<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Self Healing - Reza Gunawan &#187; BFC &#8211; Cosmopolitan FM</title>
	<atom:link href="http://www.rezagunawan.com/category/bfc-cosmopolitan-fm/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rezagunawan.com</link>
	<description>memelihara ketenteraman dan kesehatan seutuhnya, dengan                       melatih kesadaran diri, agar hidup semakin ringan, ikhlas, dan selaras.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 05:58:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mau Bebas dari Rokok? Jangan Berusaha Berhenti!</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/07/mau-bebas-dari-rokok-jangan-berusaha-berhenti/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/07/mau-bebas-dari-rokok-jangan-berusaha-berhenti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 07:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC Cosmopolitan 90.4 FM 14 Juli 2009


Merokok adalah suatu kegiatan yang begitu susah dilepaskan oleh para perokok, meskipun kita semua sudah kenyang mendengar propaganda bahaya merokok bagi kesehatan. Saya pribadi tidak berpendapat bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Hanya saja, dalam pengamatan saya dari pengalaman terapi, berbagai upaya yang umum dilakukan untuk berhenti dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC Cosmopolitan 90.4 FM 14 Juli 2009</strong><em><br />
</em></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-319" title="istock_000000421881xsmall" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/07/istock_000000421881xsmall.jpg" alt="istock_000000421881xsmall" width="425" height="282" /></p>
<p>Merokok adalah suatu kegiatan yang begitu susah dilepaskan oleh para perokok, meskipun kita semua sudah kenyang mendengar propaganda bahaya merokok bagi kesehatan. Saya pribadi tidak berpendapat bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Hanya saja, dalam pengamatan saya dari pengalaman terapi, berbagai upaya yang umum dilakukan untuk berhenti dari kebiasaan merokok seringkali kurang efektif. Dan lebih aneh lagi, berbagai upaya berhenti merokok justru seringkali membuahkan hasil yang sebaliknya, yakni malah memperkuat kebiasaan merokok tersebut.</p>
<p>Kali ini, saya mengundang Anda untuk memahami kembali psikologi dan mekanisme kebiasaan merokok dan sekaligus menawarkan sudut pandang berbeda.  Kalau boleh memberikan kesimpulan akhir di awal perenungan kita, kira-kira bunyinya begini:</p>
<p><em>“Jika Anda ingin bebas dari kebiasaan merokok, lepaskanlah semua keinginan, upaya, dan fokus untuk berhenti secara permanen dari merokok.”</em></p>
<h3><span id="more-318"></span>Pendekatan Umum untuk Berhenti Merokok</h3>
<ul>
<li><strong>Niat dan tekad yang kuat</strong> Secara statistik, hanya 2% perokok yang berhasil menggunakan metode ini.  Saya tertarik untuk mencari metode yang bisa menolong 98% perokok yang tidak berhasil berhenti karena tidak cocok dengan metode niat/tekad ini.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Terapi Pengganti Nikotin </strong>Meskipun ada sebagian orang yang berhasil lepas dari kegiatan merokok akibat stiker maupun jenis nikotin pengganti lainnya, saya tidak pernah habis pikir: apabila kita sudah bebas dari adiksi terhadap nikotin berbentuk rokok, apakah kita layak menganggap diri bebas dari adiksi nikotin, kalau masih menggunakan bentuk nikotin yang lain?</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Hipnoterapi </strong>Sebagai seorang hipnoterapis, saya tidak berhasil menemukan kesesuaian maupun tingkat keberhasilan yang baik dari metode ini.  Saya menemukan bahwa selama klien masih punya KEINGINAN KUAT untuk BERHENTI merokok, sugesti hipnotis yang diberikan biasanya hanya bisa membantu untuk jangka pendek dan tidak mampu memberikan support dan manfaat jangka panjang.  Lebih lagi, mengingat batin bawah sadar adalah aspek dalam diri yang sangat kuat, sebenarnya tidaklah aman ketika sebagian teknik hipnoterapi melakukan penggunaan sugesti negatif. Penggunaan kalimat sugesti hipnotis, baik yang diberikan saat trance maupun dalam percakapan biasa, yang berkonotasi “takutlah dengan akibat dari kebiasaan merokok” justru mengandung risiko bahwa tubuh akan memproduksi apa pun yang kita takutkan tersebut menjadi kenyataan. Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, saya ingin menyampaikan pengamatan bahwa terkadang para praktisi hipnoterapi pun bisa lupa bahwa perumusan sugesti hipnotis bisa dibuat sedemikian kuat hingga justru membahayakan klien.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Akupunktur</strong> Sebagai seorang akupunkturis, saya tidak menemukan juga efektivitas yang tinggi melalui metode ini. Barangkali karena banyak akupunkturis yang terlalu fokus pada aspek detoksifikasi tubuh atas nikotin, tetapi kurang mengarahkan terapi pada aspek psikologis pasien yang sebenarnya merupakan gudang pemicu perilaku merokok.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Makan </strong>Melarikan dari kebiasaan merokok ke kebiasaan konsumsi baru (seperti makan atau mengunyah permen karet) kurang tepat jika disebut sebagai penyembuhan karena lebih bersifat pelarian. Tidak jarang pula pelarian ini merupakan objek adiksi baru yang belum tentu juga sehat.</li>
</ul>
<p>Mungkinkah ada pendekatan yang lebih natural dan lebih mudah?  Ada yang bilang, bahwa upaya untuk berhenti merokok biasanya harus dilakukan antara 3-6 kali hingga mencapai keberhasilan. Benarkah?</p>
<h3>Mengapa Jangan Berusaha Berhenti Merokok?</h3>
<p>Dari sudut pandang medis, Dr. Joseph Mercola, seorang dokter yang sangat mempopulerkan merawat kesehatan secara alami, justru menganjurkan agar seorang perokok jangan LANGSUNG BERHENTI merokok.  Alasannya?  Dalam rokok tersimpan berbagai zat yang bersifat obat, yang bilamana sudah dikonsumsi sekian lama maka tingkat metabolisme tubuh juga bergantung pada pasokan obat tersebut.  Bila rokok tiba-tiba dihentikan tanpa merawat kebutuhan nutrisi yang cukup dan gaya hidup yang sehat, maka bisa terjadi perubahan drastis metabolisme tubuh yang bisa saja mengakibatkan efek buruk yang tidak diinginkan (salah satunya peningkatan berat badan).</p>
<p>Sementara menurut sudut pandang saya sendiri, begitu seseorang berkeinginan untuk berhenti merokok secara PERMANEN, dia otomatis masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal”:  apakah saya bisa berhenti merokok selama-lamanya, ataukah saya akan gagal dan kembali merokok seperti yang sudah terjadi sebelumnya?</p>
<p>Masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal” ini justru akan membuat kita memaksakan diri untuk berhasil.  Setiap pemaksaan diri, meskipun untuk tujuan yang baik, akan menyebabkan STRES TAMBAHAN di bawah sadar.  Mengingat sebagian perokok menggunakan kebiasaan merokok untuk melegakan diri, menciptakan rasa nyaman, atau melepaskan stres, maka STRES TAMBAHAN ini justru meningkatkan peluang perilaku merokok untuk terulang kembali.</p>
<h3>Siklus “Merokok Yo-Yo”</h3>
<p>Pada fenomena diet berambisi langsing, fenomena menarik ini juga terjadi. Dalam jangka pendek, bisa saja tekad dan fokus kita untuk berbadan ideal terlaksana. Namun, begitu target tercapai, ada energi kompensasi yang mendorong kita untuk makan dan mengumpulkan kembali berat badan yang hilang.  Ini yang disebut “diet yo-yo”. Dan kita bisa menggunakan metafora yang sama dengan “merokok yo-yo”.</p>
<p>Siklusnya seperti ini:<br />
Takut risiko merokok → Ingin berhasil berhenti merokok → Mengumpulkan tekad sekuatnya untuk memaksakan diri berhenti secara permanen → Berhasil mengurangi/berhenti merokok dalam jangka pendek → Muncul pemicu perilaku merokok (mis. stres) → Timbul keinginan merokok lagi, tapi sudah bertekad berhenti → Terjadi konflik batin antara ingin merokok supaya lega dan ingin berhenti merokok secara permanen → Konflik batin semakin kuat, stres semakin tinggi → Ketika stres sudah melalui ambang toleransi, kemampuan berpikir jernih hilang dan akhirnya kita kembali ke pola/kebiasaan lama dalam mengatasi stres → Mulai merokok lagi → Menguatnya memori bahwa merokok itu melepaskan stres → Kecewa dan MERASA GAGAL karena tidak berhasil berhenti secara permanen → Semakin takut tidak bisa lepas dari rokok → Siklus ini berulang lagi, dst.</p>
<p>Siklus tersebut begitu kuat dan mengikat sehingga kita perlu memahami bahwa untuk bebas dari rokok, kita tidak boleh masuk ke dalam kerangka berpikir “Berhasil/Gagal”.  Bagaimana caranya?  JANGANLAH BERUSAHA BERHENTI MEROKOK.</p>
<p>Ya betul, saya tidak bergurau. Semakin Anda berusaha berhenti, justru seringkali hasil sebaliknya yang Anda peroleh. Bahkan sebenarnya berhenti merokok itu begitu mudah dan bisa dicapai tanpa berupaya berhenti, kalau Anda sudah melepaskan keinginan untuk berhenti.</p>
<p>Berhenti merokok akan sangatlah sulit bagi para perokok yang sangat ingin berhenti.</p>
<h3>Memahami Jerat Rokok Dengan Jeli</h3>
<p>Untuk bisa bersahabat dan terbebas dari adiksi, kita perlu memahaminya dengan lebih dekat dan jernih.  Banyak orang berkonsep bahwa melepaskan benda kecil sekian sentimeter itu sebenarnya perkara mudah.  Saya bukannya tidak setuju, tapi kita perlu juga membarengi dengan pengetahuan bahwa sebenarnya jerat kebiasaan merokok itu terdiri dari ribuan simpul rumit yang mengikat sistem tubuh dan batin kita.</p>
<p>Kalau seluruh simpul ini, baik simpul ketergantungan secara fisik maupun ketergantungan secara psikologis, sudah menjadi jerat kompleks dalam tubuh maupun batin kita, tidaklah sulit memahami mengapa segala upaya untuk terbebas dari rokok bisa menjadi perjuangan yang diwarnai jatuh bangun bagi banyak orang.</p>
<p>Di satu sisi, secara fisik memang sebatang rokok mengandung zat-zat yang menyebabkan keterikatan (adiksi) secara fisik.  Artinya, bilamana dihentikan, maka tubuh akan merasakan kehilangan dan menuntut untuk diberikan kembali jatahnya.  Memang tuntutan tubuh untuk kembali diisi nikotin tidak terasa seekstrem fenomena “sakaw” pada pengguna obat-obatan terlarang, tapi justru karena permintaan tersebut tidak terlalu ekstrem, para perokok cenderung merasa “tidak terpenjara” oleh nikotin  dan menganggap bahwa dirinya tidak kecanduan.  Dari sudut pandang tersebut, rokok sebenarnya menjerat lebih kuat daripada narkoba, karena zat dalam rokok mengikat tanpa membuat kita sadar bahwa diri kita terikat.</p>
<p>Di lain sisi, bisa ada puluhan bahkan ribuan jerat rokok yang tidak bersifat ketergantungan fisik melainkan lebih bersifat jerat psikologis yang mengikat kita terhadap “kegiatan” merokok, bukan melulu pada rokoknya. Jerat psikologis tersebut bisa berupa memori serta kebiasaan, misalnya:</p>
<ul>
<li>Berbagai memori tentang rasa lega dan nyaman ketika merokok.</li>
<li>Ingatan tentang bagaimana merokok melepaskan stres.</li>
<li>Ingatan tentang bagaimana rokok adalah sahabat terbaik dalam kesendirian.</li>
<li>Ingatan menyenangkan berkumpul dengan teman-teman sambil merokok.</li>
<li>Keyakinan bahwa merokok membuat seseorang lebih kreatif.</li>
<li>Keyakinan bahwa merokok membuat proses berpikir dan produktivitas lebih lancar.</li>
<li>Kebiasaan nikmatnya merokok setelah makan, atau setelah bercinta.</li>
</ul>
<p>Dari berbagai pengalaman dan pengamatan saya, tidak hanya pada kasus merokok, obat terkuat yang paling ampuh untuk menyembuhkan jerat memori dan kebiasaan hanyalah satu. Dan itu bukanlah membentuk memori atau kebiasaan baru yang lebih positif.  Tahukan Anda apa kuncinya?</p>
<p>Obatnya adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih.</p>
<h3>Jerat Yang Lepas Sendiri Tanpa Usaha Sengaja</h3>
<p>Setelah sempat mengeksplorasi berbagai cara untuk berhenti merokok yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dan pada saat yang sama mengajarkan keterampilan Self Healing di berbagai pelatihan, saya menemukan fenomena yang aneh.</p>
<p>Saya menemukan beberapa peserta Self Healing yang, setelah mulai berlatih keterampilannya secara mandiri dan hidup lebih sehat, tiba-tiba berhenti sendiri merokok.  Anehnya, mereka tidak pernah melakukan upaya yang terfokus khusus untuk bebas dari merokok.</p>
<p>Sebenarnya, fenomena ini juga bisa terjadi pada mereka yang belum belajar keterampilan Self Healing.  Pernahkah Anda mendengar cerita-cerita bebas dari rokok seperti:</p>
<ul>
<li>Suatu hari, si perokok tiba-tiba merasa “ah, saya tidak ingin merokok lagi”, dan sejak itu mereka berhenti merokok.</li>
<li>Seseorang yang memulai kebiasaan jogging pagi dan setelah sekian lama ia baru menyadari bahwa sudah lama sekali ia tidak merokok sebatang pun.</li>
</ul>
<p>Setelah saya renungi dan amati lebih lanjut, ternyata ada sebuah jalan lain yang sebenarnya mampu membebaskan kita dari rokok. Namun, karena tidak pernah kita soroti dengan jeli, mereka yang berhasil melalui jalan itu kita anggap sebagai sebuah kebetulan belaka, atau kita anggap berhasil karena tekadnya kuat.</p>
<p>Jalan itu bernama “Tanpa sengaja, tiba-tiba terbebas dari rokok”.<br />
Mengapa ini bisa terjadi?</p>
<h3>Pengamatan dari Mereka yang Berlatih Self Healing</h3>
<p>Pada awal mulai berlatih keselarasan lahir batin, segala pemicu yang membuat ingin merokok ternetralisir oleh latihan mereka sendiri seperti:</p>
<ul>
<li>Rasa tegang yang tadinya hanya bisa dicairkan dengan merokok mulai berkurang karena sering berlatih relaksasi dan pernapasan.</li>
<li>Stres dan masalah yang biasanya membuat ingin merokok mulai bisa dilepaskan secara alami tanpa bantuan rokok.</li>
<li>Trauma/luka batin yang menjadi bagian dari adiksi dan biasanya harus dilarikan dengan merokok mulai bisa disembuhkan sendiri, sehingga tidak lagi ada alasan untuk pelarian dan lebih bisa menghadapi hidup dengan jernih.</li>
</ul>
<p>Setelah sekian lama berlatih, mereka juga mulai mengalami detoksifikasi alami tubuh/ pikiran, sehingga segala sisa zat yang bersifat adiktif maupun berbagai memori dan kebiasaan seputar merokok mulai melemah dengan sendirinya. Tanpa berusaha berhenti.</p>
<p>Akhirnya, ketika sudah semakin terampil Self Healing, kita semakin peka akan kebutuhan tubuh dan mulai lebih bisa merasakan respon tubuh terhadap berbagai kegiatan serta zat yang kita masukkan ke dalamnya.  Suatu saat, tanpa disengaja, secara naluriah kita mulai ingin makanan yang lebih sehat dan lidah mulai kehilangan selera terhadap zat yang kurang membahagiakan tubuh kita. Pada saat itulah si perokok seringkali tiba-tiba tidak bisa meneruskan kenikmatan merokok dan akhirnya terbebas sendiri, sekali lagi, tanpa sengaja. Tanpa usaha.</p>
<h3>Latihan Memperkuat Perhatian Merokok</h3>
