<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Self Healing - Reza Gunawan</title>
	<atom:link href="http://www.rezagunawan.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rezagunawan.com</link>
	<description>memelihara ketenteraman dan kesehatan seutuhnya, dengan                       melatih kesadaran diri, agar hidup semakin ringan, ikhlas, dan selaras.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 16:12:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Jangan Hanya Sibuk Mengerjakan Sesuatu, Duduk Diamlah! by Reza Gunawan</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/comment-page-1/#comment-485</link>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 16:12:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=271#comment-485</guid>
		<description>Halo Adji,
Terimakasih atas opinimu. Saya rasa kalau urusan pahala lebih baik kita serahkan pada Yang Maha Berhak Menentukan Pahala. Jadi saya tidak merasa perlu mengomentari sisi nilai ibadahnya, namun kalau aspek kesehatan seperti peningkatan endorfin, imun tubuh, dll, itu sudah dibuktikan juga sebagai manfaat dari meditasi melalui berbagai penelitian ilmiah. Jadi manfaat kesehatan itu tidak hanya sebatas dzikir atau sholat khusu&#039; saja.  Tambahan lagi, selama saya mengajar meditasi, justru banyak kawan-kawan melaporkan kualitas sholat (maupun ritual doa lain bagi yang bukan muslim) justru semakin khusyu dan membaik setelah rutin berlatih meditasi. Jadi saya rasa bukan sebuah pilihan yang harus saling meniadakan, justru antara ibadah dan meditasi bisa saling melengkapi dan menyempurnakan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Adji,<br />
Terimakasih atas opinimu. Saya rasa kalau urusan pahala lebih baik kita serahkan pada Yang Maha Berhak Menentukan Pahala. Jadi saya tidak merasa perlu mengomentari sisi nilai ibadahnya, namun kalau aspek kesehatan seperti peningkatan endorfin, imun tubuh, dll, itu sudah dibuktikan juga sebagai manfaat dari meditasi melalui berbagai penelitian ilmiah. Jadi manfaat kesehatan itu tidak hanya sebatas dzikir atau sholat khusu&#8217; saja.  Tambahan lagi, selama saya mengajar meditasi, justru banyak kawan-kawan melaporkan kualitas sholat (maupun ritual doa lain bagi yang bukan muslim) justru semakin khusyu dan membaik setelah rutin berlatih meditasi. Jadi saya rasa bukan sebuah pilihan yang harus saling meniadakan, justru antara ibadah dan meditasi bisa saling melengkapi dan menyempurnakan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Jangan Hanya Sibuk Mengerjakan Sesuatu, Duduk Diamlah! by adji</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/comment-page-1/#comment-484</link>
		<dc:creator>adji</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 07:19:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=271#comment-484</guid>
		<description>Meditasi tidak berpahala, lebih baik dzikir, sholat khusu&#039;, justru dapat meningkatkan endorfin sehingga tubuh menjadi rileks, meningkatkan respon imun tubuh. tubuh ikut bergerak daat membakar kalor dan timbunan lemak.
dari pada meditasi tidak berguna.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Meditasi tidak berpahala, lebih baik dzikir, sholat khusu&#8217;, justru dapat meningkatkan endorfin sehingga tubuh menjadi rileks, meningkatkan respon imun tubuh. tubuh ikut bergerak daat membakar kalor dan timbunan lemak.<br />
dari pada meditasi tidak berguna.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT by Reza Gunawan</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-465</link>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 00:31:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-465</guid>
		<description>halo mas Teddi,

Terimakasih sudah mencoba melakukan proses TAT. Yang saya muat dalam blog ini memang khusus didesain untuk trauma pemulihan bencana alam.  Sementara ada sederetan kurikulum pelajaran TAT yang jauh lebih luas untuk aplikasi trauma pribadi, alergi, psikosomatis, limiting belief, dll.
Kalau setiap langkah dipraktekkan tanpa menyentuh titik, saya rasa masih ada hasilnya, namun efektivitasnya tidak seoptimal menggunakan komponen titik akupunktur, karena melibatkan sirkulasi Chi di sirkuit energi tubuh kita.  Memang benar pikiran saja menggerakkan energi, namun kemampuan pikiran setiap individu untuk menggerakkan Chi secara efektif sangat bervariasi, sehingga sulit untuk disamaratakan demi protokol yang efektif.

