yakni sbb:
Emosi, Nyeri Tubuh &#38; Beban Pikiran


 Cara praktis mengatasi berbagai emosi negatif, seperti: amarah, khawatir, cemas, takut, duka, dan sesal.
 Mengatasi nyeri tubuh secara alamiah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignnone size-full wp-image-284" title="Woman practicing yoga at sunrise" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000005906336xsmall2.jpg" alt="Woman practicing yoga at sunrise" width="400" height="300" /></strong></p>
<p><strong>Modul 1: Rileks, Lega &amp; Selaras</strong><br />
Durasi Pelatihan: pukul 08.30 &#8211; 18.00</p>
<p>Dalam satu hari pelatihan ini, Anda akan mempelajari berbagai manfaat self healing yang bisa digunakan kapan saja dalam keseharian, yakni sbb:</p>
<p><strong>Emosi, Nyeri Tubuh &amp; Beban Pikiran<br />
</strong></p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Cara praktis mengatasi berbagai emosi negatif, seperti: amarah, khawatir, cemas, takut, duka, dan sesal.</li>
<li> Mengatasi nyeri tubuh secara alamiah dalam hitungan menit. Tanpa obat.</li>
<li> Melepaskan beban pikiran &amp; ketegangan mental dari peristiwa sehari-hari.</li>
</ul>
<p><strong>Rileks &amp; Selaras Lahir Batin</strong></p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Menjernihkan perhatian untuk meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan produktivitas.</li>
<li> Cara rileks yang efektif, tanpa melarikan diri dari masalah.</li>
<li> Mengenal napas sebagai penyelaras rasa dan raga.</li>
</ul>
<p><strong>Tubuh Sehat &amp; Optimal</strong></p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Meningkatkan daya tahan tubuh, mengharmoniskan saraf, kelenjar, dan sistem energi tubuh secara alami.</li>
<li> Menyeimbangkan fungsi dan koordinasi otak.</li>
<li> Mengasah kemampuan belajar serta daya ingat.</li>
<li> Merintis siklus tidur yang pulih dan pulas.</li>
<li> Memicu proses detoks alami tubuh.</li>
<li> Memperkuat diri dari energi sekitar kita yang kurang sesuai</li>
</ul>
<p><strong>Jadwal Pelatihan dan Pendaftaran Online</strong></p>
<p>Silakan kunjungi kami di Website True Nature Holistic Healing dengan mengklik <span style="text-decoration: underline;"><a title="Jadwal &amp; Registrasi Pelatihan" href="http://www.truenaturehealing.net/jadwal.php" target="_blank">disini</a></span>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/05/pelatihan-self-healing-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Self Healing dengan Reza Gunawan</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/pelatihan-self-healing-dengan-reza-gunawan/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/pelatihan-self-healing-dengan-reza-gunawan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 12:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[
Pelatihan ini merupakan rangkaian latihan yang paling fundamental dalam mengenal dan merawat keselarasan diri secara mandiri.  Melalui pelatihan ini, kita diperkenalkan dan diingatkan kembali tentang pemahaman diri manusia seutuhnya, serta bagaimana kita bisa terampil memelihara ketenteraman dan kesehatan lahir batin secara praktis, sederhana, dan efektif.
Aspek yang akan dimanfaatkan dalam pelatihan ini meliputi nafas, gerak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-229" title="istock_000003136176xsmall2" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000003136176xsmall2.jpg" alt="istock_000003136176xsmall2" width="425" height="282" /></p>
<p>Pelatihan ini merupakan rangkaian latihan yang paling fundamental dalam mengenal dan merawat keselarasan diri secara mandiri.  Melalui pelatihan ini, kita diperkenalkan dan diingatkan kembali tentang pemahaman diri manusia seutuhnya, serta bagaimana kita bisa terampil memelihara ketenteraman dan kesehatan lahir batin secara praktis, sederhana, dan efektif.</p>
<p>Aspek yang akan dimanfaatkan dalam pelatihan ini meliputi nafas, gerak, sentuhan, pijatan, serta kesadaran/keheningan. Bermacam teknik yang akan diperkenalkan bersifat alamiah, universal dan non-agamis, berakar dari berbagai tradisi penyembuhan timur seperti Bali, Jepang, India, Cina, maupun ilmu penyembuhan (psikologi &amp; kedokteran) Barat.</p>
<p><span id="more-222"></span></p>
<p>Sejak 2004 &#8211; 2008, pelatihan ini telah dinikmati ribuan peserta yang datang dari berbagai kalangan profesi, latar belakang budaya, dan keyakinan pribadi.  Dari pengalaman mengajarkan self healing tersebut, saya memutuskan untuk menyusun rangkaian pelatihan baru yang lebih praktis, lebih mudah dipelajari, dan lebih bermanfaat bagi kehidupan kita.</p>
<p>Inilah sebabnya sekarang saya sajikan ulang Pelatihan Self Healing yang baru, yakni kurikulum 2009.  Pelatihan Self Healing (kurikulum baru &#8211; 2009) ini dibagi menjadi 3 modul, yang masing-masing disusun dengan penekanan tersendiri untuk mengembangkan keterampilan Anda secara lengkap dan sistematis.</p>
<h3><a href="http://www.truenaturehealing.net/selfhealing.php" target="_blank">Detil Kurikulum 2009 Pelatihan Self Healing</a></h3>
<p>Pelajari bagaimana Anda dapat menjadi penyembuh yang terbaik bagi diri Anda sendiri, dan nikmati manfaat keterampilan ini seumur hidup. Di sini dan saat ini.</p>
<h3><a href="http://www.truenaturehealing.net/jadwal.php" target="_blank">Jadwal, Biaya dan Pendaftaran Online</a></h3>
