<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Penyembuhan Trauma &amp; Rasa Takut Paska Bencana Dengan TAT</title>
	<atom:link href="http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/</link>
	<description>memelihara ketenteraman dan kesehatan seutuhnya, dengan                       melatih kesadaran diri, agar hidup semakin ringan, ikhlas, dan selaras.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 16:12:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Reza Gunawan</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-465</link>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 00:31:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-465</guid>
		<description>halo mas Teddi,

Terimakasih sudah mencoba melakukan proses TAT. Yang saya muat dalam blog ini memang khusus didesain untuk trauma pemulihan bencana alam.  Sementara ada sederetan kurikulum pelajaran TAT yang jauh lebih luas untuk aplikasi trauma pribadi, alergi, psikosomatis, limiting belief, dll.
Kalau setiap langkah dipraktekkan tanpa menyentuh titik, saya rasa masih ada hasilnya, namun efektivitasnya tidak seoptimal menggunakan komponen titik akupunktur, karena melibatkan sirkulasi Chi di sirkuit energi tubuh kita.  Memang benar pikiran saja menggerakkan energi, namun kemampuan pikiran setiap individu untuk menggerakkan Chi secara efektif sangat bervariasi, sehingga sulit untuk disamaratakan demi protokol yang efektif.

Saya sepenuhnya merestui penggunaan TAT untuk aplikasi trauma bencana alam pada diri sendiri, dan pada orang lain secara 1-on-1.  Untuk aplikasi lain, belajar dari tulisan singkat ini sangat tidak memadai, dan tentunya mas Teddi juga liat kenyataan di lapangan, banyak orang berniat baik membantu orang lain dengan ilmu dan restu yang belum lengkap, malah menyebabkan cedera pada orang yang mau ditolong.  Karena pertimbangan ini, saya selalu menyarankan bagi mereka yang tertarik belajar TAT untuk menekuninya secara lengkap di Pelatihan Terapis TAT, sehingga tahu pakem-pakem terapi TAT yang aman dan efektif dalam segala aplikasi.  

Terimakasih, selamat berlatih!
Reza</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>halo mas Teddi,</p>
<p>Terimakasih sudah mencoba melakukan proses TAT. Yang saya muat dalam blog ini memang khusus didesain untuk trauma pemulihan bencana alam.  Sementara ada sederetan kurikulum pelajaran TAT yang jauh lebih luas untuk aplikasi trauma pribadi, alergi, psikosomatis, limiting belief, dll.<br />
Kalau setiap langkah dipraktekkan tanpa menyentuh titik, saya rasa masih ada hasilnya, namun efektivitasnya tidak seoptimal menggunakan komponen titik akupunktur, karena melibatkan sirkulasi Chi di sirkuit energi tubuh kita.  Memang benar pikiran saja menggerakkan energi, namun kemampuan pikiran setiap individu untuk menggerakkan Chi secara efektif sangat bervariasi, sehingga sulit untuk disamaratakan demi protokol yang efektif.</p>
<p>Saya sepenuhnya merestui penggunaan TAT untuk aplikasi trauma bencana alam pada diri sendiri, dan pada orang lain secara 1-on-1.  Untuk aplikasi lain, belajar dari tulisan singkat ini sangat tidak memadai, dan tentunya mas Teddi juga liat kenyataan di lapangan, banyak orang berniat baik membantu orang lain dengan ilmu dan restu yang belum lengkap, malah menyebabkan cedera pada orang yang mau ditolong.  Karena pertimbangan ini, saya selalu menyarankan bagi mereka yang tertarik belajar TAT untuk menekuninya secara lengkap di Pelatihan Terapis TAT, sehingga tahu pakem-pakem terapi TAT yang aman dan efektif dalam segala aplikasi.  </p>
<p>Terimakasih, selamat berlatih!<br />
Reza</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Teddi</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-464</link>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 07:38:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-464</guid>
		<description>Halo Mas Reza,

Terima kasih untuk artikelnya. Saya sudah praktik, dan memang mak nyus. Yang saya penasaran hanyalah, jika kita praktikkan setiap langkah tanpa menyentuh seperti diterangkan di atas, bagaimana ya hasilnya? Ini lagi saya coba.

Soal ilmiah dan tidak ilmiah, hehe..udah jadul ah. Dulu saat dukun nyembur pasiennya dengan air, katanya itu tidak masuk akal. Begitu orang ngerti dan belajar tentang hipnoterapi dan NLP, maka ia jadi sangat masuk akal. 

Yes, sains umumnya melihat ke belakang, dan menguji keandalan dari sesuatu yang telah ada. Saya katakan umumnya, karena demikianlah sains yang umumnya dipahami sekarang. Mungkin satu saat akan berubah. Dulu, di kampus saya metode penelitian kualitatif dianggap rendah validitasnya. Begitu banyak doktor pulkam dan punya banyak pengikut seperti saya, maka metode ini pun jadi trend setter. Maka, saya sepakat kalau sains masih terus berkembang. Apa yang kita anggap tidak ilmiah saat ini bisa jadi membuat kita malu beberapa tahun mendatang. 

Saya juga tidak terlalu peduli dengan keilmiahan sebuah metode, sejauh ia masuk akal. Meskipun, saya dididik dalam tradisi ilmiah yang kental. La wong nyatanya saya bisa membantu klien fobia dalam 15 menit kok, sementara rekan-rekan saya yang sudah jadi psikolog (saya orang psikologi juga) masih bingung bagaimana caranya. 