Saya sepenuhnya merestui penggunaan TAT untuk aplikasi trauma bencana alam pada diri sendiri, dan pada orang lain secara 1-on-1.  Untuk aplikasi lain, belajar dari tulisan singkat ini sangat tidak memadai, dan tentunya mas Teddi juga liat kenyataan di lapangan, banyak orang berniat baik membantu orang lain dengan ilmu dan restu yang belum lengkap, malah menyebabkan cedera pada orang yang mau ditolong.  Karena pertimbangan ini, saya selalu menyarankan bagi mereka yang tertarik belajar TAT untuk menekuninya secara lengkap di Pelatihan Terapis TAT, sehingga tahu pakem-pakem terapi TAT yang aman dan efektif dalam segala aplikasi.  

Terimakasih, selamat berlatih!
Reza</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>halo mas Teddi,</p>
<p>Terimakasih sudah mencoba melakukan proses TAT. Yang saya muat dalam blog ini memang khusus didesain untuk trauma pemulihan bencana alam.  Sementara ada sederetan kurikulum pelajaran TAT yang jauh lebih luas untuk aplikasi trauma pribadi, alergi, psikosomatis, limiting belief, dll.<br />
Kalau setiap langkah dipraktekkan tanpa menyentuh titik, saya rasa masih ada hasilnya, namun efektivitasnya tidak seoptimal menggunakan komponen titik akupunktur, karena melibatkan sirkulasi Chi di sirkuit energi tubuh kita.  Memang benar pikiran saja menggerakkan energi, namun kemampuan pikiran setiap individu untuk menggerakkan Chi secara efektif sangat bervariasi, sehingga sulit untuk disamaratakan demi protokol yang efektif.</p>
<p>Saya sepenuhnya merestui penggunaan TAT untuk aplikasi trauma bencana alam pada diri sendiri, dan pada orang lain secara 1-on-1.  Untuk aplikasi lain, belajar dari tulisan singkat ini sangat tidak memadai, dan tentunya mas Teddi juga liat kenyataan di lapangan, banyak orang berniat baik membantu orang lain dengan ilmu dan restu yang belum lengkap, malah menyebabkan cedera pada orang yang mau ditolong.  Karena pertimbangan ini, saya selalu menyarankan bagi mereka yang tertarik belajar TAT untuk menekuninya secara lengkap di Pelatihan Terapis TAT, sehingga tahu pakem-pakem terapi TAT yang aman dan efektif dalam segala aplikasi.  </p>
<p>Terimakasih, selamat berlatih!<br />
Reza</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT by Teddi</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-464</link>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 07:38:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-464</guid>
		<description>Halo Mas Reza,

Terima kasih untuk artikelnya. Saya sudah praktik, dan memang mak nyus. Yang saya penasaran hanyalah, jika kita praktikkan setiap langkah tanpa menyentuh seperti diterangkan di atas, bagaimana ya hasilnya? Ini lagi saya coba.

Soal ilmiah dan tidak ilmiah, hehe..udah jadul ah. Dulu saat dukun nyembur pasiennya dengan air, katanya itu tidak masuk akal. Begitu orang ngerti dan belajar tentang hipnoterapi dan NLP, maka ia jadi sangat masuk akal. 

Yes, sains umumnya melihat ke belakang, dan menguji keandalan dari sesuatu yang telah ada. Saya katakan umumnya, karena demikianlah sains yang umumnya dipahami sekarang. Mungkin satu saat akan berubah. Dulu, di kampus saya metode penelitian kualitatif dianggap rendah validitasnya. Begitu banyak doktor pulkam dan punya banyak pengikut seperti saya, maka metode ini pun jadi trend setter. Maka, saya sepakat kalau sains masih terus berkembang. Apa yang kita anggap tidak ilmiah saat ini bisa jadi membuat kita malu beberapa tahun mendatang. 

Saya juga tidak terlalu peduli dengan keilmiahan sebuah metode, sejauh ia masuk akal. Meskipun, saya dididik dalam tradisi ilmiah yang kental. La wong nyatanya saya bisa membantu klien fobia dalam 15 menit kok, sementara rekan-rekan saya yang sudah jadi psikolog (saya orang psikologi juga) masih bingung bagaimana caranya. 

Sesuatu yang baru layaknya dicari tahu, dipelajari, dan didalami ketika ia memang memunculkan fenomena menarik. Kalaupun ia belum terbukti, jangan-jangan kita lah yang masih terlalu bodoh untuk memahaminya. 

Btw, kalau untuk konteks di luar penanganan bencana, pola kalimatnya seperti apa ya? Dan, pola kalimat di atas, adakah kunci2nya alias pakem2 yang harus ada? Semisal saya harus menggunakannya dalam bahasa daerah, tentu harus kita modifikasi.

Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda berbagi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Mas Reza,</p>
<p>Terima kasih untuk artikelnya. Saya sudah praktik, dan memang mak nyus. Yang saya penasaran hanyalah, jika kita praktikkan setiap langkah tanpa menyentuh seperti diterangkan di atas, bagaimana ya hasilnya? Ini lagi saya coba.</p>
<p>Soal ilmiah dan tidak ilmiah, hehe..udah jadul ah. Dulu saat dukun nyembur pasiennya dengan air, katanya itu tidak masuk akal. Begitu orang ngerti dan belajar tentang hipnoterapi dan NLP, maka ia jadi sangat masuk akal. </p>
<p>Yes, sains umumnya melihat ke belakang, dan menguji keandalan dari sesuatu yang telah ada. Saya katakan umumnya, karena demikianlah sains yang umumnya dipahami sekarang. Mungkin satu saat akan berubah. Dulu, di kampus saya metode penelitian kualitatif dianggap rendah validitasnya. Begitu banyak doktor pulkam dan punya banyak pengikut seperti saya, maka metode ini pun jadi trend setter. Maka, saya sepakat kalau sains masih terus berkembang. Apa yang kita anggap tidak ilmiah saat ini bisa jadi membuat kita malu beberapa tahun mendatang. </p>
<p>Saya juga tidak terlalu peduli dengan keilmiahan sebuah metode, sejauh ia masuk akal. Meskipun, saya dididik dalam tradisi ilmiah yang kental. La wong nyatanya saya bisa membantu klien fobia dalam 15 menit kok, sementara rekan-rekan saya yang sudah jadi psikolog (saya orang psikologi juga) masih bingung bagaimana caranya. </p>
<p>Sesuatu yang baru layaknya dicari tahu, dipelajari, dan didalami ketika ia memang memunculkan fenomena menarik. Kalaupun ia belum terbukti, jangan-jangan kita lah yang masih terlalu bodoh untuk memahaminya. </p>
<p>Btw, kalau untuk konteks di luar penanganan bencana, pola kalimatnya seperti apa ya? Dan, pola kalimat di atas, adakah kunci2nya alias pakem2 yang harus ada? Semisal saya harus menggunakannya dalam bahasa daerah, tentu harus kita modifikasi.</p>
<p>Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda berbagi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT by Reza Gunawan</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-453</link>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 07:00:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-453</guid>
		<description>Halo mas Adi Saputra,

Saya hargai pendapat Anda. Di bidang yang saya tekuni, terutama aplikasi penyembuhan trauma, sudah banyak sekali bukti empiris, dan masih terbatas bukti yang masuk dalam rentang pembuktian yang Anda harapkan. Verifikasi punya banyak bentuk dan makna, sehingga tidak mungkin muat di ekspektasi semua orang.

Di lain pihak, metode penyembuhan trauma yang efektif cenderung sedikit sekali, padahal kondisi kita sekarang tinggal di negara yang rentan bencana alam, sehingga cedera jiwa mudah terjadi.  

Itulah pertimbangan saya, mengapa saya bagikan ilmu TAT untuk trauma bencana secara gratis, karena begitu kita sudah menjadi korban trauma, dengan segala efeknya, argumen tentang pembuktian ilmiah dan sejenisnya, akan mundur karena yang penting apakah suatu metode bisa memberikan penyembuhan/transformasi yang diharapkan.  

Sejujurnya adakah metode lain yang mungkin bagi Anda lebih efektif dan terbukti sesuai harapan keilmiahan Anda untuk aplikasi trauma bencana? Bila ada, dengan senang hati saya bersedia diskusikan dengan terbuka.

Dan saya tidak sepakat tentang suatu ilmu harus diverifikasi ketika orang perlu membayar untuk mendapatkan ilmu tersebut. Menurut saya, setiap ilmu harus dipelajari, diamalkan dan diverifikasi, terlepas dari apakah penggunaannya komersial ataupun tidak.  

Seorang terapis menetapkan tarif itu bukan semata karena alasan komersial, namun proses memperoleh ilmu pun juga ada investasi yang harus dia lakukan untuk menjadi terapis yang lebih kompeten, dan menurut saya selama tujuan utamanya bukan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, namun hidup berkecukupan dari profesi yang dijalankan dengan niat baik, dan benar-benar membawa manfaat bagi kliennya, itu tidak ada masalah.  Saya sendiri dalam berpraktek fulltime selama hampir 8 tahun ini, belum sekali pun mengiklankan jasa saya di media-media, bukan berarti bagi saya beriklan itu haram.