<p>Tempat terbatas untuk 24 orang peserta saja, silakan baca informasi selengkapnya, dengarkan ke dalam diri, dan ketika terasa kesiapan hati untuk belajar, daftarkan diri Anda segera.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Reza Gunawan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/pelatihan-self-healing-dengan-reza-gunawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Produktif Tanpa Sibuk</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/produktif-tanpa-sibuk/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/produktif-tanpa-sibuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 16:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>
		<category><![CDATA[Pagi Jakarta - OChannel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 14 April 2009
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 20 April 2009


Kata banyak orang, &#8220;Kalau mau sukses, harus produktif,&#8221; dan &#8220;kalau mau produktif, harus kerja keras.&#8221;
Kerja keras hampir selalu identik dengan kesibukan yang super padat, telepon genggam yang selalu berdering setiap saat, dan mengerjakan setumpuk dokumen yang tak kunjung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 14 April 2009<br />
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 20 April 2009<br />
</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-295" title="istock_000008737088xsmall" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000008737088xsmall.jpg" alt="istock_000008737088xsmall" width="425" height="282" /></p>
<p>Kata banyak orang, &#8220;Kalau mau sukses, harus produktif,&#8221; dan &#8220;kalau mau produktif, harus kerja keras.&#8221;</p>
<p>Kerja keras hampir selalu identik dengan kesibukan yang super padat, telepon genggam yang selalu berdering setiap saat, dan mengerjakan setumpuk dokumen yang tak kunjung selesai. Benarkah demikian?</p>
<p>Saya melihat bahwa ada perbedaan antara SIBUK dengan PRODUKTIF. Seseorang yang sibuk biasanya dianggap sebagai pekerja yang produktif. Padahal, kalau kita jeli melihat, seseorang bisa saja sangat sibuk, namun tidak produktif.  Di mana bedanya?</p>
<p>Bagi saya, PRODUKTIF adalah ketika kita mengerjakan sesuatu yang menciptakan nilai (value).  Nilai di sini bisa berupa manfaat, uang, makna, dan hasil positif lainnya. Sementara SIBUK akan selalu menghabiskan waktu, tenaga, dan upaya,  namun tidak selalu menciptakan nilai, makna, manfaat, ataupun uang.</p>
<p><span id="more-286"></span></p>
<h3><strong>3 Sumber Daya Yang Tidak Sama Dihargai</strong></h3>
<p>Kita sebenarnya punya 3 sumber daya yang berharga untuk menunjang hidup kita: (1) uang, (2) waktu luang, dan (3) kebebasan.</p>
<p>Saat ini kita cenderung hidup dalam masa di mana uang dianggap sebagai sumber daya yang paling utama dan paling diperhatikan sebagai pusat motivasi untuk kita bekerja. Pada saat yang sama, kita cenderung tidak menghargai waktu luang dan kebebasan dengan nilai yang sama utamanya dengan uang.  Ketika seseorang meminta waktu kita, misalnya, tentu kita jauh lebih mudah mengabulkan permintaan tersebut dibanding seandainya seseorang meminta uang kita.</p>
<p>Kalau kita memulai kesadaran tentang berharganya ketiga sumber daya ini, maka kita bisa juga merintis pola hidup dan bekerja yang baru. Dan, lebih menyenangkan.</p>
<p>Saya menyebutnya sebagai: PRODUKTIF tanpa SIBUK.</p>
<h3><strong>Sistem Produktivitas Pribadi</strong></h3>
<p>Tony Buzan, seorang pakar tentang otak, kecerdasan, dan kreativitas, pernah mengajukan pertanyaan yang menarik, yang cukup menggugah saya untuk meragukan efektivitas pendidikan formal: &#8220;Seandainya Anda adalah seorang Dewa Pendidikan, yang berkuasa atas bagaimana sekolah-sekolah menyusun kurikulumnya.  Mana yang akan diajarkan terlebih dahulu? A. Berbagai pelajaran sekolah yang penting bagi kehidupan, seperti matematika, ekonomi, dll, atau B. Bagaimana cara belajar dan menggunakan otak kita agar mampu menyerap berbagai proses belajar?&#8221;</p>
<p>Bagi saya secara logis, jawaban yang benar adalah B dahulu baru A.  Namun Tony Buzan juga bilang bahwa sebagian besar kurikulum pendidikan formal di dunia, tidak terlebih dahulu mengajarkan cara menggunakan perangkat keras <em>(hardware)</em> utama kita yaitu otak, malah cenderung langsung memberikan berbagai pelajaran, dari mulai yang bersifat hafalan hingga yang menggunakan logika.</p>
<p>Saya setuju dengan pendekatan bahwa kita perlu belajar bagaimana cara belajar dahulu, sebelum kita belajar tentang berbagai mata pelajaran.</p>
<p>Demikian pula dalam bekerja, bila yang dituju adalah efektivitas, efisiensi dan produktivitas, maka penting untuk mempelajari dahulu bagaimana cara dan sistem bekerja yang baik, sebelum mempelajari bidang pekerjaan kita sesuai deskripsi kerjanya. Untuk itu, saya pun lantas mengumpulkan berbagai tips dan pengalaman dari berbagai pakar produktivitas, dan saya bereksperimen dengan berbagai sistem bekerja.</p>
<p>Terus terang, sebagian metode terasa terlalu rumit.  Saya suka sistem yang sederhana tapi ampuh.  Dan dari pengalaman tersebut, berikut saya sajikan beberapa hal yang saya praktekkan, dan mampu melesatkan produktivitas saya. Tanpa saya menjadi super sibuk.</p>
<h3><strong>Keampuhan Tulis Tangan</strong></h3>
<p>Di tengah era serba teknologi ini, saya mengalami bahwa ternyata kembali memanfaatkan menulis tangan membantu saya untuk memisahkan berbagai distraksi elektronik, dan justru bisa memfokuskan energi dan perhatian lebih baik.</p>
<p>Sebutlah sistem ini sebagai &#8220;sistem pena dan notes&#8221;.  Bilamana Anda akan menggunakan sistem ini, pena dan notes tersebut akan digunakan untuk 3 buah kegiatan:</p>