<p>Seperti disebutkan sebelumnya, obat terampuh dari berbagai memori dan kebiasaan yang menjerat adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih.  Jadi, setelah melepaskan berbagai upaya dan ambisi untuk berhenti merokok, Anda bisa mencoba latihan-latihan berikut ini.</p>
<p>Catatan: latihan ini tidak dirancang untuk berhenti merokok, melainkan untuk memperkuat perhatian yang sadar dan jernih tentang kegiatan merokok.  Jika dilakukan tanpa niat untuk berhenti merokok, latihan-latihan seputar merokok ini bisa bermanfaat untuk membantu kita mengenal diri, mengasah kesadaran dan perhatian tentang merokok, serta membantu kita lebih sehat lahir batin—tanpa harus berhenti merokok.<br />
<strong><br />
Latihan #1 &#8211; Menunda: </strong><br />
Latihan ini saya sajikan setelah terinspirasi Pak Purnawan EA, seorang hipnoterapis yang sangat arif.  Beliau mengatakan, kalau kita sudah telanjur merekam nikmatnya merokok maka berusaha berhenti permanen dari merokok sangatlah sulit.  Adakah cara yang lebih mudah ketimbang berusaha berhenti?  Cobalah MENUNDA DENGAN SADAR DAN SENGAJA.  Selama ini para perokok sudah berhasil melakukan latihan menunda, meskipun tidak secara sadar dan sengaja.  Para perokok mampu menunda merokok ketika sedang sibuk, atau berada di zona non-merokok, saat tidur malam hari, saat berpuasa, dll.</p>
<p>Ketika dorongan ingin merokok muncul, Anda bisa memutuskan untuk menunda merokok selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 10 tahun, bahkan seumur hidup.  Ini akan lebih mudah dijalani karena menunda bukanlah suatu kemustahilan.  Sementara berhenti permanen, yang mewakili hilang totalnya sumber kenikmatan yang telanjur terekam kuat, membuat kita semakin stres dan malah ingin merokok kalau sudah tidak tahan.</p>
<p>Ingat, tidak ada yang permanen dalam hidup ini. Latihan menunda membuka peluang bagi kita untuk memilih antara kapan mau merokok dan kapan tidak merokok.  Setelah masa tunda berakhir, silakan pilih: apakah mau menunda lebih jauh, atau menikmati rokok seperti biasa?  Latihan menunda juga tidak membuat kita terjebak dalam kerangka pikir “Berhasil/Gagal Berhenti Permanen”, kan?</p>
<p><strong>Latihan #2 &#8211; Bernapas Tanpa Rokok: </strong><br />
Mungkin analogi berikut akan membantu: seandainya kita sedang gatal dan kemudian kita menggaruk gatal tersebut dengan satu tangan sementara satu tangan lagi sedang merokok, bisa saja kita menarik kesimpulan yang tidak tepat, yakni: merokok bermanfaat menghilangkan gatal. Tentu kesimpulan itu tidak benar. Namun, mereka yang perhatiannya tidak jernih belum tentu bisa membedakan apa yang sebenarnya menghilangkan gatal tersebut.</p>
<p>Dari contoh tersebut, cobalah tengok lagi semua kesimpulan kita bahwa merokok itu melegakan, nikmat, meringankan stres dan beban pikiran.  Mungkinkah bahwa sebenarnya manfaat tersebut bukanlah bersumber dari produk rokok itu sendiri, melainkan dari kegiatan kita yang berhenti sejenak untuk rileks, dan menikmati keluar masuknya napas?</p>
<p>Cobalah sendiri: hentikan sejenak kegiatan Anda, sekadar berniat untuk rileks dari ketergesaan dan kesibukan, lalu mulai bernapas dengan sadar dan sengaja.  Hirup napas dengan sangat lembut, rasakan ke dalam diri, lalu embuskan dengan perlahan dan lega.  Setelah melakukan ini beberapa menit, tidakkah Anda merasa lebih nyaman?  Inilah rahasia mengapa rokok itu bisa kita nikmati. Bukan karena rokoknya, melainkan karena kita bernapas secara sadar dan sengaja.</p>
<p>Ketika kita rutin melatih napas yang dilakukan secara sadar dan sengaja, pada saat itulah kita mulai membentuk pengalaman langsung bahwa napas merupakan kunci kenikmatan dan kelegaan. Pengalaman baru itu akan membentuk memori baru yang otomatis akan melonggarkan memori lama yang menganggap bahwa kenikmatan yang kita dapatkan berasal dari produk rokok.</p>
<p><strong>Latihan #3 &#8211; Merokok dengan Perhatian 100%: </strong><br />
Latihan ini terinspirasi dari renungan Osho.  Prinsipnya sederhana, gunakan kegiatan merokok sebagai latihan meditasi.  Tahu bagaimana orang Jepang melakukan upacara minum teh? Mereka menghayati proses minum teh, seolah-olah terdiri dari 1000 tahap, dan benar-benar melakukan tahap demi tahapnya dengan perhatian 100%.</p>
<p>Anda juga bisa melakukan ‘upacara merokok’ dengan perhatian 100%.  Mulai dari merasakan dorongan ingin merokok, sadari bahwa Anda pindah ke ruangan di mana Anda seolah akan ‘menyembah Dewa Rokok’, mengambil sebatang rokok, menyalakannya, mendekatkannya ke mulut Anda, menghirupnya dengan nikmat, merasakan asapnya di dalam tubuh Anda, lalu mengembuskannya dengan lega.  Setiap bagian kecil dari kegiatan merokok perlu dihayati dan dirasakan dengan perhatian 100%.  Artinya tidak boleh sambil ngobrol, melamun, kerja, nonton, atau melakukan kegiatan lain secara berbarengan.  Hayati dengan perhatian penuh tanpa sebersit pun niat untuk berhenti merokok.  Nikmati sepenuh hati.</p>
<p>Apakah Anda harus melakukan upacara itu di setiap batang rokok?  Tidak. Cukup TIGA batang dari berapa pun batang rokok yang Anda konsumsi tiap hari. Nikmatilah tiga batang itu dengan perhatian dan penghayatan total. Selebihnya, silakan merokok seperti biasa.</p>
<h3>Resep Bebas dari Rokok Tanpa Berusaha Berhenti</h3>
<p>Dari semua perenungan di atas, berikut adalah resep intinya:</p>
<ul>
<li>Jangan berusaha untuk berhenti, dan lepaskan keinginan untuk berhenti permanen.</li>
</ul>
<ul>
<li>Mulailah meningkatkan kualitas kesehatan fisik: asupan nutrisi yang baik, mulai berolahraga, dan memberikan kesempatan beristirahat yang cukup.</li>
</ul>
<ul>
<li>Melatih seni rileks, lega, dan selaras, melalui belajar keterampilan Self Healing. (silakan baca informasi lengkapnya <a title="Pelatihan Self Healing" href="http://truenaturehealing.net/selfhealing" target="_blank">disini</a>)</li>
</ul>
<ul>
<li>Melatih 3 Latihan Memperkuat Perhatian Merokok yang telah dijelaskan di atas.</li>
</ul>
<p>Lebih penting lagi, saya juga menganjurkan kita untuk tidak mendesak, mendorong, apalagi memaksa orang lain untuk berhenti merokok, karena anjuran tersebut bisa menyebabkan orang tersebut semakin merasa tidak diterima atau dicintai dan akhirnya menimbulkan stres yang menyebabkan dia semakin ingin merokok.</p>
<p>Kalau Anda tidak ingin menghirup udara yang bercampur asap rokok, menyingkirlah, atau buat kesepakatan dengan para perokok untuk sama-sama menjaga kebersihan udara yang ingin dinikmati para non-perokok.  Itu lebih baik, bijak, dan adil, daripada menuntut orang lain untuk berhenti dari sebuah kebiasaan yang jeratnya kadang begitu erat.</p>
<p>Selamat menghirup udara segar!</p>
<p><em>Terimakasih telah menikmati tulisan ini. Bila Anda menyukainya, silakan berbagi dengan para sahabat &amp; keluarga Anda, dengan menyebutkan sumbernya di <strong>rezagunawan.com</strong>. Anda pun bisa langsung mengetahui berita terbaru tentang tulisan &amp; kegiatan pelatihan dengan mengikuti saya di <a title="Reza Gunawan @ Twitter" href="http://twitter.com/rezagunawan" target="_blank">Twitter</a>. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/07/mau-bebas-dari-rokok-jangan-berusaha-berhenti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Produktif Tanpa Sibuk</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/produktif-tanpa-sibuk/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/produktif-tanpa-sibuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 16:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>
		<category><![CDATA[Pagi Jakarta - OChannel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 14 April 2009
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 20 April 2009


Kata banyak orang, &#8220;Kalau mau sukses, harus produktif,&#8221; dan &#8220;kalau mau produktif, harus kerja keras.&#8221;
Kerja keras hampir selalu identik dengan kesibukan yang super padat, telepon genggam yang selalu berdering setiap saat, dan mengerjakan setumpuk dokumen yang tak kunjung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 14 April 2009<br />
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 20 April 2009<br />
</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-295" title="istock_000008737088xsmall" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000008737088xsmall.jpg" alt="istock_000008737088xsmall" width="425" height="282" /></p>
<p>Kata banyak orang, &#8220;Kalau mau sukses, harus produktif,&#8221; dan &#8220;kalau mau produktif, harus kerja keras.&#8221;</p>
<p>Kerja keras hampir selalu identik dengan kesibukan yang super padat, telepon genggam yang selalu berdering setiap saat, dan mengerjakan setumpuk dokumen yang tak kunjung selesai. Benarkah demikian?</p>
<p>Saya melihat bahwa ada perbedaan antara SIBUK dengan PRODUKTIF. Seseorang yang sibuk biasanya dianggap sebagai pekerja yang produktif. Padahal, kalau kita jeli melihat, seseorang bisa saja sangat sibuk, namun tidak produktif.  Di mana bedanya?</p>
<p>Bagi saya, PRODUKTIF adalah ketika kita mengerjakan sesuatu yang menciptakan nilai (value).  Nilai di sini bisa berupa manfaat, uang, makna, dan hasil positif lainnya. Sementara SIBUK akan selalu menghabiskan waktu, tenaga, dan upaya,  namun tidak selalu menciptakan nilai, makna, manfaat, ataupun uang.</p>
<p><span id="more-286"></span></p>
<h3><strong>3 Sumber Daya Yang Tidak Sama Dihargai</strong></h3>
<p>Kita sebenarnya punya 3 sumber daya yang berharga untuk menunjang hidup kita: (1) uang, (2) waktu luang, dan (3) kebebasan.</p>
<p>Saat ini kita cenderung hidup dalam masa di mana uang dianggap sebagai sumber daya yang paling utama dan paling diperhatikan sebagai pusat motivasi untuk kita bekerja. Pada saat yang sama, kita cenderung tidak menghargai waktu luang dan kebebasan dengan nilai yang sama utamanya dengan uang.  Ketika seseorang meminta waktu kita, misalnya, tentu kita jauh lebih mudah mengabulkan permintaan tersebut dibanding seandainya seseorang meminta uang kita.</p>
<p>Kalau kita memulai kesadaran tentang berharganya ketiga sumber daya ini, maka kita bisa juga merintis pola hidup dan bekerja yang baru. Dan, lebih menyenangkan.</p>
<p>Saya menyebutnya sebagai: PRODUKTIF tanpa SIBUK.</p>
<h3><strong>Sistem Produktivitas Pribadi</strong></h3>
<p>Tony Buzan, seorang pakar tentang otak, kecerdasan, dan kreativitas, pernah mengajukan pertanyaan yang menarik, yang cukup menggugah saya untuk meragukan efektivitas pendidikan formal: &#8220;Seandainya Anda adalah seorang Dewa Pendidikan, yang berkuasa atas bagaimana sekolah-sekolah menyusun kurikulumnya.  Mana yang akan diajarkan terlebih dahulu? A. Berbagai pelajaran sekolah yang penting bagi kehidupan, seperti matematika, ekonomi, dll, atau B. Bagaimana cara belajar dan menggunakan otak kita agar mampu menyerap berbagai proses belajar?&#8221;</p>
<p>Bagi saya secara logis, jawaban yang benar adalah B dahulu baru A.  Namun Tony Buzan juga bilang bahwa sebagian besar kurikulum pendidikan formal di dunia, tidak terlebih dahulu mengajarkan cara menggunakan perangkat keras <em>(hardware)</em> utama kita yaitu otak, malah cenderung langsung memberikan berbagai pelajaran, dari mulai yang bersifat hafalan hingga yang menggunakan logika.</p>
<p>Saya setuju dengan pendekatan bahwa kita perlu belajar bagaimana cara belajar dahulu, sebelum kita belajar tentang berbagai mata pelajaran.</p>
<p>Demikian pula dalam bekerja, bila yang dituju adalah efektivitas, efisiensi dan produktivitas, maka penting untuk mempelajari dahulu bagaimana cara dan sistem bekerja yang baik, sebelum mempelajari bidang pekerjaan kita sesuai deskripsi kerjanya. Untuk itu, saya pun lantas mengumpulkan berbagai tips dan pengalaman dari berbagai pakar produktivitas, dan saya bereksperimen dengan berbagai sistem bekerja.</p>
<p>Terus terang, sebagian metode terasa terlalu rumit.  Saya suka sistem yang sederhana tapi ampuh.  Dan dari pengalaman tersebut, berikut saya sajikan beberapa hal yang saya praktekkan, dan mampu melesatkan produktivitas saya. Tanpa saya menjadi super sibuk.</p>
<h3><strong>Keampuhan Tulis Tangan</strong></h3>
<p>Di tengah era serba teknologi ini, saya mengalami bahwa ternyata kembali memanfaatkan menulis tangan membantu saya untuk memisahkan berbagai distraksi elektronik, dan justru bisa memfokuskan energi dan perhatian lebih baik.</p>
<p>Sebutlah sistem ini sebagai &#8220;sistem pena dan notes&#8221;.  Bilamana Anda akan menggunakan sistem ini, pena dan notes tersebut akan digunakan untuk 3 buah kegiatan:</p>
<p><strong>1. Menangkap Ide</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Bawalah pena dan notes ini kemana pun Anda pergi, setiap saat.  Berbagai ide cemerlang serta bermacam hal penting yang sering terlupakan, biasanya muncul di pikiran secara tak terduga, sekilas, dan sepintas.  Dengan ini, Anda bisa menangkapnya dengan segera dan tidak harus mengandalkan otak untuk mengingat-ingatnya kembali.</p>
<p><strong>2. Membuat Daftar Tugas &#8211; Lengkap</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Segera ketika tiba di rumah/kantor, pindahkan berbagai tugas dan ide yang perlu Anda tindaklanjuti ke sebuah daftar besar, katakanlah namanya &#8220;Daftar Tugas &#8211; Lengkap&#8221;. <em>PERINGATAN</em>: jangan sekali-kali bekerja langsung berdasarkan daftar ini kalau Anda tidak ingin terjebak jadi &#8220;Produktif Super Sibuk&#8221;.</p>
<p><strong>3. Membuat Daftar Tugas &#8211; Harian</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Setiap hari, tuliskan TUGAS TERPENTING hari ini.  Cukup 1-3 tugas saja yang Anda ambil dari Daftar Tugas &#8211; Lengkap.  Daftar baru yang berisi 3 TT (Tugas Terpenting) ini kita sebut &#8220;Daftar Tugas &#8211; Harian&#8221;.  Bagaimana menentukan mana 1-3 Tugas Terpenting? Pilih berdasarkan mana yang paling mempengaruhi produktivitas, kepuasan hati, dan  kebahagiaan Anda secara signifikan.   Bila dalam satu hari Anda berhasil menyelesaikan 1-3 tugas ini, tentu waktu luang sisanya bisa Anda gunakan untuk menikmati hidup, atau melanjutkan tugas terpenting selanjutnya yang ada dalam Daftar Tugas &#8211; Lengkap.</p>
<h3><strong>Penting vs. Tidak Penting</strong></h3>
<ul>
<li><em><strong>Dahulukan di Awal Hari</strong></em> &#8211; Setiap hari, dahulukan awal hari Anda untuk mengerjakan 1-3 Tugas Terpenting yang ada di dalam Daftar Tugas &#8211; Harian Anda.  Sisihkan waktu 30 menit hingga 2 jam di awal hari, untuk menyelesaikan ini terlebih dahulu sebelum melakukan yang lain.</li>