Dan sekali lagi Anda boleh menyebut judul apapun untuk profesi saya, sejujurnya saya tidak terlalu peduli.  Buat saya, niat baik, ilmu &amp; metode yang efektif hasilnya, hubungan terapis-klien yang sehat, serta hasil terapi yang transformatif, berada jauh diatas hal-hal kecil lainnya.  

Terakhir, saya percaya suatu hari, science/keilmiahan akan mengejar ketinggalan, dan mampu bercerita lebih banyak.  Saya tidak akan menunda pekerjaan ini, hanya karena menunggu keilmiahan yang Anda harapkan, karena dari sejarah kita bisa belajar bahwa science selalu muncul telat dan di paling akhir, sementara terlalu banyak masalah, trauma dan penyakit yang butuh pertolongan, di saat ini juga.

Semoga diskusi bermanfaat bagi kita semua,
Reza</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo mas Adi Saputra,</p>
<p>Saya hargai pendapat Anda. Di bidang yang saya tekuni, terutama aplikasi penyembuhan trauma, sudah banyak sekali bukti empiris, dan masih terbatas bukti yang masuk dalam rentang pembuktian yang Anda harapkan. Verifikasi punya banyak bentuk dan makna, sehingga tidak mungkin muat di ekspektasi semua orang.</p>
<p>Di lain pihak, metode penyembuhan trauma yang efektif cenderung sedikit sekali, padahal kondisi kita sekarang tinggal di negara yang rentan bencana alam, sehingga cedera jiwa mudah terjadi.  </p>
<p>Itulah pertimbangan saya, mengapa saya bagikan ilmu TAT untuk trauma bencana secara gratis, karena begitu kita sudah menjadi korban trauma, dengan segala efeknya, argumen tentang pembuktian ilmiah dan sejenisnya, akan mundur karena yang penting apakah suatu metode bisa memberikan penyembuhan/transformasi yang diharapkan.  </p>
<p>Sejujurnya adakah metode lain yang mungkin bagi Anda lebih efektif dan terbukti sesuai harapan keilmiahan Anda untuk aplikasi trauma bencana? Bila ada, dengan senang hati saya bersedia diskusikan dengan terbuka.</p>
<p>Dan saya tidak sepakat tentang suatu ilmu harus diverifikasi ketika orang perlu membayar untuk mendapatkan ilmu tersebut. Menurut saya, setiap ilmu harus dipelajari, diamalkan dan diverifikasi, terlepas dari apakah penggunaannya komersial ataupun tidak.  </p>
<p>Seorang terapis menetapkan tarif itu bukan semata karena alasan komersial, namun proses memperoleh ilmu pun juga ada investasi yang harus dia lakukan untuk menjadi terapis yang lebih kompeten, dan menurut saya selama tujuan utamanya bukan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, namun hidup berkecukupan dari profesi yang dijalankan dengan niat baik, dan benar-benar membawa manfaat bagi kliennya, itu tidak ada masalah.  Saya sendiri dalam berpraktek fulltime selama hampir 8 tahun ini, belum sekali pun mengiklankan jasa saya di media-media, bukan berarti bagi saya beriklan itu haram.</p>
<p>Dan sekali lagi Anda boleh menyebut judul apapun untuk profesi saya, sejujurnya saya tidak terlalu peduli.  Buat saya, niat baik, ilmu &#038; metode yang efektif hasilnya, hubungan terapis-klien yang sehat, serta hasil terapi yang transformatif, berada jauh diatas hal-hal kecil lainnya.  </p>
<p>Terakhir, saya percaya suatu hari, science/keilmiahan akan mengejar ketinggalan, dan mampu bercerita lebih banyak.  Saya tidak akan menunda pekerjaan ini, hanya karena menunggu keilmiahan yang Anda harapkan, karena dari sejarah kita bisa belajar bahwa science selalu muncul telat dan di paling akhir, sementara terlalu banyak masalah, trauma dan penyakit yang butuh pertolongan, di saat ini juga.</p>
<p>Semoga diskusi bermanfaat bagi kita semua,<br />
Reza</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Resolusi Awal Tahun, Perlukah? by widia</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/12/resolusi-awal-tahun-perlukah/comment-page-1/#comment-452</link>
		<dc:creator>widia</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 02:22:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=379#comment-452</guid>
		<description>Meski telat sekali, karena baru kali ini saya baca webnya mas reza.. bukan berarti saya tidak pernah mendengar tentang mas loh. saya coba ikut coment ya. Sudah lama saya tidak membuat resolusi... menarik juga diingatkan kembali.. buat saya resolusi juga dapat untuk mengingatkan kita masih diberi kesempatan hidup dan menikmati semua, senang maupun susah. Namun buat saya resolusi tidak selalu dilakukan secara normal dalam arti awal tahun, bisa juga karena adanya suatu moment yang luar biasa dan jadikan itu sebagai titik awal dan akhir dari rentang waktu yang ingin kita pakai untuk mengevaluasi diri, dan yang lebih penting mensyukuri diri akan anugrah hidup yang Tuhan beri. Terima kasih untuk tulisan Mas Reza.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Meski telat sekali, karena baru kali ini saya baca webnya mas reza.. bukan berarti saya tidak pernah mendengar tentang mas loh. saya coba ikut coment ya. Sudah lama saya tidak membuat resolusi&#8230; menarik juga diingatkan kembali.. buat saya resolusi juga dapat untuk mengingatkan kita masih diberi kesempatan hidup dan menikmati semua, senang maupun susah. Namun buat saya resolusi tidak selalu dilakukan secara normal dalam arti awal tahun, bisa juga karena adanya suatu moment yang luar biasa dan jadikan itu sebagai titik awal dan akhir dari rentang waktu yang ingin kita pakai untuk mengevaluasi diri, dan yang lebih penting mensyukuri diri akan anugrah hidup yang Tuhan beri. Terima kasih untuk tulisan Mas Reza.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT by bambang w</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-446</link>
		<dc:creator>bambang w</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 02:37:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-446</guid>
		<description>salam kenal mas Reza, 