<p><strong>1. Menangkap Ide</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Bawalah pena dan notes ini kemana pun Anda pergi, setiap saat.  Berbagai ide cemerlang serta bermacam hal penting yang sering terlupakan, biasanya muncul di pikiran secara tak terduga, sekilas, dan sepintas.  Dengan ini, Anda bisa menangkapnya dengan segera dan tidak harus mengandalkan otak untuk mengingat-ingatnya kembali.</p>
<p><strong>2. Membuat Daftar Tugas &#8211; Lengkap</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Segera ketika tiba di rumah/kantor, pindahkan berbagai tugas dan ide yang perlu Anda tindaklanjuti ke sebuah daftar besar, katakanlah namanya &#8220;Daftar Tugas &#8211; Lengkap&#8221;. <em>PERINGATAN</em>: jangan sekali-kali bekerja langsung berdasarkan daftar ini kalau Anda tidak ingin terjebak jadi &#8220;Produktif Super Sibuk&#8221;.</p>
<p><strong>3. Membuat Daftar Tugas &#8211; Harian</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Setiap hari, tuliskan TUGAS TERPENTING hari ini.  Cukup 1-3 tugas saja yang Anda ambil dari Daftar Tugas &#8211; Lengkap.  Daftar baru yang berisi 3 TT (Tugas Terpenting) ini kita sebut &#8220;Daftar Tugas &#8211; Harian&#8221;.  Bagaimana menentukan mana 1-3 Tugas Terpenting? Pilih berdasarkan mana yang paling mempengaruhi produktivitas, kepuasan hati, dan  kebahagiaan Anda secara signifikan.   Bila dalam satu hari Anda berhasil menyelesaikan 1-3 tugas ini, tentu waktu luang sisanya bisa Anda gunakan untuk menikmati hidup, atau melanjutkan tugas terpenting selanjutnya yang ada dalam Daftar Tugas &#8211; Lengkap.</p>
<h3><strong>Penting vs. Tidak Penting</strong></h3>
<ul>
<li><em><strong>Dahulukan di Awal Hari</strong></em> &#8211; Setiap hari, dahulukan awal hari Anda untuk mengerjakan 1-3 Tugas Terpenting yang ada di dalam Daftar Tugas &#8211; Harian Anda.  Sisihkan waktu 30 menit hingga 2 jam di awal hari, untuk menyelesaikan ini terlebih dahulu sebelum melakukan yang lain.</li>
<li><em><strong>Distraksi</strong></em> &#8211; Matikan berbagai pengalih perhatian.  Salah satu tip paling produktif bagi saya adalah: <em>putuskan</em> sambungan Anda ke internet bila sedang bekerja.  Hanya sambungkan diri bila memang sedang perlu memakainya.  Percayalah, godaan terlalu kuat dari bawah sadar akan menyebabkan kebocoran efisiensi yang luar biasa.   Matikan dahulu internet, e-mail, facebook, chat, browser, dan koneksi Blackberry Anda saat mengerjakan Daftar Tugas &#8211; Harian.</li>
<li><em><strong>Meeting</strong></em> &#8211; Sebisa mungkin, hindari rapat dan pertemuan yang tidak perlu.  Begitu banyak waktu terbuang dalam berbagai rapat yang tidak produktif.  Bila mungkin, koordinasikan pekerjaan Anda via e-mail dan telepon.  Bila harus <em>meeting</em>, sebelumnya agenda rapat sudah harus diterima semua pihak, dan pastikan ada rencana tindak lanjut yang jelas bagi setiap pihak.</li>
<li><em><strong>Delegasi</strong></em> &#8211; lihat kembali Daftar Tugas &#8211; Lengkap Anda, dan delegasikan berbagai hal yang bisa dipercayai kepada orang lain agar Anda lebih mampu mengelola waktu dan energi Anda.</li>
<li><strong><em>Otomatisasi</em></strong> &#8211; gunakan voicemail, website, blog untuk menampilkan informasi yang cenderung berulang dalam profesi Anda.  Sebagai contoh, saya tidak pernah lagi memberikan penjelasan tentang terapi Penyembuhan Holistik serta bagaimana caranya membuat janji terapi, karena semua informasi serta prosedur pendaftaran pasien/klien sudah lengkap tersedia di website.  Mudah, kan?  Coba pikirkan ide yang serupa dalam profesi Anda masing-masing</li>
</ul>
<h3><strong>Menyeimbangkan Kerja &amp; Bermain</strong></h3>
<ul>
<li><em><strong>Mencontreng</strong></em> &#8211; setiap tugas yang Anda selesaikan dalam daftar, langsung bubuhkan tanda contreng di sebelahnya.  Ini akan memperkuat rasa produktif dalam diri sepanjang hari, dan juga di akhir hari ketika Anda mengingat kembali hari Anda.</li>
<li><em><strong>Formula 30/10</strong></em> &#8211; ini sangat berguna bagi saya pribadi.  Saya setel <em>timer</em> di komputer saya sehingga saya bekerja dengan fokus penuh selama 30 menit, setelah itu saya berikan diri saya hadiah 10 menit (untuk bermain internet, browsing, cek email, meditasi, baca buku, dll).</li>
<li><em><strong>Waktu Khusus</strong></em> &#8211; Anda tidak selalu harus terhubung ke internet 24 jam, kan? Memang bagi kita yang memang hobi, itu adalah ide yang menyenangkan. Namun itu jugalah salah satu sumber kebocoran produktivitas.  Anda bisa jadwalkan waktu-waktu tertentu sepanjang hari di mana Anda memang berkutat dengan e-mail, YM, facebook, browser, dll.</li>
<li><strong><em>Kosongkan Inbox dan Istirahatkan Pikiran</em></strong> &#8211; Demi kesehatan mental dan komputer Anda, setiap saat kosongkan <em>inbox </em>e-mail Anda dengan <em>folder </em>terpisah antara (1) Hapus, (2) Langsung Reply, (3) Arsip, dan (4) Follow Up. Demi kesehatan lahir batin Anda, luangkan waktu untuk melatih 7 jenis meditasi di tempat kerja yang sudah kita bahas sebelumnya <a title="Meditasi untuk Produktivitas" href="http://www.rezagunawan.com/?p=271" target="_blank">di sini</a> agar Anda merawat energi dan keselarasan diri untuk tetap kreatif dan produktif.</li>
</ul>
<h3><strong>Pengaruh Kepribadian dan Kebiasaan</strong></h3>
<p>Dalam kehidupan, kita menemukan berbagai pola perilaku kerja yang dekat sekali dengan kepribadian manusia yang bersangkutan.</p>
<p>Mereka yang hidup serba terencana, detail, dan menulis segalanya, biasanya sangat produktif, tetapi juga sangat sibuk. Di satu sisi mereka menghasilkan banyak uang, tetapi di sisi lain sangat kekurangan waktu luang dan kebebasan.</p>