<li><em><strong>Distraksi</strong></em> &#8211; Matikan berbagai pengalih perhatian.  Salah satu tip paling produktif bagi saya adalah: <em>putuskan</em> sambungan Anda ke internet bila sedang bekerja.  Hanya sambungkan diri bila memang sedang perlu memakainya.  Percayalah, godaan terlalu kuat dari bawah sadar akan menyebabkan kebocoran efisiensi yang luar biasa.   Matikan dahulu internet, e-mail, facebook, chat, browser, dan koneksi Blackberry Anda saat mengerjakan Daftar Tugas &#8211; Harian.</li>
<li><em><strong>Meeting</strong></em> &#8211; Sebisa mungkin, hindari rapat dan pertemuan yang tidak perlu.  Begitu banyak waktu terbuang dalam berbagai rapat yang tidak produktif.  Bila mungkin, koordinasikan pekerjaan Anda via e-mail dan telepon.  Bila harus <em>meeting</em>, sebelumnya agenda rapat sudah harus diterima semua pihak, dan pastikan ada rencana tindak lanjut yang jelas bagi setiap pihak.</li>
<li><em><strong>Delegasi</strong></em> &#8211; lihat kembali Daftar Tugas &#8211; Lengkap Anda, dan delegasikan berbagai hal yang bisa dipercayai kepada orang lain agar Anda lebih mampu mengelola waktu dan energi Anda.</li>
<li><strong><em>Otomatisasi</em></strong> &#8211; gunakan voicemail, website, blog untuk menampilkan informasi yang cenderung berulang dalam profesi Anda.  Sebagai contoh, saya tidak pernah lagi memberikan penjelasan tentang terapi Penyembuhan Holistik serta bagaimana caranya membuat janji terapi, karena semua informasi serta prosedur pendaftaran pasien/klien sudah lengkap tersedia di website.  Mudah, kan?  Coba pikirkan ide yang serupa dalam profesi Anda masing-masing</li>
</ul>
<h3><strong>Menyeimbangkan Kerja &amp; Bermain</strong></h3>
<ul>
<li><em><strong>Mencontreng</strong></em> &#8211; setiap tugas yang Anda selesaikan dalam daftar, langsung bubuhkan tanda contreng di sebelahnya.  Ini akan memperkuat rasa produktif dalam diri sepanjang hari, dan juga di akhir hari ketika Anda mengingat kembali hari Anda.</li>
<li><em><strong>Formula 30/10</strong></em> &#8211; ini sangat berguna bagi saya pribadi.  Saya setel <em>timer</em> di komputer saya sehingga saya bekerja dengan fokus penuh selama 30 menit, setelah itu saya berikan diri saya hadiah 10 menit (untuk bermain internet, browsing, cek email, meditasi, baca buku, dll).</li>
<li><em><strong>Waktu Khusus</strong></em> &#8211; Anda tidak selalu harus terhubung ke internet 24 jam, kan? Memang bagi kita yang memang hobi, itu adalah ide yang menyenangkan. Namun itu jugalah salah satu sumber kebocoran produktivitas.  Anda bisa jadwalkan waktu-waktu tertentu sepanjang hari di mana Anda memang berkutat dengan e-mail, YM, facebook, browser, dll.</li>
<li><strong><em>Kosongkan Inbox dan Istirahatkan Pikiran</em></strong> &#8211; Demi kesehatan mental dan komputer Anda, setiap saat kosongkan <em>inbox </em>e-mail Anda dengan <em>folder </em>terpisah antara (1) Hapus, (2) Langsung Reply, (3) Arsip, dan (4) Follow Up. Demi kesehatan lahir batin Anda, luangkan waktu untuk melatih 7 jenis meditasi di tempat kerja yang sudah kita bahas sebelumnya <a title="Meditasi untuk Produktivitas" href="http://www.rezagunawan.com/?p=271" target="_blank">di sini</a> agar Anda merawat energi dan keselarasan diri untuk tetap kreatif dan produktif.</li>
</ul>
<h3><strong>Pengaruh Kepribadian dan Kebiasaan</strong></h3>
<p>Dalam kehidupan, kita menemukan berbagai pola perilaku kerja yang dekat sekali dengan kepribadian manusia yang bersangkutan.</p>
<p>Mereka yang hidup serba terencana, detail, dan menulis segalanya, biasanya sangat produktif, tetapi juga sangat sibuk. Di satu sisi mereka menghasilkan banyak uang, tetapi di sisi lain sangat kekurangan waktu luang dan kebebasan.</p>
<p>Mereka yang hidup serba mengalir, tanpa rencana, dan tak menulis tugas terpentingnya, biasanya sangat menikmati hidup. Mereka tidak sibuk karena punya banyak waktu luang dan kebebasan, tetapi tidak jarang menjadi kurang produktif dalam menciptakan nilai, nafkah, dan makna hidup.</p>
<p>Bagi saya pribadi, sistem ini memberikan keseimbangan antara kebutuhan saya untuk menghasilkan uang, waktu luang, dan kebebasan.  Sistem yang tetap produktif, tanpa harus jadi super sibuk.</p>
<p>Tentunya saran-saran di sini tidak selalu sesuai dengan setiap profesi dan bidang pekerjaan.  Saya bukan penganut perubahan besar dan ekstrem.  Bagaimana kalau Anda memulai dulu dengan satu ide yang menarik bagi Anda, dan dengan setia menggunakannya selama satu bulan, lalu menambah satu ide lagi di bulan berikutnya?</p>
<p>Semua ini bisa Anda aplikasikan tentu bila Anda punya semangat yang mendasari profesi dan pekerjaan Anda.  Menemukan cinta terhadap pekerjaan Anda adalah bahan bakar yang esensial untuk bergerak menuju &#8220;Produktif tanpa Sibuk&#8221;.</p>
<h3><strong>Menghargai Produktivitas, Bukan Kesibukan</strong></h3>
<p>Saya teringat bagaimana di masyarakat, produktivitas dan kesuksesan seseorang sering sekali dinilai berdasarkan seberapa sibuk dia bekerja.</p>
<p>Saya mendambakan, demi kewarasan dan kesehatan kita bersama, kita bisa melonggarkan apresiasi berlebih terhadap kesibukan dan mulai lebih memperhatikan produktivitas serta keselarasan hidup.</p>
<p>Maukah Anda membantu saya merintis kesadaran ini, cukup dengan memulainya pada kehidupan Anda sendiri?</p>
<p>Selamat berlatih!</p>
<p><em>Terimakasih telah menikmati tulisan ini.  Bila Anda menyukainya, silakan berbagi dengan para sahabat &amp; keluarga Anda, dengan menyebutkan sumbernya di <strong>rezagunawan.com</strong>. Anda pun bisa langsung mengetahui berita terbaru tentang tulisan &amp; kegiatan pelatihan dengan mengikuti saya di <a title="Reza Gunawan @ Twitter" href="http://twitter.com/rezagunawan" target="_blank">Twitter</a>. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/produktif-tanpa-sibuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Hanya Sibuk Mengerjakan Sesuatu, Duduk Diamlah!</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 10:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>
		<category><![CDATA[Pagi Jakarta - OChannel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 7 April 2009
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 16 April 2009

Kita memang hidup di zaman serba cepat dan serba rumit.
Bagaikan pemain sirkus yang bisa melemparkan 15 piring sekaligus, kita selalu tergesa untuk memastikan bahwa semua hal yang menjadi tanggung jawab kita berada dalam keadaan sempurna, atau minimal tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC @ 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 7 April 2009<br />
Siaran Pagi Jakarta @ OChannel &#8211; 16 April 2009</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-273" title="istock_000008470981xsmall" src="http://www.rezagunawan.com/wp-content/uploads/2009/04/istock_000008470981xsmall.jpg" alt="istock_000008470981xsmall" width="425" height="282" /></p>
<p>Kita memang hidup di zaman serba cepat dan serba rumit.</p>
<p>Bagaikan pemain sirkus yang bisa melemparkan 15 piring sekaligus, kita selalu tergesa untuk memastikan bahwa semua hal yang menjadi tanggung jawab kita berada dalam keadaan sempurna, atau minimal tidak bisa dipersalahkan kekurangannya.</p>
<p>Dari mulai <em>deadline</em> yang terlalu sempit, target yang terlalu tinggi, <em>workload</em> yang terlalu banyak, kecepatan industri memang selalu menuntut kita untuk selalu berada di paling depan. <em>Multi-tasking</em> (kemampuan mengerjakan beberapa hal sekaligus), <em>well-connected network</em> (jaringan kerja dan pertemanan yang kuat), serta <em>result-oriented attitude</em> (sikap berorientasi pada hasil), menjadi ciri yang dibanggakan, dicari, dan ditempa dalam kebanyakan dunia kerja.</p>
<p>Haruskah kita memaksakan diri untuk berpacu lebih cepat, dan bekerja semakin giat?</p>
<p><span id="more-271"></span></p>
<h3><strong>Stres adalah Cara Kita Beradaptasi</strong></h3>
<p>Tentunya untuk bisa memenuhi semua tuntutan tersebut pada tingkat individu, dibutuhkan perangkat yang memadai, selaras, dan optimal.  Namun sebenarnya secara alami kita tidak dirancang untuk hidup dan bekerja dengan ritme serba cepat dan serba rumit setiap saat.  Ini menyebabkan terjadinya adaptasi pada sistem fisik dan psikis kita.</p>
<p>Adaptasi tersebut terjadi melalui sebuah mekanisme: STRES.</p>
<p>Stres, yang tidak terkelola, harus dibayar dengan nilai yang tidak sedikit.  Kesehatan, sebagaimana yang sudah kita bahas di tulisan-tulisan sebelumnya, hanyalah sekelumit dari efek stres yang tidak sembuh.</p>
<h3><strong>Semakin Memacu Diri Agar Mengurangi Stres?</strong></h3>
<p>Sebagian orang berkata, &#8220;Ah, stres itu kan wajar dan ada dalam setiap pekerjaan. Nanti juga kalau target sudah tercapai, stres akan hilang dengan sendirinya.&#8221; Benarkah demikian?</p>
<p>Dalam pengamatan saya, stres tidak otomatis hilang ketika kita mencapai target dan keinginan, melainkan bisa berputar dan membesar bagaikan lingkaran setan-siklus tak berujung yang sulit dipecahkan.</p>
<ul>
<li> Untuk hasil dan keinginan yang berhasil dicapai:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Banyak target → jadi banyak ketegangan → jadi banyak berusaha → hasil jadi TAMBAH banyak → target DITINGKATKAN lagi → maka terciptalah siklus yang lebih besar: target LEBIH banyak → LEBIH banyak ketegangan → LEBIH banyak berusaha → dan siklus yang lebih besar kembali berulang.</p>
<ul>
<li> Untuk hasil dan keinginan yang tidak berhasil dicapai:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Banyak target → banyak tegang → banyak usaha → belum berhasil → karena belum berhasil, usaha pun DITINGKATKAN lagi → ketegangan MENINGKAT → belum berhasil juga → dan siklus yang lebih besar kembali tercipta: usaha TAMBAH ditingkatkan → ketegangan TAMBAH meningkat → dan seterusnya.</p>
<p>Bisakah Anda menangkap ironinya? Pada kedua kasus, terlepas dari hasil tercapai atau tidak, pada umumnya kita akan terus-menerus berpacu agar lebih cepat, lebih sukses, lebih efisien, lebih baik.  Namun pacuan kronis ini membuat stres kita semakin bertumpuk.</p>
<h3><strong>Dampak Akhir: Produktivitas Jangka Panjang</strong></h3>
<p>Salah satu dampak stres adalah menurunnya produktivitas kerja dan pribadi.  Kita tahu bahwa produktivitas tergantung dari tingkat energi, semangat, kreativitas, dan efektivitas yang bisa kita lakukan dalam setiap pekerjaan.</p>
<p>Ketika stres dibiarkan bertumpuk dan berlarut-larut, semua hal yang menunjang produktivitas tersebut akan mulai berderit, aus, bahkan hilang. Dan sekali lagi, harga yang kita harus bayar untuk adaptasi tersebut-mulai dari stres, berbagai ketidakbahagiaan, tidak sehatnya relasi pribadi dan keluarga-sangatlah mahal.</p>
<p>Efek jangka panjang dari stres yang berkelanjutan bisa secara langsung mempengaruhi produktivitas dalam bentuk sebagai berikut: hilangnya semangat kerja, rasa lesu, jenuh, dorongan kuat untuk pindah / meninggalkan pekerjaan, selalu mencari-cari alasan mengapa tempat kerja sekarang tidak sesuai, dsb.</p>
<p>Belum lagi absensi kerja yang bisa meningkat karena saraf sudah terlalu jenuh, atau daya tahan tubuh merosot drastis sehingga jatuh sakit.</p>
<p>Lantas bagaimana kita bisa memelihara diri sekaligus meningkatkan produktivitas?</p>
<p>Menurut saya, kuncinya adalah mengelola energi kita dengan selaras. Memberikan porsi perhatian untuk merawat <em>hardware</em> (tubuh fisik) serta <em>software</em> kita (pikiran, rasa dan spirit) sehingga energi diri bisa tertata dengan selaras.</p>
<h3><strong>Jalan Praktis Melalui Keheningan</strong></h3>
<p>Meditasi adalah salah satu hal mendasar yang bisa dilakukan untuk menciptakan keselarasan, mengelola dan memulihkan energi, serta mendorong semangat kerja yang bertumpu pada kekinian. Bukan pada harapan atau ketakutan.</p>
<p>Kini banyak perusahaan besar berskala internasional telah menggunakan pelatihan meditasi yang non-agamis untuk manfaat relaksasi, kesehatan, dan produktivitas.</p>
<p>Berbagai studi ilmiah tentang manfaat meditasi, serta pengalaman para pelaku latihan meditasi, melaporkan manfaat-manfaat sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Otak menjadi rileks dan seimbang aktivitasnya.</li>
<li>Memulihkan keseimbangan saraf dan kesegaran tubuh.</li>
<li>Memperkuat daya tahan tubuh, sehingga lebih jarang sakit.</li>
<li>Bentuk melatih konsentrasi yang bersifat RILEKS, bukan FOKUS.</li>
<li>Meredakan celoteh pikiran, membuat batin bekerja lebih efisien.</li>
<li>Melatih kepekaan intuitif, membantu pengambilan keputusan.</li>
<li>Melegakan hati dan melepas stres, sehingga komunikasi dan relasi lancar.</li>
<li>Membantu kita menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, kesalahan lebih sedikit.</li>
<li>Solusi mandiri, murah, dan sehat untuk meningkatkan kinerja perusahaan</li>
</ul>
<h3><strong>7 Cara Hening yang Merawat Produktivitas Diri</strong></h3>
<p>Berikut Anda bisa mencoba 7 buah latihan yang bersifat meditatif, non-agamis, dan praktis, untuk membantu mengasah produktivitas Anda secara pribadi maupun profesi:</p>
<ul>
<li><strong>Meditasi MEREGANGKAN TUBUH</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Tahu caranya ‘ngulet&#8217; (istilah nasional: menggeliatkan badan)? Hentikan sejenak kesibukan Anda.  Ambil posisi duduk, atau berbaring bila mau, dan regangkan tubuh Anda, dengan sangat perlahan.  Benar-benar perhatikan rasa setiap otot dan sendi tubuh Anda.  Tidak ada gerakan yang benar atau salah.  Nikmati sepenuhnya selama beberapa menit.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Menggerakkan tubuh secara aktif dan penuh sadar, membantu kita memperlambat celoteh pikiran dan melepas ketegangan yang telanjur bertumpuk.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi TUTUP MATA SEJENAK</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Hentikan sejenak pekerjaan, tutup mata saja.  Istirahatkan saraf mata dan otak mata.  Sebagian ahli berpendapat bahwa sekitar 70% komunikasi terjadi secara visual, oleh karena itu sejenak memejamkan mata akan membantu fungsi visual kita beristirahat.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Memejamkan mata juga memicu respons rileks karena kita terbiasa melakukannya saat akan beristirahat atau tidur.  Ini juga bermanfaat untuk membuat kita lebih peka akan dunia pikiran dan perasaan dalam diri kita, ketimbang selalu memperhatikan dunia eksternal / sekitar kita.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi BERNAPAS RILEKS</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Berhentilah sejenak untuk bernapas dengan sadar dan sengaja.  Anda sedang menekan tombol reset pada sistem raga dan rasa Anda.  Cukup 3-9 kali bernapas dengan rileks, lambat, dan penuh perhatian.  Anda juga bisa melakukannya setelah meregangkan tubuh, sambil menutup mata.</p>