apa perbedaan yg signifikan antara TAT dan EFT, dan seberapa manjur dalam mengatasi masalah2 fisik atau emosional.
terima kasih 

salam, 
bambang w</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal mas Reza, </p>
<p>apa perbedaan yg signifikan antara TAT dan EFT, dan seberapa manjur dalam mengatasi masalah2 fisik atau emosional.<br />
terima kasih </p>
<p>salam,<br />
bambang w</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT by boedie</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-432</link>
		<dc:creator>boedie</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 15:31:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-432</guid>
		<description>ya sudah jangan berdebat, kalau memang berniat mau menolong sesama alangkah baiknya melepaskan ego pribadi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya sudah jangan berdebat, kalau memang berniat mau menolong sesama alangkah baiknya melepaskan ego pribadi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT by Adi Saputra</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-430</link>
		<dc:creator>Adi Saputra</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:12:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-430</guid>
		<description>Hallo mas Reza,
Terima kasih atas komentar Anda tentang profesi Anda.

Singkat saja ya, apa yang saya utarakan di sini bukan mengenai profesi Anda. Di dunia ini (bahkan di Amerika sekali pun) profesi dukun tetap laku, apalagi di Indonesia. 
Yang jadi masalah adalah ketika ilmu dari profesi itu disebarkan (diaplikasikan) ke orang lain apalagi diiklankan di media-media dan orang harus bayar untuk mendapatkan atau mengetahui ilmu tersebut (pasang tarif). Disini perlu ada verifikasi.
Kalau Anda mau praktekkan ilmu Anda (atau profesi Anda) tersebut dalam diri atau keluarga Anda sendiri, silahkan, tidak ada larangan. Tapi ketika sudah menyentuh khalayak ramai, sekali lagi hal itu harus diverifikasi.

Salam,
Adi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo mas Reza,<br />
Terima kasih atas komentar Anda tentang profesi Anda.</p>
<p>Singkat saja ya, apa yang saya utarakan di sini bukan mengenai profesi Anda. Di dunia ini (bahkan di Amerika sekali pun) profesi dukun tetap laku, apalagi di Indonesia.<br />
Yang jadi masalah adalah ketika ilmu dari profesi itu disebarkan (diaplikasikan) ke orang lain apalagi diiklankan di media-media dan orang harus bayar untuk mendapatkan atau mengetahui ilmu tersebut (pasang tarif). Disini perlu ada verifikasi.<br />
Kalau Anda mau praktekkan ilmu Anda (atau profesi Anda) tersebut dalam diri atau keluarga Anda sendiri, silahkan, tidak ada larangan. Tapi ketika sudah menyentuh khalayak ramai, sekali lagi hal itu harus diverifikasi.</p>
<p>Salam,<br />
Adi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Geming, Hening &amp; Bening 2010 by v3</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/geming/comment-page-1/#comment-428</link>
		<dc:creator>v3</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 14:11:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/geming-hening-bening-2010/#comment-428</guid>
		<description>kok ga da di jakarta si mas reza</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kok ga da di jakarta si mas reza</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