<p>Mereka yang hidup serba mengalir, tanpa rencana, dan tak menulis tugas terpentingnya, biasanya sangat menikmati hidup. Mereka tidak sibuk karena punya banyak waktu luang dan kebebasan, tetapi tidak jarang menjadi kurang produktif dalam menciptakan nilai, nafkah, dan makna hidup.</p>
<p>Bagi saya pribadi, sistem ini memberikan keseimbangan antara kebutuhan saya untuk menghasilkan uang, waktu luang, dan kebebasan.  Sistem yang tetap produktif, tanpa harus jadi super sibuk.</p>
<p>Tentunya saran-saran di sini tidak selalu sesuai dengan setiap profesi dan bidang pekerjaan.  Saya bukan penganut perubahan besar dan ekstrem.  Bagaimana kalau Anda memulai dulu dengan satu ide yang menarik bagi Anda, dan dengan setia menggunakannya selama satu bulan, lalu menambah satu ide lagi di bulan berikutnya?</p>
<p>Semua ini bisa Anda aplikasikan tentu bila Anda punya semangat yang mendasari profesi dan pekerjaan Anda.  Menemukan cinta terhadap pekerjaan Anda adalah bahan bakar yang esensial untuk bergerak menuju &#8220;Produktif tanpa Sibuk&#8221;.</p>
<h3><strong>Menghargai Produktivitas, Bukan Kesibukan</strong></h3>
<p>Saya teringat bagaimana di masyarakat, produktivitas dan kesuksesan seseorang sering sekali dinilai berdasarkan seberapa sibuk dia bekerja.</p>
<p>Saya mendambakan, demi kewarasan dan kesehatan kita bersama, kita bisa melonggarkan apresiasi berlebih terhadap kesibukan dan mulai lebih memperhatikan produktivitas serta keselarasan hidup.</p>
<p>Maukah Anda membantu saya merintis kesadaran ini, cukup dengan memulainya pada kehidupan Anda sendiri?</p>
<p>Selamat berlatih!</p>
<p><em>Terimakasih telah menikmati tulisan ini.  Bila Anda menyukainya, silakan berbagi dengan para sahabat &amp; keluarga Anda, dengan menyebutkan sumbernya di <strong>rezagunawan.com</strong>. Anda pun bisa langsung mengetahui berita terbaru tentang tulisan &amp; kegiatan pelatihan dengan mengikuti saya di <a title="Reza Gunawan @ Twitter" href="http://twitter.com/rezagunawan" target="_blank">Twitter</a>. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/produktif-tanpa-sibuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Hanya Sibuk Mengerjakan Sesuatu, Duduk Diamlah!</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 10:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>
		<category><![CDATA[Pagi Jakarta - OChannel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 7 April 2009
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 16 April 2009

Kita memang hidup di zaman serba cepat dan serba rumit.
Bagaikan pemain sirkus yang bisa melemparkan 15 piring sekaligus, kita selalu tergesa untuk memastikan bahwa semua hal yang menjadi tanggung jawab kita berada dalam keadaan sempurna, atau minimal tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 7 April 2009<br />
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 16 April 2009</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-273" title="istock_000008470981xsmall" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000008470981xsmall.jpg" alt="istock_000008470981xsmall" width="425" height="282" /></p>
<p>Kita memang hidup di zaman serba cepat dan serba rumit.</p>
<p>Bagaikan pemain sirkus yang bisa melemparkan 15 piring sekaligus, kita selalu tergesa untuk memastikan bahwa semua hal yang menjadi tanggung jawab kita berada dalam keadaan sempurna, atau minimal tidak bisa dipersalahkan kekurangannya.</p>
<p>Dari mulai <em>deadline</em> yang terlalu sempit, target yang terlalu tinggi, <em>workload</em> yang terlalu banyak, kecepatan industri memang selalu menuntut kita untuk selalu berada di paling depan. <em>Multi-tasking</em> (kemampuan mengerjakan beberapa hal sekaligus), <em>well-connected network</em> (jaringan kerja dan pertemanan yang kuat), serta <em>result-oriented attitude</em> (sikap berorientasi pada hasil), menjadi ciri yang dibanggakan, dicari, dan ditempa dalam kebanyakan dunia kerja.</p>
<p>Haruskah kita memaksakan diri untuk berpacu lebih cepat, dan bekerja semakin giat?</p>
<p><span id="more-271"></span></p>
<h3><strong>Stres adalah Cara Kita Beradaptasi</strong></h3>
<p>Tentunya untuk bisa memenuhi semua tuntutan tersebut pada tingkat individu, dibutuhkan perangkat yang memadai, selaras, dan optimal.  Namun sebenarnya secara alami kita tidak dirancang untuk hidup dan bekerja dengan ritme serba cepat dan serba rumit setiap saat.  Ini menyebabkan terjadinya adaptasi pada sistem fisik dan psikis kita.</p>
<p>Adaptasi tersebut terjadi melalui sebuah mekanisme: STRES.</p>
<p>Stres, yang tidak terkelola, harus dibayar dengan nilai yang tidak sedikit.  Kesehatan, sebagaimana yang sudah kita bahas di tulisan-tulisan sebelumnya, hanyalah sekelumit dari efek stres yang tidak sembuh.</p>
<h3><strong>Semakin Memacu Diri Agar Mengurangi Stres?</strong></h3>
<p>Sebagian orang berkata, &#8220;Ah, stres itu kan wajar dan ada dalam setiap pekerjaan. Nanti juga kalau target sudah tercapai, stres akan hilang dengan sendirinya.&#8221; Benarkah demikian?</p>
<p>Dalam pengamatan saya, stres tidak otomatis hilang ketika kita mencapai target dan keinginan, melainkan bisa berputar dan membesar bagaikan lingkaran setan-siklus tak berujung yang sulit dipecahkan.</p>
<ul>
<li> Untuk hasil dan keinginan yang berhasil dicapai:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Banyak target → jadi banyak ketegangan → jadi banyak berusaha → hasil jadi TAMBAH banyak → target DITINGKATKAN lagi → maka terciptalah siklus yang lebih besar: target LEBIH banyak → LEBIH banyak ketegangan → LEBIH banyak berusaha → dan siklus yang lebih besar kembali berulang.</p>