<ul>
<li><strong>Meditasi PERHATIKAN PIKIRAN &amp; RASA DI SAAT INI</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Dari waktu ke waktu, cobalah berhenti sejenak dan perhatikan saja segala pikiran dan rasa yang datang dan pergi pada saat ini.  Tidak perlu dianalisa, tidak perlu dinilai, melainkan sekadar mengamati saja: &#8220;Oh&#8230; ada pikiran ini, pikiran itu, rasa ini, rasa itu, oh&#8230; sekarang hilang, oh&#8230; sekarang ada lagi yang baru, dst.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Memperhatikan segala pikiran dan rasa dalam diri Anda akan memperkuat kesadaran sini-kini, sehingga kita tidak mudah terjebak dalam berbagai ketakutan, kekhawatiran, dan harapan.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi KERTAS POLOS</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Ketika sedang kebanjiran ide, atau baru memulai hari kerja Anda, gudang pikiran penuh bertumpuk dengan hal yang harus dilakukan; ide kreatif, urusan rumah tangga yang perlu dibereskan, dll.  Ambil saja selembar kertas polos dan tuliskan semua isi gudang pikiran Anda, termasuk berbagai lamunan, kekhawatiran, dan isi hati Anda.  Setelah 5-10 menit (dan mungkin saja satu lembar kertas masih perlu ditambah lagi untuk menampung semuanya), barulah duduk diam sejenak. Nikmati hening sesaat.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Anda akan menemukan kelapangan ruang pikir ketika isinya dituangkan secara tertulis ketimbang sekadar ditampung di otak.  Ekstra ruang lapang ini membuat Anda lebih kreatif dan produktif.</em></p>
<ul>
<li><strong>Meditasi BOBO-SIANG</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Khususnya setelah jam makan siang, umumnya kita cenderung mengalami perubahan bioritme tubuh yang menyebabkan rasa lesu atau kantuk. Beberapa perusahaan di Jepang bahkan membudayakan tidur siang di kursi kerja masing-masing. Dan ternyata, tidur siang singkat antara 10-30 menit sangat membantu memulihkan tubuh kembali bugar dan otak kembali segar.  Ingat: jangan tidur siang lebih dari 45 menit, agar tidak mengganggu keteraturan istirahat malam dan jam biologis Anda.</p>
<ul>
<li><strong>Meditasi BERJALAN</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 60px;">Cobalah melatih untuk berjalan dengan penuh perhatian. Rasakan langkah demi langkah. Rasakan dan perhatikan satu demi satu sentuhan telapak kaki Anda di lantai.  Awalnya akan terasa janggal karena belum terbiasa, dan mungkin jadi terasa sangat lambat karena perlu disadari penuh, tapi lama-kelamaan Anda akan bisa menikmatinya.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Latihan ini melepaskan emosi yang tersangkut, menyeimbangkan aktivitas otak kiri dan kanan, mengajarkan kita untuk menghayati proses, serta melonggarkan obsesi kita terhadap hasil akhir. Meditasi sederhana ini dapat mengurangi kecenderungan bertumpuknya stres.</em></p>
<p>Selamat berlatih keheningan. Temukan dan alami bagaimana produktivitas bisa diasah tanpa harus sibuk dan tergesa-gesa.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><em>Ada pepatah yang menyebutkan &#8220;Don&#8217;t just sit there, do something!&#8221; (Jangan hanya duduk diam saja, kerjakanlah sesuatu!).  Barangkali dalam konteks dunia serba cepat ini, yang kita butuhkan adalah &#8220;Don&#8217;t just do something, sit there!&#8221; (Jangan hanya sibuk mengerjakan sesuatu, duduk diamlah sejenak!)</em></p>
<p><em>- Bila Anda menyukai artikel ini, silakan berbagi dengan para sahabat dan keluarga Anda, dengan menyebutkan sumbernya di rezagunawan.com. Terimakasih -</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/jangan-hanya-sibuk-mengerjakan-sesuatu-duduk-diamlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stres? Jangan Berusaha Jadi Positif</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/stres-jangan-berusaha-jadi-positif/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/stres-jangan-berusaha-jadi-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 18:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[
Stres adalah faktor #1 yang paling berdampak negatif pada kesehatan dan kualitas hidup kita. Umumnya hanya muncul di 3 bidang kehidupan: (1) penampilan dan kesehatan tubuh, (2) uang, karier, dan sukses, serta (3) cinta, keluarga dan relasi pribadi.  Dan berdasarkan 3 bidang tersebut, kita bisa mengamati bahwa (hampir) semua orang mengalami stres, baik secara sadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-212" title="istock_000003461449xsmall" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/04/istock_000003461449xsmall.jpg" alt="istock_000003461449xsmall" width="412" height="291" /></p>
<p>Stres adalah faktor #1 yang paling berdampak negatif pada kesehatan dan kualitas hidup kita. Umumnya hanya muncul di 3 bidang kehidupan: (1) penampilan dan kesehatan tubuh, (2) uang, karier, dan sukses, serta (3) cinta, keluarga dan relasi pribadi.  Dan berdasarkan 3 bidang tersebut, kita bisa mengamati bahwa (hampir) semua orang mengalami stres, baik secara sadar maupun tidak sadar.</p>
<p>Meskipun kita tidak bisa hidup steril dan bebas sepenuhnya dari stres, kuncinya adalah bagaimana mengelola stres ini agar dampak negatifnya minimal, atau bahkan bagaimana agar energi di balik stres ini bisa diolah menjadi semangat, kebijakan hidup dan kesadaran yang jernih.</p>
<p>Apa yang kita bisa lakukan untuk mencapai ini?<em> Positive thinking? Positive feeling? Being optimistic?</em> Sejujurnya, saya tidak bisa merekomendasikan hal-hal tersebut.</p>
<p><span id="more-211"></span><strong></strong></p>
<p><strong>Banyaknya Saran Populer yang Tidak Realistis</strong></p>
<p>Saran untuk berusaha menjadi positif adalah sesuatu yang selama ini diajarkan oleh psikologi populer, pergaulan sosial, strategi bisnis dan manajemen, serta budaya dan tradisi kita.  Namun bagi saya, ini bukanlah sesuatu yang realistis, bahkan bisa membuat stres tambahan.</p>
<p>Dalam mencari solusi stres &amp; masalah, setiap bentuk upaya yang tidak realistis akan memberikan tambahan stres yang sebenarnya tidak perlu. Kita butuh solusi stres yang realistis dan efektif.  Berikut beberapa contoh solusi stres yang kurang realistis:</p>
<p><strong>1. Saran populer “Jangan stres dong”, atau “Anda tidak boleh stres”. </strong><br />
Mengapa ini tidak realistis? Hampir setiap orang mengalami stres, ada yang ringan maupun berat, ada yang sebentar dan juga menahun.  Saran populer seperti ini berpotensi melipatkangandakan stres, karena di atas stres tentang masalah asli yang sedang dihadapi, ada stres tambahan ketika berpikir bahwa ‘seharusnya saya tidak boleh stres’.</p>
<ul>
<li><strong>SADARI: </strong>stres dalam hidup pasti ada, terjadi pada setiap orang, dan sangatlah boleh dan wajar ketika Anda mengalaminya. Ketika kita mengerti dan bisa menerima hal tersebut, kita tidak lagi perlu memikul ‘beban ekstra’ tersebut, dan lebih punya energi untuk menghadapi masalah kita yang sebenarnya.</li>
</ul>
<p><strong>2. Saran populer “Anda harus memilih berpikir &amp; berperasaan positif”. </strong><br />
Ide dan konsep yang cukup indah.  Coba pilih sebuah pikiran atau perasaan positif, misalnya “Saya sehat sekali”.  Sadari sepenuhnya, fokus terus pada pikiran tersebut, dan tahan jangan sampai pikiran tersebut berubah.  Bukankah hanya sekian detik Anda bisa menahan pikiran positif tersebut sebelum perhatian Anda beralih pada topik lainnya, atau bahkan muncul pikiran yang justru kebalikannya, seperti “Ah, masa ‘sehat sekali’? Bukannya baru kemarin sempat sakit juga?”  Lakukan yang sama terhadap sebuah pikiran negatif, dan amati dengan jeli bahwa dalam beberapa detik, pikiran tersebut pun berganti.  Intinya di sini adalah, meskipun dari waktu ke waktu kita bisa memilih buah pikiran apa yang mau kita hadirkan dalam perhatian, sifat dasar pikiran yang memang tidak bisa diam, ditambah dengan segala ‘sampah’ bawah sadar yang tersimpan dalam diri, tidak akan mengizinkan kita untuk mempertahankan pikiran yang kita pilih tersebut terus menerus.</p>
<ul>
<li><strong>SADARI: </strong>bahwa kita tidak punya KENDALI PENUH atas apa yang kita pikirkan maupun rasakan dari waktu ke waktu.  Setiap hal yang kita pikirkan, baik positif maupun negatif, baik yang sengaja kita pilih maupun yang tidak kita pilih, akan terus datang. Silih berganti. Selalu berubah. Pikiran negatif kita tidak mungkin bisa bertahan selamanya, dan pikiran positif kita juga tak pernah kekal. Kalau kita bisa mengerti bahwa pikiran dan perasaan kita senantiasa berubah, kita tidak lagi terlalu takut dengan yang negatif, dan tidak lagi terlalu berharap untuk positif selamanya.  Ini akan memberikan kita suatu kearifan untuk lebih rileks dan tenang menghadapi perubahan hidup.</li>
</ul>
<p><strong>3. Saran populer: “Kalau Anda positif / optimis ketika sedang bermasalah, pasti hasilnya akan positif, dan kalau Anda negatif / pesimis dalam menghadapi masalah, maka pasti hasilnya akan negatif juga.”</strong><br />
Saya melakukan survei singkat kepada ribuan orang dengan 4 buah pertanyaan tentang pengalaman hidup mereka: (1) Apakah Anda pernah berpikir positif dan mendapat hasil yang positif? (2) Apakah Anda pernah berpikir negatif dan mendapat hasil yang negatif?  Sesuai dugaan saya, sejalan dengan saran populer di atas, semua peserta menjawab YA.  Selanjutnya saya ajukan dua lagi pertanyaan: (3) Apakah Anda pernah berpikir positif tetapi kok hasilnya negatif?, dan (4) Apakah Anda pernah berpikir negatif dan kok hasilnya positif juga? Yang cukup mengejutkan, SEMUA peserta juga menjawab YA pada kedua pertanyaan terakhir tersebut.  Jika kita semua mengalami langsung keempat fenomena tersebut dalam hidup, maka kesimpulannya adalah berpikir positif BELUM TENTU PASTI hasilnya selalu positif, dan berpikir negatif BELUM TENTU PASTI hasilnya juga negatif.</p>
<ul>
<li><strong>SADARI: </strong>hidup ini indah karena hidup akan selalu berubah, menyimpan berbagai tanda tanya dan ketidakpastian.  Selain ada Hukum Tarik Menarik (law of attraction), masih ada juga Hukum Belum Tentu (law of uncertainty).  Ketika kita bisa rileks dan menghayati ini, kita tidak lagi perlu terbeban tentang HARUS positif dan TIDAK BOLEH negatif.  Kita lebih bisa mengalir dengan segala upaya yang kita jalani dan lebih bisa berserah tentang hasil akhirnya.</li>
</ul>
<p><strong>Dua Cara Sederhana Mengatasi Stres</strong><br />
Berdasarkan perenungan di atas, saya mengusulkan dua buah strategi praktis untuk mengatasi stres, beban hati dan pikiran negatif:</p>
<p><strong>1. Bernapas dengan sadar. </strong><br />
Berhentilah sejenak, dengan penuh perhatian, hiruplah napas dan rasakan penuh ke dalam diri.  Setelah itu, dengan penuh perhatian, embuskan dengan lepas.  Rasakan pikiran, perasaan, dan tubuh Anda.  Apakah menjadi lebih nyaman, lapang, dan tenang?  Lakukan lagi beberapa kali tanpa berupaya menjadi positif.  Bernapas saja dengan sadar, penuh perhatian.</p>
<ul>
<li>Cara kerja teknik ini sangat sederhana: ketika Anda bernapas dengan sadar dan sengaja, otomatis Anda memperlambat bahkan terkadang menghentikan celoteh pikiran yang biasanya begitu deras dan memenuhi kesadaran Anda.  Ketika pikiran mulai melambat dan rileks, perhatian Anda mulai lebih mengarah pada realitas di sini-kini, bukan pada masa lalu (kenangan, rasa sesal, trauma), dan bukan juga pada masa depan (kekuatiran, ketakutan dan antisipasi). Bernapas dengan sadar, jika dilakukan secara teratur, terutama di saat-saat sibuk penuh ketergesaan, akan membantu kita untuk mengembalikan kesadaran yang jernih.</li>
</ul>
<p><strong>2. Izinkan diri Anda memiliki rasa dan pikiran apapun</strong><br />
Biarkan dan izinkan diri untuk berpikir negatif ketika sedang mengalami pikiran negatif.  Biarkan dan izinkan diri untuk berpikir positif ketika sedang mengalami pikiran positif.  Ini artinya Anda memberikan izin untuk hidup secara alamiah, apa adanya.  Toh kita sudah mengerti, bahwa baik positif atau negatif, pikiran tersebut tidak mungkin awet selamanya, dan pada waktunya pasti akan berubah juga.</p>
<p>Ada sebuah prinsip yang yang begitu sederhana namun begitu signifikan tentang segala urusan hati.  Saya menyebutnya sebagai <strong>Prinsip Paradoks Rasa &amp; Pikiran</strong>, yaitu: “Apa pun pikiran dan rasa yang kita tolak, maka dia pun justru semakin awet”, dan “Apa pun pikiran dan rasa yang kita izinkan, justru dia akan semakin cepat tuntas.”</p>
<p>Bisa saja kita juga cukup kenal dengan prinsip ini.  Ketika seorang rekan baru saja mengalami musibah, atau putus cinta, kita terkadang sadar untuk memberikan mereka izin dan kesempatan untuk berduka.  Ini sangatlah sehat, karena dengan izin untuk negatif tersebutlah justru segala pikiran dan rasa negatif menjadi semakin tuntas.  Sementara ketika mereka tidak mengizinkan diri mereka sendiri untuk merasa negatif, karena alasan “saya harus kuat”, atau “saya takut dianggap lemah dan cengeng”, justru negativitas yang sudah ada tersebut menjadi lebih awet dan semakin lama proses penyembuhannya.</p>
<ul>
<li><em><strong>Obat dari stres dan pikiran negatif, bukanlah berpikir positif, melainkan: (1) mengistirahatkan pikiran yang terlalu banyak berpikir melebihi porsi yang dibutuhkan, dan (2) mengizinkan pikiran dan rasa untuk hadir apa adanya, sepenuh hati.</strong></em></li>
</ul>
<p>Stres memang bagian alami dari hidup.  Kalau kita mau memahaminya secara lebih jernih, kita bisa bergerak menuju mengizinkan hidup mengalir alami, apa adanya. Tentunya kita masih boleh melakukan upaya mengatasi masalah pada aspek yang memang di bawah kendali kita, namun diikuti dengan kesadaran untuk melepaskan aspek yang memang bukan di bawah kendali kita.  Dengan memahami ini, kita lebih mampu hidup selaras dengan alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/stres-jangan-berusaha-jadi-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sembuhkan Rasa, Selaraskan Raga</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/04/sembuhkan-rasa-selaraskan-raga/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/04/sembuhkan-rasa-selaraskan-raga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 15:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 24 Maret 2009

Kita cukup sering mendengar atau bahkan mengalami sendiri secuplik percakapan di kamar praktek dokter yang isinya: “Tidak ada yang ditemukan abnormal pada tubuh Anda, kemungkinan besar penyakit yang Anda alami ini bersumber pada pikiran, sebaiknya Anda menghindari stres dan banyak berdoa.”