<ul>
<li> Untuk hasil dan keinginan yang tidak berhasil dicapai:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Banyak target → banyak tegang → banyak usaha → belum berhasil → karena belum berhasil, usaha pun DITINGKATKAN lagi → ketegangan MENINGKAT → belum berhasil juga → dan siklus yang lebih besar kembali tercipta: usaha TAMBAH ditingkatkan → ketegangan TAMBAH meningkat → dan seterusnya.</p>
<p>Bisakah Anda menangkap ironinya? Pada kedua kasus, terlepas dari hasil tercapai atau tidak, pada umumnya kita akan terus-menerus berpacu agar lebih cepat, lebih sukses, lebih efisien, lebih baik.  Namun pacuan kronis ini membuat stres kita semakin bertumpuk.</p>
<h3><strong>Dampak Akhir: Produktivitas Jangka Panjang</strong></h3>
<p>Salah satu dampak stres adalah menurunnya produktivitas kerja dan pribadi.  Kita tahu bahwa produktivitas tergantung dari tingkat energi, semangat, kreativitas, dan efektivitas yang bisa kita lakukan dalam setiap pekerjaan.</p>
<p>Ketika stres dibiarkan bertumpuk dan berlarut-larut, semua hal yang menunjang produktivitas tersebut akan mulai berderit, aus, bahkan hilang. Dan sekali lagi, harga yang kita harus bayar untuk adaptasi tersebut-mulai dari stres, berbagai ketidakbahagiaan, tidak sehatnya relasi pribadi dan keluarga-sangatlah mahal.</p>
<p>Efek jangka panjang dari stres yang berkelanjutan bisa secara langsung mempengaruhi produktivitas dalam bentuk sebagai berikut: hilangnya semangat kerja, rasa lesu, jenuh, dorongan kuat untuk pindah / meninggalkan pekerjaan, selalu mencari-cari alasan mengapa tempat kerja sekarang tidak sesuai, dsb.</p>
<p>Belum lagi absensi kerja yang bisa meningkat karena saraf sudah terlalu jenuh, atau daya tahan tubuh merosot drastis sehingga jatuh sakit.</p>
<p>Lantas bagaimana kita bisa memelihara diri sekaligus meningkatkan produktivitas?</p>
<p>Menurut saya, kuncinya adalah mengelola energi kita dengan selaras. Memberikan porsi perhatian untuk merawat <em>hardware</em> (tubuh fisik) serta <em>software</em> kita (pikiran, rasa dan spirit) sehingga energi diri bisa tertata dengan selaras.</p>
<h3><strong>Jalan Praktis Melalui Keheningan</strong></h3>
<p>Meditasi adalah salah satu hal mendasar yang bisa dilakukan untuk menciptakan keselarasan, mengelola dan memulihkan energi, serta mendorong semangat kerja yang bertumpu pada kekinian. Bukan pada harapan atau ketakutan.</p>
<p>Kini banyak perusahaan besar berskala internasional telah menggunakan pelatihan meditasi yang non-agamis untuk manfaat relaksasi, kesehatan, dan produktivitas.</p>
<p>Berbagai studi ilmiah tentang manfaat meditasi, serta pengalaman para pelaku latihan meditasi, melaporkan manfaat-manfaat sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Otak menjadi rileks dan seimbang aktivitasnya.</li>
<li>Memulihkan keseimbangan saraf dan kesegaran tubuh.</li>
<li>Memperkuat daya tahan tubuh, sehingga lebih jarang sakit.</li>
<li>Bentuk melatih konsentrasi yang bersifat RILEKS, bukan FOKUS.</li>
<li>Meredakan celoteh pikiran, membuat batin bekerja lebih efisien.</li>
<li>Melatih kepekaan intuitif, membantu pengambilan keputusan.</li>
<li>Melegakan hati dan melepas stres, sehingga komunikasi dan relasi lancar.</li>
<li>Membantu kita menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, kesalahan lebih sedikit.</li>
<li>Solusi mandiri, murah, dan sehat untuk meningkatkan kinerja perusahaan</li>
</ul>
<h3><strong>7 Cara Hening yang Merawat Produktivitas Diri</strong></h3>
<p>Berikut Anda bisa mencoba 7 buah latihan yang bersifat meditatif, non-agamis, dan praktis, untuk membantu mengasah produktivitas Anda secara pribadi maupun profesi:</p>
<ul>
<li><strong>Meditasi MEREGANGKAN TUBUH</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Tahu caranya ‘ngulet&#8217; (istilah nasional: menggeliatkan badan)? Hentikan sejenak kesibukan Anda.  Ambil posisi duduk, atau berbaring bila mau, dan regangkan tubuh Anda, dengan sangat perlahan.  Benar-benar perhatikan rasa setiap otot dan sendi tubuh Anda.  Tidak ada gerakan yang benar atau salah.  Nikmati sepenuhnya selama beberapa menit.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Menggerakkan tubuh secara aktif dan penuh sadar, membantu kita memperlambat celoteh pikiran dan melepas ketegangan yang telanjur bertumpuk.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi TUTUP MATA SEJENAK</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Hentikan sejenak pekerjaan, tutup mata saja.  Istirahatkan saraf mata dan otak mata.  Sebagian ahli berpendapat bahwa sekitar 70% komunikasi terjadi secara visual, oleh karena itu sejenak memejamkan mata akan membantu fungsi visual kita beristirahat.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Memejamkan mata juga memicu respons rileks karena kita terbiasa melakukannya saat akan beristirahat atau tidur.  Ini juga bermanfaat untuk membuat kita lebih peka akan dunia pikiran dan perasaan dalam diri kita, ketimbang selalu memperhatikan dunia eksternal / sekitar kita.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi BERNAPAS RILEKS</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Berhentilah sejenak untuk bernapas dengan sadar dan sengaja.  Anda sedang menekan tombol reset pada sistem raga dan rasa Anda.  Cukup 3-9 kali bernapas dengan rileks, lambat, dan penuh perhatian.  Anda juga bisa melakukannya setelah meregangkan tubuh, sambil menutup mata.</p>
<ul>