Sebagai praktisi penyembuhan holistik, sudah tak terhitung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 24 Maret 2009</strong></p>
<p><img class="size-full wp-image-198 alignnone" title="humanchakrasystem-small6" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/04/humanchakrasystem-small6.jpg" alt="humanchakrasystem-small6" width="450" height="503" /></p>
<p>Kita cukup sering mendengar atau bahkan mengalami sendiri secuplik percakapan di kamar praktek dokter yang isinya: “Tidak ada yang ditemukan abnormal pada tubuh Anda, kemungkinan besar penyakit yang Anda alami ini bersumber pada pikiran, sebaiknya Anda menghindari stres dan banyak berdoa.”</p>
<p>Sebagai praktisi penyembuhan holistik, sudah tak terhitung betapa seringnya saya menemui kasus di mana masalah seorang klien secara fisik, bahkan pada penyakit yang konon tak berhubungan dengan stres atau pikiran, ternyata memiliki akar penyebab di pikiran dan perasaannya.</p>
<p>Pikiran Anda akan menentukan kondisi tubuh Anda.  Apa yang tersimpan dalam rasa akan terwujud dalam raga Anda.  Benarkah demikian? Adakah rahasia di balik hubungan antara rasa dengan raga yang masih perlu kita gali?  Bisakah pemahaman ini kita gunakan untuk menciptakan kesehatan dan kesejahteraan hidup yang lebih baik?<br />
<span id="more-181"></span><strong></strong></p>
<p><strong>Keping Petunjuk tentang Kaitan Rasa-Raga<br />
</strong>Dalam ilmu kedokteran medis, mekanisme tubuh dan pikiran kita dijelaskan dengan istilah PNEI, yaitu singkatan dari Psycho-Neuro-Endocrino-Immuno. Maksudnya adalah. ketika pikiran dan perasaan kita (psycho) mengalami beban / stres, maka seketika terjadi perubahan pada saraf dan otak (neuro). Saat itulah keseimbangan hormonal dari fungsi kelenjar tubuh (endocrino) juga bergeser, dan pada akhirnya bisa mempengaruhi tingkat kekebalan tubuh (immuno).</p>
<p>Marilah kita lihat beberapa informasi yang memberikan gambaran tentang betapa eratnya kaitan antara psikis dan fisik manusia:</p>
<ul>
<li><em>Centers for Disease Control and Prevention</em> (CDC), sebuah institusi kesehatan di Amerika Serikat memberikan indikasi konservatif bahwa sekitar 85 persen dari seluruh jenis penyakit memiliki elemen emosional, atau dengan kata lain berkaitan dengan faktor pikiran dan perasaan.</li>
<li>Seorang dokter dari Jerman bernama Geerd Hamer, yang melakukan penelitian selama lebih dari 30 tahun, menemukan bahwa setiap bentuk penyakit fisik selalu muncul akibat berbagai jenis peristiwa hidup yang traumatis sehingga menimbulkan perubahan pada otak, dan akhirnya menyebabkan perubahan pada organ tubuh yang menjadi sakit.  Dokter ini berhasil memetakan berbagai jenis konflik emosional dalam hidup, bagian otak mana yang terpengaruh, dan bagian tubuh mana yang kemudian sakit.  Berdasarkan ilmu yang dikembangkannya ini, sekitar 92 persen pasien kankernya selamat dan bertahan hidup.</li>
<li>Seorang pakar biologi sel, Bruce Lipton, yang telah melakukan riset tentang genetika dan juga mengajar di fakultas kedokteran selama lebih dari 20 tahun, menemukan bahwa kesehatan kita tidak dikendalikan oleh gen (DNA) kita, namun oleh persepsi dan keyakinan kita terhadap kehidupan.</li>
<li>Sebuah studi di tahun 1998, yaitu <em>Adverse Childhood Experiences (ACE) Study</em>, dilakukan untuk menganalisa pengaruh dari berbagai trauma masa kecil terhadap perubahan perilaku dan munculnya berbagai masalah kesehatan di usia dewasa.  Hasilnya menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara banyaknya trauma masa kecil dengan berbagai perilaku negatif, seperti kecanduan rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang, penyimpangan perilaku seksual, meningkatnya kecenderungan depresi dan bunuh diri.</li>
<li>Dalam studi ACE yang sama, kelompok responden yang cukup sering mengalamai trauma masa kecil juga berkorelasi kuat dengan berbagai penyakit yang paling berisiko menyebabkan kematian, seperti penyakit jantung, kanker, penyakit paru-paru kronis, penyakit liver, keretakan tulang, dll.</li>
</ul>
<p><strong>Mengenal Batin Sadar dan Bawah Sadar<br />
</strong>Kita semua memiliki batin sadar dan batin bawah sadar yang kita bisa kenali secara lebih saksama:</p>
<ul>
<li>Batin sadar, meliputi segala pikiran, perasaan dan perhatian yang BISA kita amati, perhatikan dan sadari.  Batin sadar mencakup hanya sekitar 1% dari keseluruhan batin kita.</li>
<li>Batin bawah sadar, meliputi segala pikiran dan perasaan yang TIDAK BISA kita perhatikan atau amati secara langsung. Dia tersimpan rapi dalam berbagai bentuk memori, kebiasaan, imajinasi yang terekam sempurna.  Batin bawah sadar Anda juga yang berfungsi menjalankan sebagian besar fungsi tubuh fisik Anda.  Batin bawah sadar mencakup sekitar 99% dari keseluruhan batin kita.</li>
</ul>
<p>Dengan perbandingan seperti di atas, barangkali kita hanya bisa mengetahui secara sadar sebanyak 1% dari stres, beban dan permasalahan kita, sementara 99% sisanya tersembunyi rapi di bawah sadar.</p>
<ul>
<li><strong><em>Masalahnya, 99% porsi batin bawah sadar jugalah yang mengendalikan tubuh fisik kita, sehingga ketika terdapat masalah kuat yang tersimpan di bawah sadar, dia berpotensi kuat untuk muncul sebagai permasalahan kesehatan secara fisik.</em></strong></li>
</ul>
<p>Anda baru saja menemukan sebuah rahasia sederhana tentang kaitan antara pikiran dan tubuh.  Belum sadar?  Coba baca lagi paragraf di atas.</p>
<p>Ketika kita hanya mampu menyadari apa yang ada di BATIN SADAR kita (1%), sebenarnya berbagai problem yang ada di bawah sadar juga membutuhkan perhatian kita.  Dan mengingat gudang bawah sadar tidak bisa diakses secara sengaja dan langsung, maka bawah sadar seringkali terpaksa ‘menciptakan’ masalah fisik (karena tubuh fisik dikendalikan bawah sadar).</p>
<ul>
<li><strong><em>Tujuan dari penyakit atau masalah fisik sebenarnya bukanlah semata untuk membuat kita menderita, namun untuk membantu kita SADAR bahwa ada masalah di bawah sadar yang perlu diperhatikan, disadari, disembuhkan.</em></strong></li>
</ul>
<p>Itulah sebabnya para ahli kejiwaan dan para ahli penyembuhan alamiah mengembangkan serangkaian teknik dan proses yang memungkinkan kita untuk membuka pintu menuju batin bawah sadar, semata-mata demi menyadari berbagai masalah yang terpendam di dalamnya sehingga dapat dirawat dan disembuhkan.  Banyak kasus penyembuhan fisik yang lazimnya dianggap “keajaiban” sebenarnya bertumpu pada prinsip sembuhnya masalah di bawah sadar yang akhirnya mengubah kondisi fisik.</p>
<p><strong>Meninjau Kembali Cara Merawat Hidup Secara Utuh</strong><br />
Kita cenderung lengah untuk menuai kembali kebijakan alamiah yang, meski bukan merupakan sesuatu yang baru dalam hidup kita, cenderung kita abaikan keampuhannya dalam merintis hidup sehat lahir batin, seperti:</p>
<ul>
<li>Nutrisi yang baik, dalam hal pemilihan gizi yang kita konsumsi maupun bagaimana cara menyantapnya (<em>mindful eating</em>).</li>
<li>Hidrasi yang baik, mengingat 70% dari tubuh kita terdiri dari air dan kita butuh air tidak hanya untuk menjaga fungsi tubuh fisik saja, namun juga untuk menjernihkan kesadaran dan melepaskan beban batin.</li>
<li>Olahraga yang baik, menggerakkan tubuh dengan penuh perhatian dan kesadaran sehingga raga dan rasa bersatu dalam ekspresi gerak.</li>
<li>Istirahat yang baik, di mana tidak saja tubuh yang memulihkan diri melainkan batin pun diistirahatkan sepenuhnya.</li>
<li>Mengelola keselarasan hati dan pikiran, belajar merintis rileks, lega, selaras dan bahagia.</li>
</ul>
<p>Dalam pengamatan saya, faktor keselarasan hati dan pikiran adalah yang paling sering kita lupakan sekaligus yang paling berpengaruh secara negatif terhadap kesehatan dan kebahagiaan.</p>
<p><strong>Belajar Menyelaraskan Diri Sendiri</strong><br />
Dalam memahami kaitan raga dan rasa, penting sekali kita menyadari bagaimana stres bisa berpengaruh begitu kuat pada kesehatan kita.<br />
Stres terkadang begitu pandai bersembunyi, dan kalaupun terlihat belum tentu mendapatkan perhatian dan perawatan segera.</p>
<p>Perhatian kita terlalu sibuk dengan target, ambisi, <em>deadline</em>, tanggung jawab, dan sederet celoteh pikiran tanpa henti, sehingga hampir selalu stres yang muncul akan berakhir menjadi tumpukan sampah dalam batin bawah sadar, dan belakangan berpotensi menjadi masalah fisik bila tidak segera ditangani.</p>
<p>Memang, bilamana kita ingin jalan pintas untuk mengatasi masalah fisik barangkali sekedar minum obat bisa saja membantu.  Namun bila kita paham bahwa akar dari banyak sekali masalah fisik ada di pikiran, di mana tidak ada satu obat pun bisa memperbaiki pikiran, maka kita juga perlu paham bahwa minum obat tidak selalu mengatasi masalah fisik hingga ke akarnya.</p>
<p>Ini sebabnya ketika merawat diri secara utuh, pengetahuan medis modern saja tidaklah cukup.  Saya lebih menyarankan kita belajar merawat diri secara alamiah dan mandiri.  Di berbagai ilmu penyembuhan alamiah yang sempat saya tekuni, ternyata kuncinya adalah bagaimana merawat keselarasan. Setiap saat.</p>
<p>Keselarasan antara tubuh, pikiran, perasaan dan jiwa bisa dirawat dengan pendekatan yang praktis dan sederhana.  Saya menyebutnya sebagai keterampilan <em>self healing</em>.  Dengan serangkaian latihan praktis yang mengombinasikan (1) napas, (2) gerak, (3) sentuhan, dan (4) keheningan, siapa pun juga – terlepas dari budaya dan agama apa pun yang dimilikinya – bisa belajar untuk hidup lebih ringan, sehat dan selaras.</p>
<p>Selamat berlatih mengenal diri, merawat diri, dan menyembuhkan diri secara alami!</p>
<p><em>Catatan: Informasi mengenai pelatihan self healing bisa dibaca juga dalam <a title="Pelatihan Self Healing" href="http://www.truenaturehealing.net/selfhealing.php" target="_blank">website True Nature Holistic Healing</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/04/sembuhkan-rasa-selaraskan-raga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tubuh Ideal berawal dari Citra Tubuh yang Sehat</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/03/tubuh-ideal-berawal-dari-citra-tubuh-yang-sehat/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/03/tubuh-ideal-berawal-dari-citra-tubuh-yang-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 17:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 17 Maret 2009


Saya punya pengamatan menarik sejak 2003. Situasi ini sering saya alami ketika bertemu dengan seorang teman baru wanita (dan sebagian pria) yang baru saja saya kenal. Bisakah Anda menebak 1 pertanyaan yang hampir selalu diajukan kepada saya, kurang dari semenit setelah mereka tahu bahwa saya adalah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 17 Maret 2009</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-160" title="istock_000008690317xsmall1" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/03/istock_000008690317xsmall1.jpg" alt="istock_000008690317xsmall1" width="473" height="254" /></p>
<p>Saya punya pengamatan menarik sejak 2003. Situasi ini sering saya alami ketika bertemu dengan seorang teman baru wanita (dan sebagian pria) yang baru saja saya kenal. Bisakah Anda menebak 1 pertanyaan yang hampir selalu diajukan kepada saya, kurang dari semenit setelah mereka tahu bahwa saya adalah seorang akupunkturis?</p>
<p>“Bisakah akupunktur membantu saya merampingkan tubuh, mengurangi berat badan, dan membentuk tubuh yang ideal?”</p>
<p>Memang tubuh yang bentuk dan tampilannya ideal agaknya menjadi dambaan dan obsesi banyak orang.  Seperti dibahas dalam tulisan yang lalu, motif dasar yang sering bersembunyi di balik keinginan untuk mengubah tubuh adalah kebencian terhadap tubuh kita sendiri, baik yang kita sadari maupun di bawah sadar.  Dan kebencian pada tubuh ini tersimpan dalam ‘citra tubuh’ kita yang tidak sehat.</p>
<p><span id="more-154"></span></p>
<p><strong>Sadari Motivasi Dasar Dahulu<br />
</strong> Berusaha memperoleh tubuh ideal memang bisa melalui berbagai cara, dari yang paling aman dan sehat hingga yang paling berbahaya.  Dari mulai mengatur nutrisi dan berolahraga rutin hingga cara yang lebih ekstrim seperti obat diet, prosedur sedot lemak, dan bedah plastik—yang menjadi industri besar yang mampu menyedot miliaran rupiah setiap tahunnya.</p>
<p>Sebenarnya cara apapun yang ditempuh untuk mencapai bentuk tubuh ideal akan selalu kembali pada pertimbangan diri masing-masing.  Yang saya ingin perhatikan lebih jernih dalam hal ini adalah: apabila motivasi dasar untuk mengubah tubuh mengandung unsur rasa benci terhadap tubuh sendiri, maka cara manapun yang akan dipilih akan berakibat semakin kuatnya kebencian tersebut.</p>
<p><strong>Upaya Fisik Saja Tidak Pernah Akan Efektif</strong><br />
Barangkali itu pula sebabnya banyak studi ilmiah tentang <em>‘weight loss’</em> – yaitu segala upaya untuk menurunkan berat badan – berkali-kali menemukan bahwa sekadar melakukan upaya di tingkatan fisik saja (upaya diet, olahraga, obat diet, dll) TIDAK AKAN efektif dan memadai untuk jangka panjang.</p>
<p>Lalu apa yang perlu dilakukan agar upaya menurunkan berat tubuh dan membentuk tubuh menjadi efektif? Ternyata kuncinya adalah pada menyembuhkan citra tubuh kita, melepaskan asumsi pikiran yang mencegah kita untuk melepaskan berat badan yang berlebih, menyembuhkan segala trauma yang berhubungan dengan tubuh, serta melepas segala pemicu emosional yang sering mengendalikan nafsu makan kita yang sering lebih besar daripada kebutuhan nutrisi tubuh.</p>
<p>Kita perlu lebih sadar bahwa tubuh kita, baik secara kesehatan maupun penampilan, sangatlah terkait dengan kondisi psikologis kita.  Dari mulai pola makan, kebiasaan berolahraga, semangat merawat diri, hingga kecepatan metabolisme serta keseimbangan hormonal, semuanya terkait dan hampir selalu berakar di pikiran dan perasaan hati kita.</p>
<p><strong>Konflik Di Bawah Sadar yang Sering Menjegal Upaya Sendiri</strong><br />
Kita pun tidak jarang menjadi korban dari motivasi bawah sadar yang tidak kita ketahui.  Secara sadar, kita bisa saja memilih untuk sehat namun terkadang tanpa kita ketahui ada hal lain dalam bawah sadar yang tidak menginginkan kita untuk sehat.  Berikut beberapa contoh yang pernah saya temukan dalam proses terapi sbb:</p>
<ul>
<li><em>Klien yang ingin menyembuhkan sakit hati dan luka batinnya</em>: “Saya ingin lega dan ikhlas tentang insiden tersebut, tetapi saya takut kalau seandainya saya memaafkan dia, nanti dia akan mengulangi kembali peristiwa yang menyakitkan ini.”  Secara sadar ingin sembuh, tetapi di bawah sadar tidak ingin sembuh, karena ada kebutuhan untuk mencegah terulangnya sakit hati.</li>
<li><em>Klien yang ingin rajin berolahraga dan makan sehat, di masa kecil pernah mengalami kekerasan seksual</em>: “Saya ingin tampil cantik dan menarik, namun kalau saya menjadi rajin merawat tubuh dengan olahraga dan makanan yang baik, tubuh saya akan menjadi semakin memikat perhatian, dan saya takut memikat perhatian ekstra yang bisa menyebabkan trauma saya terulang lagi.”  Secara sadar ingin sehat, tapi di bawah sadar perlu melindungi diri dari trauma yang meskipun sudah dilupakan belum juga sembuh.</li>
<li><em>Klien yang lumpuh karena stroke</em>: “Saya ingin bisa kembali sehat dan memulihkan fungsi tubuh agar bisa kembali beraktivitas, namun seandainya saya kembali berfungsi secara sehat, saya akan kehilangan perhatian, kasih sayang dan perawatan dari keluarga dan sahabat yang selama masa sakit ini bisa saya nikmati.”  Secara sadar ingin sehat, namun di bawah sadar tidak ingin melepaskan nikmatnya perhatian dan kasih sayang lingkungan.</li>
</ul>
<p><strong>Membuka Kesadaran Diri Terhadap Tubuh</strong><br />
Bilamana memang hal-hal di bawah sadar kita sedemikian kuat dan tersembunyi sehingga mampu menjegal setiap upaya kita untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup kita, maka kita perlu MELATIH KESADARAN agar semakin peka dan terbuka terhadap setiap pikiran dan perasaan yang ada dalam diri.  Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan kesadaran diri tentang tubuh kita:</p>
<ul>
<li><em>Mindful Eating</em>: berlatih menikmati setiap santapan, setiap suap, setiap kunyahan dengan penuh kesadaran.</li>
<li><em>Bergerak penuh kesadaran</em>: segala bentuk olahraga yang menekankan kesadaran penuh pada setiap gerakan, seperti tai chi, yoga, meditasi tari, dll.</li>