<li><strong>Meditasi PERHATIKAN PIKIRAN &amp; RASA DI SAAT INI</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Dari waktu ke waktu, cobalah berhenti sejenak dan perhatikan saja segala pikiran dan rasa yang datang dan pergi pada saat ini.  Tidak perlu dianalisa, tidak perlu dinilai, melainkan sekadar mengamati saja: &#8220;Oh&#8230; ada pikiran ini, pikiran itu, rasa ini, rasa itu, oh&#8230; sekarang hilang, oh&#8230; sekarang ada lagi yang baru, dst.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Memperhatikan segala pikiran dan rasa dalam diri Anda akan memperkuat kesadaran sini-kini, sehingga kita tidak mudah terjebak dalam berbagai ketakutan, kekhawatiran, dan harapan.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi KERTAS POLOS</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Ketika sedang kebanjiran ide, atau baru memulai hari kerja Anda, gudang pikiran penuh bertumpuk dengan hal yang harus dilakukan; ide kreatif, urusan rumah tangga yang perlu dibereskan, dll.  Ambil saja selembar kertas polos dan tuliskan semua isi gudang pikiran Anda, termasuk berbagai lamunan, kekhawatiran, dan isi hati Anda.  Setelah 5-10 menit (dan mungkin saja satu lembar kertas masih perlu ditambah lagi untuk menampung semuanya), barulah duduk diam sejenak. Nikmati hening sesaat.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Anda akan menemukan kelapangan ruang pikir ketika isinya dituangkan secara tertulis ketimbang sekadar ditampung di otak.  Ekstra ruang lapang ini membuat Anda lebih kreatif dan produktif.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi BOBO-SIANG</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Khususnya setelah jam makan siang, umumnya kita cenderung mengalami perubahan bioritme tubuh yang menyebabkan rasa lesu atau kantuk. Beberapa perusahaan di Jepang bahkan membudayakan tidur siang di kursi kerja masing-masing. Dan ternyata, tidur siang singkat antara 10-30 menit sangat membantu memulihkan tubuh kembali bugar dan otak kembali segar.  Ingat: jangan tidur siang lebih dari 45 menit, agar tidak mengganggu keteraturan istirahat malam dan jam biologis Anda.</p>
<ul>
<li><strong>Meditasi BERJALAN</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Cobalah melatih untuk berjalan dengan penuh perhatian. Rasakan langkah demi langkah. Rasakan dan perhatikan satu demi satu sentuhan telapak kaki Anda di lantai.  Awalnya akan terasa janggal karena belum terbiasa, dan mungkin jadi terasa sangat lambat karena perlu disadari penuh, tapi lama-kelamaan Anda akan bisa menikmatinya.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Latihan ini melepaskan emosi yang tersangkut, menyeimbangkan aktivitas otak kiri dan kanan, mengajarkan kita untuk menghayati proses, serta melonggarkan obsesi kita terhadap hasil akhir. Meditasi sederhana ini dapat mengurangi kecenderungan bertumpuknya stres.</em></p>
<p>Selamat berlatih keheningan. Temukan dan alami bagaimana produktivitas bisa diasah tanpa harus sibuk dan tergesa-gesa.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Ada pepatah yang menyebutkan &#8220;Don&#8217;t just sit there, do something!&#8221; (Jangan hanya duduk diam saja, kerjakanlah sesuatu!).  Barangkali dalam konteks dunia serba cepat ini, yang kita butuhkan adalah &#8220;Don&#8217;t just do something, sit there!&#8221; (Jangan hanya sibuk mengerjakan sesuatu, duduk diamlah sejenak!)</em></p>
<p><em>- Bila Anda menyukai artikel ini, silakan berbagi dengan para sahabat dan keluarga Anda, dengan menyebutkan sumbernya di rezagunawan.com. Terimakasih -</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emotional First Aid for You</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/emotional-first-aid-for-you/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/emotional-first-aid-for-you/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 07:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[
 
Hidup Selaras: Menata Stres &#38; Mengelola Emosi
Dalam workshop praktis selama 2 jam, Anda akan dikenalkan pada metode &#8220;self healing&#8221; yang praktis, sederhana, dan mudah.  Bagaikan P3K untuk hati dan pikiran, hanya dengan mempelajari beberapa keterampilan sederhana, Anda akan lebih mampu merintis hidup yang selaras secara alami.  Anda akan belajar tentang:

Cara rileks yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-261" title="istock_000007301798xsmall1" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000007301798xsmall1.jpg" alt="istock_000007301798xsmall1" width="425" height="282" /></p>
<h2><strong><em> </em></strong></h2>
<h2><strong><em>Hidup Selaras: Menata Stres &amp; Mengelola Emosi</em></strong></h2>
<p>Dalam workshop praktis selama 2 jam, Anda akan dikenalkan pada metode &#8220;self healing&#8221; yang praktis, sederhana, dan mudah.  Bagaikan P3K untuk hati dan pikiran, hanya dengan mempelajari beberapa keterampilan sederhana, Anda akan lebih mampu merintis hidup yang selaras secara alami.  Anda akan belajar tentang:</p>
<ul>
<li>Cara rileks yang efektif, tanpa melarikan diri dari masalah.</li>
<li>Cara praktis mengatasi emosi negatif, seperti: amarah, khawatir, cemas, takut, duka, &amp; sesal.</li>
<li>Melepaskan beban pikiran &amp; ketegangan mental dari peristiwa sehari-hari.</li>
<li>Menjernihkan perhatian untuk meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan produktivitas.</li>
<li>Mengatasi nyeri tubuh secara alamiah dalam hitungan menit. Tanpa obat.</li>
</ul>
<h4><span id="more-255"></span></h4>
<h4><strong>Tentang Reza &amp; Penyembuhan Holistik</strong></h4>