<li><em>Latihan menulis surat kepada TUBUH Anda sendiri</em>: Anda bisa mencoba berkomunikasi dengan tubuh Anda melalui latihan menulis.  Cobalah duduk dengan kertas polos, dan mulailah menulis kepada tubuh Anda sendiri.  Bisa berbentuk tulisan searah seperti surat, atau seperti dialog dua arah.  Ini juga bisa membantu kita lebih sadar tentang segala citra tubuh yang kita simpan di bawah sadar.</li>
<li><em>Self massage</em>: memijat tubuh sendiri, dari bagian demi bagian dengan penuh rasa dan kesadaran.</li>
<li><em>Healing bodywork</em>: beberapa terapi seperti pijat penyembuhan, jin shin jyutsu, terapi craniosacral, juga bisa membantu kesadaran tubuh lebih selaras.</li>
<li><em>Penyembuhan seksual</em>: segala proses yang membantu kita menyembuhkan berbagai trauma seksual serta memurnikan ekspresi seksualitas yang sehat dan alamiah sangatlah signifikan terhadap penyembuhan citra tubuh kita.</li>
<li><em>Perbaikan postur tubuh</em>: berbagai latihan seperti Pilates, Gokhale Method, Feldenkrais, dan Alexander Technique, yang memang disusun untuk menyelaraskan postur tubuh kita, akan berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik dan sehatnya citra tubuh.</li>
</ul>
<p>Sebagian dari cara di atas bisa dilatih sendiri, dan sebagian lainnya perlu belajar dan dipandu oleh ahlinya agar bisa melakukannya dengan tepat.  Salah satu teknik favorit saya untuk menyembuhkan citra tubuh adalah TAT (Tapas Acupressure Technique).  Teknik ini menggabungkan manfaat akupunktur dengan penyembuhan mental emosional secara begitu indah dan bersahaja.  Dan TAT ini baru saja teruji secara klinis sebagai teknik yang menghasilkan efek ‘<em>weight loss</em>’ paling baik secara jangka panjang.</p>
<p>Manfaat TAT dalam konteks melepas berat badan berlebih, adalah pada: (1) menyembuhkan asumsi yang membelenggu kita untuk hidup sehat, (2) menyembuhkan trauma masa lalu yang menghambat kita untuk bertubuh sehat alamiah, dan (3) melepas segala pemicu fisik dan emosional yang menyebabkan pola makan berlebihan. Bilamana terasa sesuai dan tertarik, Anda bisa membaca lebih lanjut tentang TAT di <a title="Website resmi TAT" href="http://www.tatlife.com" target="_blank">www.tatlife.com</a>.</p>
<p><strong>Tujuan Utama Janganlah untuk Mencapai Tubuh Ideal</strong><br />
Seandainya mencapai tubuh ideal dijadikan sasaran utama dan terpenting, maka kita lebih mudah lengah dan mengabaikan pentingnya akar psikologis ini, sehingga bisa jadi kita semakin memupuk ketidaksukaan terhadap tubuh dan diri sendiri.</p>
<p>Dari perenungan di atas, kunci untuk memiliki tubuh yang ideal secara alami adalah untuk mengasah perhatian yang semakin sadar, jernih dan peka tentang tubuh dan citra tubuh kita.</p>
<p>Ketika citra tubuh dan segala faktor mental emosional sudah menjadi lebih sehat, maka tubuh pun bisa mengaktifkan segala mekanisme alamiahnya agar berbagai takaran biologis – seperti nafsu makan, kecepatan metabolisme tubuh, sirkulasi tubuh, dll – kembali pada posisi wajar dan sehat.</p>
<p>Saya jadi teringat pepatah “Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat”, dan tergelitik untuk menekankan bahwa barangkali jiwa yang sehat dan bisa mencintai diri sendiri apa adanya, adalah prasyarat untuk memiliki tubuh yang sehat.  Saya undang Anda untuk merintis kesadaran tubuh yang sehat dalam kehidupan kita masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/03/tubuh-ideal-berawal-dari-citra-tubuh-yang-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Tubuh Sendiri Tak Cukup Dicinta</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/03/ketika-tubuh-sendiri-tak-cukup-dicinta/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/03/ketika-tubuh-sendiri-tak-cukup-dicinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 03:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 10 Maret 2009

Dalam pengalaman terapi melalui penyembuhan holistik, seringkali saya bertemu dengan berbagai kasus terapi yang pada intinya sangat bertumpu pada seberapa baik hubungan kita dengan satu-satunya kendaraan yang senantiasa menyertai perjalanan hidup ini, yaitu tubuh kita sendiri.
Saya menyebut relasi dan persepsi kita tentang tubuh kita sendiri sebagai CITRA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 10 Maret 2009</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-164" title="istock_000005555066xsmall2" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/03/istock_000005555066xsmall2.jpg" alt="istock_000005555066xsmall2" width="293" height="410" /><br />
Dalam pengalaman terapi melalui penyembuhan holistik, seringkali saya bertemu dengan berbagai kasus terapi yang pada intinya sangat bertumpu pada seberapa baik hubungan kita dengan satu-satunya kendaraan yang senantiasa menyertai perjalanan hidup ini, yaitu tubuh kita sendiri.</p>
<p>Saya menyebut relasi dan persepsi kita tentang tubuh kita sendiri sebagai <strong>CITRA TUBUH (body image)</strong>.  Seandainya perlu didefinisikan, yang paling mendekati adalah: bagaimana kita melihat, menghargai, mencintai dan menerima tubuh kita sendiri.  Persepsi yang tersimpan dalam citra tubuh ini, bisa saja yang kita sadari, namun sering juga yang tersembunyi dalam bawah sadar kita.</p>
<p>Sebenarnya bila dirunut ke awal kehidupan, saya menduga bahwa kita semua dilahirkan dengan citra tubuh yang sehat, atau dengan kata lain, kita bisa menerima tubuh kita apa adanya.  Namun mengapa ada begitu banyak masalah saat kita menjadi dewasa, yang berhubungan dengan kesulitan kita untuk menerima tubuh sendiri apa adanya, bahkan banyak yang secara tidak sadar membenci tubuhnya sendiri?</p>
<p><span id="more-147"></span><strong>Pengalaman Hidup Mengubah Citra Tubuh yang Sehat</strong><br />
Saya cenderung menyimpulkan bahwa bila kita semua lahir citra tubuh yang sehat, dan kemudian berubah saat dewasa, besar kemungkinannya bahwa serangkaian pengalaman kehidupan, baik sengaja maupun tidak, berpotensi mengubah bagaimana kita menerima dan mencintai tubuh kita.  Beberapa sumber berubahnya citra tubuh menjadi kurang sehat adalah:</p>
<ul>
<li>Kebiasaan kuat dalam keluarga maupun lingkungan untuk senantiasa membanding-bandingkan diri dengan orang lain.</li>
<li>Pola pergaulan yang menekankan bahwa tubuh yang ideal, harus punya ciri-ciri fisik tertentu, sehingga kita jadi senantiasa mendera tubuh kita dengan standar ideal tersebut.</li>
<li>Efek negatif media yang mengkomersialkan ide tentang bentuk &amp; ukuran tubuh yang ideal, terkadang juga dari industri mode &amp; gaya hidup.</li>
<li>Mispersepsi tentang daya tarik fisik dan cinta, yang mengajarkan kita bahwa untuk memperoleh cinta, kita harus memaksimalkan daya tarik fisik kita.</li>
<li>Berbagai trauma yang berhubungan dengan cinta dan seksualitas, yang mulai mencegah kita untuk dapat mencintai tubuh sendiri sepenuhnya.</li>
</ul>
<p><strong>Masalah yang Berakar Pada Citra Tubuh yang Tidak Sehat</strong><br />
Begitu banyak masalah yang bisa muncul dari berubahnya citra tubuh kita.  Dari mulai gangguan fisik, mental emosional hingga kegelisahan spiritual bisa membayang-bayangi kehidupan kita.  Dalam tulisan pendek ini, saya berupaya untuk memberikan spektrum masalah yang bisa muncul, dan untuk memudahkan akan dibagi menjadi beberapa kategori: (1) obsesi mengubah tubuh secara berlebihan, (2) pergaulan sosial yang tak kunjung nyaman, (3) berbagai bentuk adiksi / kecanduan, dan terakhir (4) problem cinta dan seksualitas.</p>
<p><strong>Masalah 1: Obsesi Mengubah Tubuh secara Berlebihan</strong><br />
Rasa kurang suka dan kurang mencintai tubuh kita sendiri, akan mendorong keinginan untuk mengubah tubuh kita.  Keinginan ini sendiri sebenarnya wajar, namun bisa berbahaya ketika sudah menjadi obsesi atau tidak lagi memilah mana cara yang sehat dan aman untuk mengubah diri.</p>
<p>Sebagai contoh umum, kita cukup familiar dengan obsesi untuk melakukan olahraga secara berlebihan, bukan demi kesehatan, namun tak sabar untuk mengubah bentuk dan ukuran tubuh.  Belum lagi penggunaan obat pelangsing yang takarannya lebih dari batas aman tubuh, dari mulai yang bersifat mempercepat metabolisme, menekan nafsu makan hingga mempercepat pembuangan tubuh.   Ada juga berbagai perilaku tidak sehat seperti anorexia dan bullimia yang bisa merupakan cerminan kebencian diri terhadap tubuh.</p>
<p>Kita pun tidak jarang mendengar prosedur bedah plastik yang berulang-ulang, bukan karena tubuh kurang apik, namun hati yang tak kunjung puas.<br />
Ada juga yang mencoba dengan jalan diet secara ekstrim, yang tidak saja berbahaya, namun juga segala pola diet terbukti tidak efektif di jangka panjang.</p>
<p>Ketika tubuh sudah mencapai berat badan yang diinginkan, semua perasaan hati yang tak terpuaskan karena selama diet harus menahan diri, seringkali muncul dengan ganas dan seketika mengembalikan kita pada pola makan yang tidak sehat, sehingga muncul istilah diet yo-yo, yang berarti berat badan kita turun naik secara fluktuatif akibat diet dan “balas dendam makan” yang silih berganti.</p>
<p>Sebenarnya bilamana citra tubuh kita lebih sehat, merawat dan mengolah tubuh dengan olahraga dan asupan gizi yang baik, adalah sesuatu yang sehat dan alamiah.  Namun sebelum citra tubuh menjadi sehat, upaya yang baik seperti olahraga dan mengatur pola makanpun bisa menjadi obsesi yang tak berujung, dan tanpa kita sadari memperkuat kebencian terhadap tubuh kita.</p>
<p><strong>Masalah 2: Pergaulan Sosial yang Tak Kunjung Nyaman</strong><br />
Ketika ketidaksukaan diri terhadap tubuh sendiri sudah begitu kuat, tidak peduli seberapa kita mengubah tubuh, mempercantik diri, memperindah penampilan, tetap saja kita tidak pernah merasa sepenuhnya nyaman hidup di dalam tubuh ini.  Ketidaknyamanan akan diri sendiri ini akan mewarnai bagaimana kita menjalin pergaulan dan persahabatan.</p>
<p>Bilamana suatu saat Anda merasa letih bergaul karena tidak merasa ada koneksi yang otentik dari hati ke hati, namun yang lebih terasa adalah keramahan yang dibuat-buat, sadarilah bahwa mungkin saja citra tubuh Anda sendiri tanpa sadar telah mengajak Anda untuk lebih bisa diterima oleh lingkungan dengan cara “tidak menjadi diri Anda sendiri”.</p>
<p>Di frekuensi pergaulan seperti ini, ketika kita menampilkan diri dan mengungkapkan diri, batas antara menjaga penampilan menarik yang wajar dengan tampil gaya karena didorong kebencian pada tubuh sendiri, mulai menjadi samar. Samar karena ukurannya bukan pada seperti apa kita menampilkan diri, namun niat apa yang mendasari penampilan tersebut.</p>
<p>Lebih lanjut lagi, citra tubuh tidak sehat ini juga akan menimbulkan seringnya diri merasa tidak pernah cukup baik untuk diterima lingkungan, rasa percaya diri yang sangat rendah, dan bahkan semakin sering menilai dan mengkritik orang lain.  Ketika kita menilai dan mengkritik orang lain yang tidak kita pahami sepenuhnya, seringkali bersumber pada ketidakcintaan kita pada diri dan tubuh kita sendiri, dan menjatuhkan orang lain bisa secara tidak langsung meningkatkan nilai penghargaan kita pada diri sendiri.  Cukup berbahaya bukan?</p>
<p>Padahal ketika kita terus hidup dengan kebiasaan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, ini adalah jalan pintas menuju depresi, rasa cemburu dan iri, serta ketidakbahagiaan.</p>
<p><strong>Masalah 3: Berbagai Bentuk Adiksi / Kecanduan</strong><br />
Ketika ketidaksukaan terhadap diri begitu mengakar kuat, dan kita tidak tahu bagaimana lagi cara mengatasinya, maka kita akan cenderung mudah untuk mencari rasa nyaman yang bersifat instan, meski manfaatnya hanya sesaat, dan terkadang efek jangka panjangnya justru semakin merugikan kita.</p>
<p>Kecanduan / adiksi adalah salah satu bentuk pelarian nikmat sesaat yang terbentuk dan menjadi suatu kebiasaan yang mengikat batin.  Dari mulai <em>shop-aholic, food-aholic, work-aholic, sex-aholic, alcoholic</em>, kapanpun kita terjebak dalam citra tubuh yang kurang sehat, maka kerentanan kita akan adiksi juga meningkat.</p>
<p>Khusus dalam kasus kecanduan ngemil atau makan, muncul juga paradoks yang cukup menjerat.  Di satu sisi kita ingin berbahagia dengan tampil menarik dengan tubuh ideal, namun di lain sisi, kita memaksakan diri untuk menunda kebahagiaan yang sehari-hari kita peroleh dari menikmati makanan yang kita sukai.  Di dalam tarik menarik antara kebahagiaan bertubuh ideal dengan kebahagiaan menikmati makanan ini, kita menemukan fenomena diet yo-yo (berat badan naik turun silih berganti), dan perasaan hati yang ikut ‘yo-yo’ (puas kecewa silih berganti).</p>
<p>Inilah juga mengapa banyak pakar penyembuhan, mengatakan bahwa diet saja tidak pernah akan efektif untuk jangka panjang.  Bentuk dan berat badan yang sehat hanya bisa diperoleh ketika akar psikologis dan emosionalnya disembuhkan terlebih dahulu, dengan kata lain citra tubuh perlu dipulihkan kembali sehat.</p>
<p><strong>Masalah 4: Problem Cinta dan Seksualitas</strong><br />
Dalam ranah kehidupan cinta dan seksualitas kita, yang memang sudah merupakan misteri tersendiri dengan segala kerumitannya, gejolak permasalahan pun sering berakar pada citra tubuh yang tidak sehat.</p>
<p>Pertama, seseorang yang perhatiannya terdominasi oleh tubuhnya semata, akan cenderung sulit untuk merasakan koneksi hati ke hati dengan pasangan cintanya, terutama kalau kebencian diri terhadap tubuhnya sendiri cukup kuat.  Dia akan sering merasa tidak cukup baik untuk kekasihnya, rentan untuk jadi korban manipulasi emosional dari pasangannya, dan cenderung sering menyalahkan, baik dirinya maupun pasangannya, ketika timbul permasalahan.</p>
<p>Selain itu, seseorang yang membenci tubuhnya sendiri akan cenderung ketagihan kenikmatan fisik saja dalam ekspresi seksualnya.  Dia juga cenderung lebih rentan untuk melanggar batasan seksual diri dan pasangannya.  Dalam hubungan seksual, kenikmatan inderawi menjadi batas kepuasan maksimal, kalaupun masih bisa menikmati.  Sulit sekali bisa merasakan koneksitas cinta dari hati ke hati dalam ekspresi seksual, apalagi mengalami transendensi spiritual melalui seks.</p>
<p><strong>Menuju Citra Tubuh yang Sehat<br />
</strong>Mencintai tubuh kita sendiri, dalam bahasa sederhana mungkin bisa digamblangkan dengan menerima tubuh kita apa adanya, dengan semangat menghargainya pada takaran yang sehat.  Saya merenungkan 3 buah penghargaan yang bisa muncul ketika citra tubuh kita sehat, yaitu:</p>
<ul>
<li><strong>Menghargai Keunikan</strong>.  Disinilah kita memahami bahwa sama seperti sidik jari yang tidak pernah sama, begitu juga tubuh kita.  Tidak ada standar bentuk dan ukuran tubuh yang WAJIB dipenuhi, dan karena semua individu unik, maka konsekuensi dari keunikan adalah tidak perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain yang unik juga.</li>
<li><strong>Menghargai Perubahan Alami</strong>.  Kita menyadari bahwa semua tubuh fisik punya fase alamiah yang sama dan dialami setiap orang, yaitu lahir, tumbuh/tua, sakit, dan pada akhirnya mati.  Sekalipun kita sadar akan kenyataan universal dari tubuh fisik ini, kita bisa tetap merawatnya dengan baik.</li>
<li><strong>Menghargai Perlunya Perawatan</strong>.  Tubuh kita adalah satu-satunya kendaraan hidup yang kita miliki.  Dalam takaran yang wajar dan alamiah, kita masih bisa memberikannya nutrisi yang sehat, istirahat yang memadai, olahraga yang sesuai, mengurangi toksin yang kita berikan ke dalamnya, dan tentunya memelihara keselarasan pikiran dan hati.  Perawatan ini tidak dimotori atas semangat mengubah diri karena membenci tubuh, namun karena kita mencintai diri, tubuh dan kehidupan ini.</li>
</ul>
<p>Sudahkah Anda menyadari kesehatan citra tubuh Anda? Selamat merawat jiwa, memelihara tubuh, merayakan hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/03/ketika-tubuh-sendiri-tak-cukup-dicinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Hadiah Cinta Sepenuh Hati (bagian 4)</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/03/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-4/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/03/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 10:57:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 24 Februari 2009

Cinta membutuhkan ruang untuk tetap hidup dan bertumbuh.
Selamat datang di bagian terakhir dari rangkaian latihan kesadaran cinta ini, yaitu hadiah cinta yang ke-4.   Hadiah cinta ini adalah memberikan ruang dan keleluasaan.  Yang dimaksud dengan ruang dan keleluasaan di sini adalah, kapasitas kita untuk memberikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 24 Februari 2009</strong></p>
<p><strong><img class="alignnone size-full wp-image-166" title="Good tradition" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/03/istock_000005390308xsmall1.jpg" alt="Good tradition" width="425" height="282" /></strong></p>
<p><strong>Cinta membutuhkan ruang untuk tetap hidup dan bertumbuh.</strong></p>
<p><strong></strong>Selamat datang di bagian terakhir dari rangkaian latihan kesadaran cinta ini, yaitu hadiah cinta yang ke-4.   Hadiah cinta ini adalah memberikan ruang dan keleluasaan.  Yang dimaksud dengan ruang dan keleluasaan di sini adalah, kapasitas kita untuk memberikan izin, restu dan kesempatan bagi pasangan cinta untuk bertumbuh, berkembang, dan memilih apa yang terbaik bagi dirinya.</p>
<p>Seandainya saja cinta sudah tiada, dan kita tidak lagi peduli pada kebersamaan, tentunya memberikan ruang dan keleluasaan jauh lebih mudah.  Bagi saya pribadi, latihan terakhir ini merupakan yang tersulit untuk dilatih, karena untuk dapat memberikannya dengan tulus, ada begitu banyak hambatan dalam diri yang perlu disembuhkan terlebih dahulu.  Namun justru karena tingkat kesulitannya paling tinggi, ini pulalah hadiah cinta yang paling berharga dan bermakna.</p>
<p>Ketika ruang dan keleluasaan tidak cukup diberikan dalam sebuah relasi cinta, maka ini bisa muncul dalam berbagai bentuk perilaku yang seringkali tidak sehat bagi kebersamaan.  Misalnya, sikap cemburu yang takarannya terlalu berlebihan, dibuatnya aturan main / pembatasan / larangan yang hanya berdasarkan kepentingan sepihak, serta pudarnya keunikan individualitas dalam kehidupan bersama yang mengatasnamakan “demi cinta”.</p>
<p><span id="more-143"></span><strong>Mengapa memberikan ruang dan keleluasaan begitu sulit?<br />
</strong>Berikut adalah hal-hal yang menghambat kita dalam memberikan ruang dan keleluasaan:</p>
<ul>
<li><strong>Perbedaan persepsi tentang “yang terbaik”.</strong> Ketika kita mencintai seseorang, secara alami kita ingin yang terbaik baginya, dan “yang terbaik” tentunya merupakan acuan kita sendiri.  Padahal acuan kita tersebut belum tentu sama dengan “yang terbaik” bagi sang pasangan. Ketika pasangan cinta membutuhkan sesuatu yang berbeda dengan apa “yang terbaik” menurut kita maka tentunya timbul resistensi dalam diri kita, dan kemudian menjadi ganjalan di hati.  Di satu sisi, kita ingin pasangan kita bahagia dengan pilihannya, namun di lain sisi, kita tidak yakin bahwa pilihan tersebut pasti berefek baik bagi dirinya, atau bagi kita.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Rasa takut dalam diri kita sendiri.</strong> Dalam ego dewasa yang telah mengumpulkan serangkaian pengalaman hidup, kita tidak bisa luput dari berbagai rasa takut yang bersarang dalam diri.  Rasa takut kehilangan perhatian, takut kehilangan cinta, dan takut hilangnya kebersamaan, seringkali menjegal kemampuan kita memberikan ruang dengan tulus kepada pasangan cinta.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Trauma yang belum sembuh tuntas.</strong> Trauma adalah segala pengalaman dalam hidup yang efeknya masih berjejak dalam batin kita.  Jejak trauma ini mampu melahirkan ketidakmampuan kita untuk membuka hati, menumbuhkan rasa aman dan percaya, mencintai sepenuhnya dan memberikan keleluasaan untuk bertumbuh dalam kebersamaan.  Tidak jadi masalah apakah trauma terjadi beberapa hari atau puluhan tahun yang lalu, selama jejaknya masih membekas, maka dampaknya tetap bisa menghambat pengalaman cinta di hari ini, baik secara sadar maupun tidak sadar.</li>
</ul>
<p><strong>Bagaimana melatih memberikan ruang dengan tulus?<br />
</strong>Kuncinya adalah, semua dari 4 hadiah cinta yang saya tuliskan merupakan pondasi yang lapisannya dibangun secara tekun dan bertahap.  Jika Anda benar-benar melatih meluangkan waktu sepenuh hati (hadiah #1), mendengarkan sepenuh hati (hadiah #2), menyatakan diri dengan kejujuran total (hadiah #3), maka secara otomatis, memberikan ruang dan keleluasaan (hadiah #4) menjadi jauh lebih mudah.</p>
<p>Berikut adalah beberapa langkah tambahan yang bisa ditempuh, khusus untuk mengembangkan kemampuan memberikan ruang dan keleluasaan:</p>
<ul>
<li><strong>Nyatakan perasaan hati Anda dengan kejujuran total</strong>.  Biasanya ketakutan dalam diri semakin kuat ketika disembunyikan.  Dengan berani menunjukkan dengan jujur rasa takut dan segala perasaan hati, Anda lebih punya peluang untuk menumbuhkan pengertian dalam pasangan Anda.  Dia lebih mampu untuk melihat bahwa Anda bukan bermaksud untuk menjajah kebebasannya dalam memilih, namun Anda masih berproses untuk mengatasi hambatan dalam diri Anda, yang memungkinkan Anda untuk memberikannya keleluasaan.  Ingatlah semakin Anda jujur total, semakin tuntas pula tumpukan sampah batin Anda sendiri.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Sembuhkan trauma yang belum tuntas pulihnya.</strong> Cobalah duduk hening sesaat, kemudian telusuri berbagai pengalaman hidup Anda sendiri.  Temukan dan tanyakan pada diri: “Adakah pengalaman hidup saya sendiri, tak peduli sudah berapa lama yang lalu, melahirkan ketakutan saya pada saat ini untuk mempercayai pasangan saya sekarang, atau untuk memberikan ruang baginya untuk menjalankan pilihannya sendiri?”. Menyadari sepenuhnya adalah langkah pertama dan terpenting dalam penyembuhan.  Terkadang juga, kita butuh bantuan terapis profesional untuk menelusuri dan menyembuhkan efek trauma masa lalu sehingga kita lebih punya kelenturan untuk bersikap di kekinian.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Tentukan batasan bertahap dengan memberikan pengertian yang jujur pada pasangan.</strong> Misalnya, kita sepakat untuk memberikan keleluasaan ekstra dengan batasan tertentu yang masih memungkinkan pasangan untuk berkembang, dan secara paralel memberikan kita peluang untuk berproses dalam menyembuhkan sisa hambatan dalam diri. Ketika rasa takut atau trauma masih begitu kuat menghambat tapi kita sudah komunikasikan dengan jujur total, berbagai solusi yang bersifat “jalan tengah” bisa muncul sebagai kesepakatan sementara yang sehat bagi kedua pihak.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Bernapas, ambil risiko dan pasrahkan hasilnya</strong>.  Seringkali kita perlu mengistirahatkan pikiran dan analisa, dan cukup bernapas. Terjun untuk menghadapi ketakutan kita. Ingatlah apapun hasilnya, pasrahkan total kepada Yang Maha dalam hidup Anda masing-masing.  Bisa jadi ketika kita berani, bahkan nekat, untuk memberikan ruang bagi pasangan, maka kita juga menemukan satu pengalaman penting bahwa “Oh, ternyata TIDAK SEMUA ketakutan saya PASTI akan terjadi…”.   Dan menyadari pengalaman penting ini, di kesempatan selanjutnya, memungkinkan kita untuk bernapas lebih lega, dan lebih berani memberikan ruang.</li>
</ul>
<p><strong>Bisakah saya menumbuhkan rasa percaya bagi pasangan?<br />
</strong>Secara sederhana, sama seperti kita tidak bisa memilih siapa yang kita cintai, dan seberapa dalam kita mencintainya, menurut saya pribadi, kita juga tidak bisa memilih siapa yang kita percayai, dan seberapa dalam rasa percaya tersebut.  Rasa bukanlah sesuatu yang kita pilih, rasa itulah yang memilih kita untuk mengalaminya.</p>
<p>Seandainya saja ada formula ajaib yang memungkinkan kita untuk menjentikkan jari hingga muncul rasa percaya total, saya tentu tidak akan merahasiakannya dari Anda.  Namun saya juga percaya bahwa meskipun rasa percaya tidak bisa kita kendalikan dan pilih, memberikan ruang dan keleluasaan bagi pasangan cinta adalah sesuatu yang bisa kita latih dengan sadar dan tekun. Sering melatih memberikan ruang, pada waktunya akan menumbuhkan rasa percaya.</p>
<p><strong>4 Hadiah Cinta adalah Untuk Diri Anda Masing-Masing<br />
</strong>Saya tidak bisa memastikan ke arah mana energi cinta kita akan menuntun hidup kita masing-masing. Menjalani cinta berarti berani menempuh perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian. Berusaha mengubah atau memperbaiki pasangan cinta kita, apalagi setelah membaca tulisan tentang 4 hadiah cinta di sini, adalah jalan paling pintas menuju ketidakbahagiaan. Jadi gunakanlah 4 latihan kesadaran cinta ini untuk UNTUK DIRI ANDA SENDIRI.</p>
<p>Sekali lagi, selamat berlatih kesadaran cinta.  Semoga suatu saat nanti, kita semua bisa paham dan hidup dalam cinta yang benar-benar “sejati”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/03/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Hadiah Cinta Sepenuh Hati (bagian 3)</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/02/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/02/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 07:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 17 Februari 2009 

“The truth shall set you free” 

 Setelah Anda menghayati latihan “meluangkan waktu sepenuh hati”, dan “mendengarkan saja sepenuh hati”, inilah latihan kesadaran cinta ke-3 yang benar-benar akan menguji kelapangan hati kita untuk mengatasi ketakutan dalam diri sendiri.  Latihan mengekspresikan diri dengan KEJUJURAN TOTAL.