<p>Reza Gunawan adalah praktisi penyembuhan holistik yang telah menekuni penyembuhan alami sejak 1988. Disiplin ilmu yang ditekuni beragam mulai dari akupunktur, meditasi kesehatan, terapi saraf &amp; otak, <em>sound healing</em>, <em>Zen counseling</em>, dan juga <em>energy psychology</em>.</p>
<p>Dalam memberikan <em>workshop</em>, Reza cenderung banyak melakukan interaksi, demonstrasi, dan latihan bersama, sehingga setiap peserta merasakan langsung manfaat <em>self healing</em>, dan juga bisa melatihnya secara mandiri setelah mempelajari serangkaian metode praktis yang meliputi napas, gerak, sentuhan/pijatan dan keheningan.</p>
<p>Karya penyembuhannya telah dinikmati banyak pihak, dari mulai individu hingga perusahaan, baik melalui pelatihan, terapi individual, tulisan, maupun siaran rutinnya di media radio dan televisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/emotional-first-aid-for-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stres? Jangan Berusaha Jadi Positif</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/stres-jangan-berusaha-jadi-positif/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/stres-jangan-berusaha-jadi-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 18:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[
Stres adalah faktor #1 yang paling berdampak negatif pada kesehatan dan kualitas hidup kita. Umumnya hanya muncul di 3 bidang kehidupan: (1) penampilan dan kesehatan tubuh, (2) uang, karier, dan sukses, serta (3) cinta, keluarga dan relasi pribadi.  Dan berdasarkan 3 bidang tersebut, kita bisa mengamati bahwa (hampir) semua orang mengalami stres, baik secara sadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-212" title="istock_000003461449xsmall" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/04/istock_000003461449xsmall.jpg" alt="istock_000003461449xsmall" width="412" height="291" /></p>
<p>Stres adalah faktor #1 yang paling berdampak negatif pada kesehatan dan kualitas hidup kita. Umumnya hanya muncul di 3 bidang kehidupan: (1) penampilan dan kesehatan tubuh, (2) uang, karier, dan sukses, serta (3) cinta, keluarga dan relasi pribadi.  Dan berdasarkan 3 bidang tersebut, kita bisa mengamati bahwa (hampir) semua orang mengalami stres, baik secara sadar maupun tidak sadar.</p>
<p>Meskipun kita tidak bisa hidup steril dan bebas sepenuhnya dari stres, kuncinya adalah bagaimana mengelola stres ini agar dampak negatifnya minimal, atau bahkan bagaimana agar energi di balik stres ini bisa diolah menjadi semangat, kebijakan hidup dan kesadaran yang jernih.</p>
<p>Apa yang kita bisa lakukan untuk mencapai ini?<em> Positive thinking? Positive feeling? Being optimistic?</em> Sejujurnya, saya tidak bisa merekomendasikan hal-hal tersebut.</p>
<p><span id="more-211"></span><strong></strong></p>
<p><strong>Banyaknya Saran Populer yang Tidak Realistis</strong></p>
<p>Saran untuk berusaha menjadi positif adalah sesuatu yang selama ini diajarkan oleh psikologi populer, pergaulan sosial, strategi bisnis dan manajemen, serta budaya dan tradisi kita.  Namun bagi saya, ini bukanlah sesuatu yang realistis, bahkan bisa membuat stres tambahan.</p>
<p>Dalam mencari solusi stres &amp; masalah, setiap bentuk upaya yang tidak realistis akan memberikan tambahan stres yang sebenarnya tidak perlu. Kita butuh solusi stres yang realistis dan efektif.  Berikut beberapa contoh solusi stres yang kurang realistis:</p>
<p><strong>1. Saran populer “Jangan stres dong”, atau “Anda tidak boleh stres”. </strong><br />
Mengapa ini tidak realistis? Hampir setiap orang mengalami stres, ada yang ringan maupun berat, ada yang sebentar dan juga menahun.  Saran populer seperti ini berpotensi melipatkangandakan stres, karena di atas stres tentang masalah asli yang sedang dihadapi, ada stres tambahan ketika berpikir bahwa ‘seharusnya saya tidak boleh stres’.</p>
<ul>
<li><strong>SADARI: </strong>stres dalam hidup pasti ada, terjadi pada setiap orang, dan sangatlah boleh dan wajar ketika Anda mengalaminya. Ketika kita mengerti dan bisa menerima hal tersebut, kita tidak lagi perlu memikul ‘beban ekstra’ tersebut, dan lebih punya energi untuk menghadapi masalah kita yang sebenarnya.</li>
</ul>
<p><strong>2. Saran populer “Anda harus memilih berpikir &amp; berperasaan positif”. </strong><br />
Ide dan konsep yang cukup indah.  Coba pilih sebuah pikiran atau perasaan positif, misalnya “Saya sehat sekali”.  Sadari sepenuhnya, fokus terus pada pikiran tersebut, dan tahan jangan sampai pikiran tersebut berubah.  Bukankah hanya sekian detik Anda bisa menahan pikiran positif tersebut sebelum perhatian Anda beralih pada topik lainnya, atau bahkan muncul pikiran yang justru kebalikannya, seperti “Ah, masa ‘sehat sekali’? Bukannya baru kemarin sempat sakit juga?”  Lakukan yang sama terhadap sebuah pikiran negatif, dan amati dengan jeli bahwa dalam beberapa detik, pikiran tersebut pun berganti.  Intinya di sini adalah, meskipun dari waktu ke waktu kita bisa memilih buah pikiran apa yang mau kita hadirkan dalam perhatian, sifat dasar pikiran yang memang tidak bisa diam, ditambah dengan segala ‘sampah’ bawah sadar yang tersimpan dalam diri, tidak akan mengizinkan kita untuk mempertahankan pikiran yang kita pilih tersebut terus menerus.</p>
<ul>