Sanggupkah kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 17 Februari 2009 </strong></p>
<p><em><strong><img class="size-full wp-image-168 alignnone" title="pinocchio vintage" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/02/istock_000003517105xsmall1.jpg" alt="- the truth shall set you free -" width="392" height="306" /></p>
<p>“The truth shall set you free”</strong> </em></p>
<ul>
<li><strong> </strong>Setelah Anda menghayati latihan “meluangkan waktu sepenuh hati”, dan “mendengarkan saja sepenuh hati”, inilah latihan kesadaran cinta ke-3 yang benar-benar akan menguji kelapangan hati kita untuk mengatasi ketakutan dalam diri sendiri.  Latihan <strong>mengekspresikan diri dengan KEJUJURAN TOTAL</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sanggupkah kita untuk selalu menyatakan kebenaran, terutama kepada pasangan yang begitu dicintai? Apalagi bila beresiko memunculkan konflik, sakit hati, bahkan perpisahan?</li>
</ul>
<ul>
<li>Perjalanan kita menuju kejujuran selalu menghadapkan kita pada 2 sisi dalam diri.  Sisi pertama, adalah sifat dasar hati yang selalu ingin menyatakan kebenaran dengan sejujur-jujurnya.  Sisi ini tahu bahwa kita hanya bisa lega dan lapang, setelah menyatakan isi benak sejujur-jujurnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sayangnya sisi jujur ini tidak selalu berhasil mendapatkan kesempatan untuk terpenuhi.  Alasannya? Ada sisi kedua dalam diri kita, yang penuh kekuatiran, bahkan ketakutan akan resiko menyatakan kejujuran.  Ego kita menciptakan rasa takut akan konflik, sakit hati, menyinggung perasaan pihak lain, dan kita juga takut akan perpisahan.  Bagaimana kita bisa mengatasi hal ini, sehingga membuka diri sungguh menciptakan kelegaan dan kelapangan dalam hubungan cinta?</li>
</ul>
<p><span id="more-136"></span></p>
<p><strong>Ukuran Kejujuran Total: Jelas-Jujur-Lengkap</strong></p>
<ul>
<li><strong>JELAS</strong>, artinya kita menyatakan isi benak (pikiran maupun perasaan) tidak secara samar-samar, tidak terlalu umum, dan cukup spesifik sehingga mudah dimengerti pasangan.  Contoh kalimat tidak jelas: “Kamu koq kurang perhatian sih!”.   Tidak ada penjelasan lebih lanjut.  Si pendengar merasa tersinggung tanpa mengerti apa yang dia lakukan sehingga mendapat predikat “kurang perhatian”.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>JUJUR</strong>, artinya tidak membelokkan apalagi membalikkan yang sebenarnya sehingga pasangan bisa memahami komunikasi sesuai dengan makna asli apa adanya.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>LENGKAP</strong>, artinya tidak mengurangi komponen isi dari komunikasi, misalnya isi benak kita ABCDE, namun kita hanya sampaikan ABC saja.  Komponen D &amp; E yang tidak disampaikan, barangkali sengaja atau tidak, tersensor dalam komunikasi karena kita kuatir bagian tersebut sulit diterima pasangan, atau bahkan bisa memicu pertikaian.</li>
</ul>
<p>Mungkin Anda punya pertanyaan dalam hati, mengapa harus JELAS, JUJUR dan LENGKAP?  Bila Anda cukup akrab dengan sistem email, anggaplah saja benak Anda sebagai OUTBOX, dimana semua email yang perlu dikirim, akan singgah dahulu disana.  Jika sudah terkirim keluar semua, maka <strong>OUTBOX (batin Anda) akan lapang, lega dan kosong</strong>.  Jika tidak berhasil dikirim semua, maka OUTBOX akan menyisakan tumpukan email / komunikasi yang tertunda.  Demikian pula benak Anda, yang akan menjadi berat, penuh dan sulit sekali lega, bila isinya belum tersampaikan secara lengkap dan tuntas.</p>
<p><strong>Mahalnya Kejujuran Total Yang Tertunda </strong></p>
<p>Jujur memang tidak selalu mudah, karena seringkali ketidakjujuran menjanjikan manfaat jangka pendek yang lebih menarik ketimbang nekat untuk jujur.  Namun cobalah ingat juga berbagai “harga” yang harus kita bayar atas kejujuran total yang tertunda:</p>
<ul>
<li>Semakin lama kejujuran total tertunda, semakin banyak juga tumpukan beban pikiran, rasa bersalah, serta ketakutan yang menghalangi kita untuk hidup selaras.</li>
</ul>
<ul>
<li>Semakin banyak tumpukan beban ini, semakin mungkin pula energi cinta kita yang murni akan tergerogoti, bahkan lama-kelamaan rasa cinta tersebut akan pudar hingga “mati”.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ketika hubungan cinta sudah berjalan lama, dimana ketertarikan satu sama lain mulai berkurang alami, dan muncul begitu banyak perbedaan sudut pandang, sebenarnya kejujuran adalah pilar terakhir yang mampu menyelamatkan suatu hubungan, dan kejujuran yang tertunda bisa mengakhiri harapan terakhir untuk kelanggengan yang baik.</li>
</ul>
<ul>
<li>Berbagai ilmu penyembuhan alamiah, yang sekarang ditegaskan lebih lanjut melalui riset ilmiah, menyadari hubungan antara beban pikiran dan perasaan, dengan tubuh yang bisa mengalami berbagai penyakit fisik karena konflik batin yang tak kunjung tuntas.  Bahkan seorang dokter terkenal dari Jerman pernah berkata, “<em>We are only as sick as our secrets</em>” artinya “Kita hanya sakit sejauh rahasia yang kita simpan dalam hati.”</li>
</ul>
<p><strong>Mengapa Sulit Sekali Jujur Total </strong></p>
<p><strong>Kesadaran adalah langkah penyembuhan yang pertama dan terutama</strong>.  Setelah menuai kesadaran tentang mahalnya kejujuran total yang tertunda, marilah kita sadari mengapa kejujuran total begitu sulit untuk dicapai:</p>
<ul>
<li>Banyak pengalaman hidup masa lalu, bisa yang belum lama berlalu, hingga masa kecil, yang berbekas / traumatis pada batin, dan dalam pengalaman tersebut kita belajar bahwa jujur itu merugikan, menyakitkan, dan lebih aman untuk tidak jujur.  Disinilah ketidakjujuran mulai lahir sebagai strategi untuk selamat dalam berbagai permasalahan hidup.  Untuk itu, sembuhkan trauma Anda agar terbebas dari hambatan ini</li>
</ul>
<ul>
<li>Berbagai tumpukan trauma batin yang belum sembuh tuntas, melahirkan rasa takut akan konflik, rasa sakit hati dan takut perpisahan / kehilangan.  Ini semakin memperkuat ‘radang’ pikiran untuk tidak jujur.  Upayakanlah kesembuhan pada ketakutan Anda, sehingga Anda lebih mudah jujur dan lega.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kita sering terlalu naif memandang bahwa kehidupan cinta yang ideal dan sehat itu hanya diwarnai oleh pengalaman yang manis dan menyenangkan saja, padahal konflik adalah bagian dari relasi cinta yang sehat.  Akibat kenaifan konsep hidup tersebut, kita semakin takut akan pertikaian, dan ketidakjujuranpun akhirnya sering dipilih agar selamat dari konflik.  Sadari kenaifan konsep Anda, dan bentuklah konsep relasi cinta yang lebih natural dan realistis.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kita belum tahu bagaimana mengungkapkan diri dengan baik.  Ketrampilan komunikasi yang kurang terasah, bisa menyulitkan kita untuk menyampaikan perasaan hati dan isi pikiran kita dengan jelas.  Untuk itu, pelajarilah teknik komunikasi yang lebih baik, jelas, dan membangun pengertian.  Salah satunya adalah Non-Violent Communication (NVC), yang sudah pernah dibahas sebelumnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kalau kita amati setumpuk rasa takut yang kita pikul dengan detil, kita juga bisa sadari bahwa sebagian besar ketakutan kita tentang apapun, tidak pernah benar-benar terjadi.  Kejujuran belum tentu menghasilkan petaka yang pasti.  Bernapas, sampaikan kejujuran dengan total, dan pasrahkan hasilnya, lebih baik daripada menunda kejujuran jangka panjang.</li>
</ul>
<p><strong>Mengalami Langsung Keampuhan “Energi Jujur” </strong></p>
<ul>
<li>Dalam hubungan cinta, saya pribadi meyakini bahwa kelanggengan memang penting, namun <strong>kejujuran total lebih penting daripada awetnya suatu hubungan</strong>.  Mengapa? Karena untuk mencapai langgeng ada begitu banyak faktor yang berada di luar kendali kita, sementara kejujuran total, hampir sepenuhnya merupakan pilihan kita sendiri.</li>
</ul>
<ul>
<li>Berteori, dan berdiskusi panjang lebar, tentang kejujuran total saja, tidak akan pernah cukup.  Anda perlu berdiri di batas kejujuran, dan ‘siap untuk terjun’ demi mengalami energi jujur secara langsung.  Sering sekali hasilnya akan begitu mencengangkan.  Untuk bisa jujur dengan pasangan cinta Anda, kita perlu mulai dengan kesadaran yang jernih, dan mulai dengan jujur kepada diri sendiri.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ingat, kejujuran total tidak harus diraih dalam semalam.  Ketika Anda mampu untuk menyumbangkan setetes ekstra kejujuran di setiap kesempatan kepada pasangan cinta Anda, itu sudah lebih dari cukup.  Selalu sadari itu.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/02/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Hadiah Cinta Sepenuh Hati (bagian 2)</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/02/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.rezagunawan.com/2009/02/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 04:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BFC - Cosmopolitan FM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rezagunawan.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 10 Februari 2009



Kualitas hubungan cinta tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita mampu menumpuk rasa senang dan bahagia bersama saja, namun juga bagaimana kita bisa saling merawat satu sama lain ketika muncul masa-masa sulit, konflik dan stres.  Dan dalam masa-masa seperti ini jugalah, pertumbuhan jiwa masing-masing terjadi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM – 10 Februari 2009</strong></p>
<p><strong><img class="alignnone size-full wp-image-170" title="Secret" src="http://selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com/2009/02/istock_000005285087xsmall1.jpg" alt="Secret" width="393" height="305" /><br />
</strong></p>
<ul>
<li>Kualitas hubungan cinta tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita mampu menumpuk rasa senang dan bahagia bersama saja, namun juga bagaimana kita bisa saling <strong>merawat satu sama lain ketika muncul masa-masa sulit, konflik dan stres</strong>.  Dan dalam masa-masa seperti ini jugalah, pertumbuhan jiwa masing-masing terjadi dengan alamiah</li>
</ul>
<ul>
<li>Bertumbuh di masa sulit ini sangat tergantung dari bagaimana tiap individu untuk menyembuhkan ketakutan, reaksi hati dan trauma masa lampau masing-masing.  Dan sebagai pasangan, kita terkadang perlu memainkan <strong>peran ‘terapis’ kepada pasangan cinta</strong>, agar dia mampu mengatasi hambatan hati yang mencegahnya untuk menikmati kebersamaan yang melegakan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Setelah bisa melatih kesadaran cinta dengan cara meluangkan waktu dengan sengaja, teratur dan penuh perhatian, marilah kita memperdalam lebih lanjut kualitas hubungan cinta dengan hadiah kedua yaitu <strong>MENDENGARKAN SAJA SEPENUH HATI</strong>.</li>
</ul>
<p><span id="more-130"></span><strong>4 hambatan terbesar dalam MENDENGARKAN SAJA SEPENUH HATI</strong> adalah:</p>
<ul>
<li><strong>Kita sulit MENDENGAR SAJA karena merasa KITA HARUS memberi komentar, pendapat, saran bahkan solusi</strong>.  Sebenarnya hampir setiap komentar, pendapat, saran bahkan solusi justru mengganggu pasangan berbicara kita untuk memperoleh kejernihan.  Guru saya, Dharma, pernah berkata, hanya 1 dari 100 saran/opini/anjuran kita yang benar-benar efektif bagi penerimanya.  Dengan mendengar saja sepenuh hati, pasangan berbicara kita berkesempatan untuk mengungkap isi batinnya dengan jelas, jujur dan lengkap.  Dan totalitas pengungkapan ini akan melahirkan kesadaran yang jernih dalam dirinya, sehingga pada akhirnya dia akan menemukan saran / jawaban terbaik dari dalam dirinya</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kita lebih sulit untuk bisa hadir dengan hati yang lapang dan posisi yang netral ketika pihak yang sedang mengungkap isi hati dan masalahnya, adalah orang yang kita cintai dan pedulikan.</strong> Ini terjadi pada hampir semua orang, netralitas dan kehadiran yang tidak mengintervensi sangatlah sulit dilakukan pada orang terdekat yang kita kasihi.  Justru karena sulit itulah, ini menjadi latihan kesadaran cinta yang begitu baik bagi hubungan kita.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kita merasa harus menolong atau menyelamatkan orang lain.</strong> Hidup datang dalam bentuk pelajaran yang porsinya sudah ditakar sesuai kebutuhan jiwa setiap manusia.  Dan terkadang memang proses belajar dalam hidup itu, harus melalui jalan yang sulit, berat, gelap, bahkan salah.  Sadarilah bahwa bukanlah tugas Anda untuk mengubah atau memperbaiki atau menyelamatkan orang lain, tugas Anda sebenarnya hanya hadir, mendengarkan dan mendampingi mereka agar mampu menemukan jawaban dalam nurani mereka masing-masing.  Dan bilamana Anda sulit untuk menerima kenyataan ini, tengoklah ke dalam hati, dan sembuhkan hambatan dalam diri untuk bisa menghayati hal ini dalam keseharian, sedikit demi sedikit sudah cukup</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Kita belum tahu keajaiban yang luar biasa di balik MENDENGAR SAJA.</strong> Akibat kebiasaan dan pola pikir sebelumnya, ketika berhadapan dengan keluh kesah orang lain, kita lebih suka mengambil posisi ‘berbicara’ ketimbang ‘mendengar’.  Kita belum pernah, secara sengaja dan teratur, bereksperimen dalam hidup ini tentang kekuatan ajaib MENDENGARKAN SAJA.  Selama 20 tahun terakhir, saya belajar puluhan teknik terapi untuk menolong orang lain, dan terkejut luar biasa karena ternyata pelajaran teknik penyembuhan tersebut jarang sekali dibutuhkan karena ternyata hasil penyembuhan yang ajaib dan sebanding bisa diperoleh dengan pendekatan yang begitu sederhana, yaitu mendengarkan saja sepenuh hati.</li>
</ul>
<p>Berikut ini adalah beberapa teknik latihan menuju keajaiban MENDENGARKAN SAJA SEPENUH HATI.  Luangkan waktu berlatih setiap tahap selama 1 minggu, agar pondasi ketrampilan Anda cukup matang sebelum bergerak ke tahap latihan selanjutnya.</p>
<p><strong>Tahap 1: Hadir Penuh Perhatian &amp; Bernapas</strong><br />
Tahap pertama ini adalah tahapan belajar yang tersulit, bila Anda bisa alami sepenuhnya, maka tahap-tahap berikut justru semakin mudah.  Namun bila Anda belum bisa mendengarkan sepenuhnya, maka mempelajari tahap berikut justru akan mengurangi ‘keajaiban’ mendengar Anda.<br />
Begini cara berlatihnya: setiap kali ada kesempatan untuk mendengar, hadirlah dengan perhatian penuh pada pasangan berbicara Anda.  Anda tidak perlu mengikuti refleks dalam diri untuk berkomentar, beropini maupun memberikan saran dan solusi.  Setiap kali Anda menjadi tegang, atau kurang nyaman, perlahan-lahan rasakan 1 hirupan dan 1 hembusan napas Anda, lalu kembali perhatikan pasangan berbicara dengan sepenuh hati.</p>
<p><strong>Tahap 2: Angguk, Gumam &amp; ‘Iya’</strong><br />
Setelah mulai bisa mengalami keajaiban ‘sekedar hadir dan mendengar saja’, kita akan mempermudah proses mendengar dengan tambahan teknik berikut: sesekali sisipkanlah anggukan, gumaman lembut atau kata ‘iya’, ketika pasangan Anda sedang berkomunikasi.  Takaran yang dominan dalam perhatian Anda tetap pada sekadar hadir penuh perhatian dan bernapas, namun sisipan ini akan membantu proses mendengar terjadi lebih natural. Pasangan berbicara Anda pun akan mendapat momentum untuk menuntaskan ungkapan hatinya, tanpa terganggu oleh ‘tersedak’nya komunikasi akibat pendapat, saran dan solusi yang biasa kita sisipkan.</p>
<p><strong>Tahap 3: <em>Repeating</em> / mengulang</strong><br />
Dalam setiap percakapan, ada ritme dan momentum yang kita bisa rasakan sebagai pendengar. Jika Anda merasakan bahwa pasangan berbicara tiba di momentum berhenti, atau hampir berhenti dalam mengungkapkan dirinya, coba lakukan REPEATING, yaitu mengulang sebuah kata / penggalan kalimat darinya yang Anda ucapkan kembali persis sama.   Misalnya pembicara berhenti di kalimat, “Saya benar-benar bingung dan tidak tahu harus bagaimana lagi (berhenti…)”.  Anda bisa mengulang dengan “Bingung?”, lalu perhatikan bagaimana pengulangan tersebut akan membuat pembicara menggali semakin dalam ke hatinya dan mengungkapkan lebih lanjut masalahnya secara tuntas.</p>
<p><strong>Tahap 4: Bertanya</strong><br />
Ini adalah tahap terakhir yang intinya adalah mengajukan pertanyaan yang (1) sederhana dan tidak rumit untuk dijawab, (2) dekat dengan inti pembicaraan. Saat pengajuan pertanyaan juga sama dengan teknik repeating, yaitu ketika Anda merasa pasangan berbicara tiba di momentum berhenti.  Dengan contoh yang sama dengan sebelumnya, Anda bisa bertanya, “Sejak kapan Anda mulai merasa bingung seperti ini?”, atau “Pilihan apa saja yang sudah Anda jajaki untuk masalah ini?”.  Jangan ajukan pertanyaan rumit seperti, “Menurutmu apa pesan rahasia Tuhan yang tersembunyi masalahmu di kantor ini?”.  Hindari juga mengajukan pertanyaan yang merupakan ‘saran terselubung’ seperti “Bukanlah lebih baik kalau kamu ajak dia duduk bersama dan bicara saja dari hati ke hati?”.  Tujuan dari bertanya disini adalah menjernihkan kesadaran pembicara, dan memberikan momentum agar komunikasinya tuntas, BUKAN untuk memberi saran/solusi.</p>
<p>Pengalaman saya secara langsung, baik sebagai terapis maupun dalam hubungan antar pribadi, ketrampilan MENDENGARKAN SAJA SEPENUH HATI adalah bentuk <strong>hadiah cinta paling luar biasa</strong> yang kita bisa berikan pada setiap orang yang kita cintai dalam hidup kita.</p>
<p>Siapkah Anda untuk mengalami sendiri sebuah cara tunggal paling sederhana untuk : (1) <strong>menciptakan keharmonisan</strong>, (2) <strong>mengatasi konflik</strong>, (3) <strong>menumbuhkan pengertian</strong> satu sama lain, dan (4) <strong>mendekatkan hati</strong>?</p>
<p>Selamat mendengarkan saja … sepenuh hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rezagunawan.com/2009/02/4-hadiah-cinta-sepenuh-hati-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