<li><strong>SADARI: </strong>bahwa kita tidak punya KENDALI PENUH atas apa yang kita pikirkan maupun rasakan dari waktu ke waktu.  Setiap hal yang kita pikirkan, baik positif maupun negatif, baik yang sengaja kita pilih maupun yang tidak kita pilih, akan terus datang. Silih berganti. Selalu berubah. Pikiran negatif kita tidak mungkin bisa bertahan selamanya, dan pikiran positif kita juga tak pernah kekal. Kalau kita bisa mengerti bahwa pikiran dan perasaan kita senantiasa berubah, kita tidak lagi terlalu takut dengan yang negatif, dan tidak lagi terlalu berharap untuk positif selamanya.  Ini akan memberikan kita suatu kearifan untuk lebih rileks dan tenang menghadapi perubahan hidup.</li>
</ul>
<p><strong>3. Saran populer: “Kalau Anda positif / optimis ketika sedang bermasalah, pasti hasilnya akan positif, dan kalau Anda negatif / pesimis dalam menghadapi masalah, maka pasti hasilnya akan negatif juga.”</strong><br />
Saya melakukan survei singkat kepada ribuan orang dengan 4 buah pertanyaan tentang pengalaman hidup mereka: (1) Apakah Anda pernah berpikir positif dan mendapat hasil yang positif? (2) Apakah Anda pernah berpikir negatif dan mendapat hasil yang negatif?  Sesuai dugaan saya, sejalan dengan saran populer di atas, semua peserta menjawab YA.  Selanjutnya saya ajukan dua lagi pertanyaan: (3) Apakah Anda pernah berpikir positif tetapi kok hasilnya negatif?, dan (4) Apakah Anda pernah berpikir negatif dan kok hasilnya positif juga? Yang cukup mengejutkan, SEMUA peserta juga menjawab YA pada kedua pertanyaan terakhir tersebut.  Jika kita semua mengalami langsung keempat fenomena tersebut dalam hidup, maka kesimpulannya adalah berpikir positif BELUM TENTU PASTI hasilnya selalu positif, dan berpikir negatif BELUM TENTU PASTI hasilnya juga negatif.</p>
<ul>
<li><strong>SADARI: </strong>hidup ini indah karena hidup akan selalu berubah, menyimpan berbagai tanda tanya dan ketidakpastian.  Selain ada Hukum Tarik Menarik (law of attraction), masih ada juga Hukum Belum Tentu (law of uncertainty).  Ketika kita bisa rileks dan menghayati ini, kita tidak lagi perlu terbeban tentang HARUS positif dan TIDAK BOLEH negatif.  Kita lebih bisa mengalir dengan segala upaya yang kita jalani dan lebih bisa berserah tentang hasil akhirnya.</li>
</ul>
<p><strong>Dua Cara Sederhana Mengatasi Stres</strong><br />
Berdasarkan perenungan di atas, saya mengusulkan dua buah strategi praktis untuk mengatasi stres, beban hati dan pikiran negatif:</p>
<p><strong>1. Bernapas dengan sadar. </strong><br />
Berhentilah sejenak, dengan penuh perhatian, hiruplah napas dan rasakan penuh ke dalam diri.  Setelah itu, dengan penuh perhatian, embuskan dengan lepas.  Rasakan pikiran, perasaan, dan tubuh Anda.  Apakah menjadi lebih nyaman, lapang, dan tenang?  Lakukan lagi beberapa kali tanpa berupaya menjadi positif.  Bernapas saja dengan sadar, penuh perhatian.</p>
<ul>
<li>Cara kerja teknik ini sangat sederhana: ketika Anda bernapas dengan sadar dan sengaja, otomatis Anda memperlambat bahkan terkadang menghentikan celoteh pikiran yang biasanya begitu deras dan memenuhi kesadaran Anda.  Ketika pikiran mulai melambat dan rileks, perhatian Anda mulai lebih mengarah pada realitas di sini-kini, bukan pada masa lalu (kenangan, rasa sesal, trauma), dan bukan juga pada masa depan (kekuatiran, ketakutan dan antisipasi). Bernapas dengan sadar, jika dilakukan secara teratur, terutama di saat-saat sibuk penuh ketergesaan, akan membantu kita untuk mengembalikan kesadaran yang jernih.</li>
</ul>
<p><strong>2. Izinkan diri Anda memiliki rasa dan pikiran apapun</strong><br />
Biarkan dan izinkan diri untuk berpikir negatif ketika sedang mengalami pikiran negatif.  Biarkan dan izinkan diri untuk berpikir positif ketika sedang mengalami pikiran positif.  Ini artinya Anda memberikan izin untuk hidup secara alamiah, apa adanya.  Toh kita sudah mengerti, bahwa baik positif atau negatif, pikiran tersebut tidak mungkin awet selamanya, dan pada waktunya pasti akan berubah juga.</p>
<p>Ada sebuah prinsip yang yang begitu sederhana namun begitu signifikan tentang segala urusan hati.  Saya menyebutnya sebagai <strong>Prinsip Paradoks Rasa &amp; Pikiran</strong>, yaitu: “Apa pun pikiran dan rasa yang kita tolak, maka dia pun justru semakin awet”, dan “Apa pun pikiran dan rasa yang kita izinkan, justru dia akan semakin cepat tuntas.”</p>
<p>Bisa saja kita juga cukup kenal dengan prinsip ini.  Ketika seorang rekan baru saja mengalami musibah, atau putus cinta, kita terkadang sadar untuk memberikan mereka izin dan kesempatan untuk berduka.  Ini sangatlah sehat, karena dengan izin untuk negatif tersebutlah justru segala pikiran dan rasa negatif menjadi semakin tuntas.  Sementara ketika mereka tidak mengizinkan diri mereka sendiri untuk merasa negatif, karena alasan “saya harus kuat”, atau “saya takut dianggap lemah dan cengeng”, justru negativitas yang sudah ada tersebut menjadi lebih awet dan semakin lama proses penyembuhannya.</p>
<ul>
<li><em><strong>Obat dari stres dan pikiran negatif, bukanlah berpikir positif, melainkan: (1) mengistirahatkan pikiran yang terlalu banyak berpikir melebihi porsi yang dibutuhkan, dan (2) mengizinkan pikiran dan rasa untuk hadir apa adanya, sepenuh hati.</strong></em></li>
</ul>
<p>Stres memang bagian alami dari hidup.  Kalau kita mau memahaminya secara lebih jernih, kita bisa bergerak menuju mengizinkan hidup mengalir alami, apa adanya. Tentunya kita masih boleh melakukan upaya mengatasi masalah pada aspek yang memang di bawah kendali kita, namun diikuti dengan kesadaran untuk melepaskan aspek yang memang bukan di bawah kendali kita.  Dengan memahami ini, kita lebih mampu hidup selaras dengan alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/stres-jangan-berusaha-jadi-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