Sesuatu yang baru layaknya dicari tahu, dipelajari, dan didalami ketika ia memang memunculkan fenomena menarik. Kalaupun ia belum terbukti, jangan-jangan kita lah yang masih terlalu bodoh untuk memahaminya. 

Btw, kalau untuk konteks di luar penanganan bencana, pola kalimatnya seperti apa ya? Dan, pola kalimat di atas, adakah kunci2nya alias pakem2 yang harus ada? Semisal saya harus menggunakannya dalam bahasa daerah, tentu harus kita modifikasi.

Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda berbagi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Mas Reza,</p>
<p>Terima kasih untuk artikelnya. Saya sudah praktik, dan memang mak nyus. Yang saya penasaran hanyalah, jika kita praktikkan setiap langkah tanpa menyentuh seperti diterangkan di atas, bagaimana ya hasilnya? Ini lagi saya coba.</p>
<p>Soal ilmiah dan tidak ilmiah, hehe..udah jadul ah. Dulu saat dukun nyembur pasiennya dengan air, katanya itu tidak masuk akal. Begitu orang ngerti dan belajar tentang hipnoterapi dan NLP, maka ia jadi sangat masuk akal. </p>
<p>Yes, sains umumnya melihat ke belakang, dan menguji keandalan dari sesuatu yang telah ada. Saya katakan umumnya, karena demikianlah sains yang umumnya dipahami sekarang. Mungkin satu saat akan berubah. Dulu, di kampus saya metode penelitian kualitatif dianggap rendah validitasnya. Begitu banyak doktor pulkam dan punya banyak pengikut seperti saya, maka metode ini pun jadi trend setter. Maka, saya sepakat kalau sains masih terus berkembang. Apa yang kita anggap tidak ilmiah saat ini bisa jadi membuat kita malu beberapa tahun mendatang. </p>
<p>Saya juga tidak terlalu peduli dengan keilmiahan sebuah metode, sejauh ia masuk akal. Meskipun, saya dididik dalam tradisi ilmiah yang kental. La wong nyatanya saya bisa membantu klien fobia dalam 15 menit kok, sementara rekan-rekan saya yang sudah jadi psikolog (saya orang psikologi juga) masih bingung bagaimana caranya. </p>
<p>Sesuatu yang baru layaknya dicari tahu, dipelajari, dan didalami ketika ia memang memunculkan fenomena menarik. Kalaupun ia belum terbukti, jangan-jangan kita lah yang masih terlalu bodoh untuk memahaminya. </p>
<p>Btw, kalau untuk konteks di luar penanganan bencana, pola kalimatnya seperti apa ya? Dan, pola kalimat di atas, adakah kunci2nya alias pakem2 yang harus ada? Semisal saya harus menggunakannya dalam bahasa daerah, tentu harus kita modifikasi.</p>
<p>Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda berbagi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Reza Gunawan</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-453</link>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 07:00:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-453</guid>
		<description>Halo mas Adi Saputra,

Saya hargai pendapat Anda. Di bidang yang saya tekuni, terutama aplikasi penyembuhan trauma, sudah banyak sekali bukti empiris, dan masih terbatas bukti yang masuk dalam rentang pembuktian yang Anda harapkan. Verifikasi punya banyak bentuk dan makna, sehingga tidak mungkin muat di ekspektasi semua orang.

Di lain pihak, metode penyembuhan trauma yang efektif cenderung sedikit sekali, padahal kondisi kita sekarang tinggal di negara yang rentan bencana alam, sehingga cedera jiwa mudah terjadi.  

Itulah pertimbangan saya, mengapa saya bagikan ilmu TAT untuk trauma bencana secara gratis, karena begitu kita sudah menjadi korban trauma, dengan segala efeknya, argumen tentang pembuktian ilmiah dan sejenisnya, akan mundur karena yang penting apakah suatu metode bisa memberikan penyembuhan/transformasi yang diharapkan.  

Sejujurnya adakah metode lain yang mungkin bagi Anda lebih efektif dan terbukti sesuai harapan keilmiahan Anda untuk aplikasi trauma bencana? Bila ada, dengan senang hati saya bersedia diskusikan dengan terbuka.

Dan saya tidak sepakat tentang suatu ilmu harus diverifikasi ketika orang perlu membayar untuk mendapatkan ilmu tersebut. Menurut saya, setiap ilmu harus dipelajari, diamalkan dan diverifikasi, terlepas dari apakah penggunaannya komersial ataupun tidak.  

Seorang terapis menetapkan tarif itu bukan semata karena alasan komersial, namun proses memperoleh ilmu pun juga ada investasi yang harus dia lakukan untuk menjadi terapis yang lebih kompeten, dan menurut saya selama tujuan utamanya bukan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, namun hidup berkecukupan dari profesi yang dijalankan dengan niat baik, dan benar-benar membawa manfaat bagi kliennya, itu tidak ada masalah.  Saya sendiri dalam berpraktek fulltime selama hampir 8 tahun ini, belum sekali pun mengiklankan jasa saya di media-media, bukan berarti bagi saya beriklan itu haram.

Dan sekali lagi Anda boleh menyebut judul apapun untuk profesi saya, sejujurnya saya tidak terlalu peduli.  Buat saya, niat baik, ilmu &amp; metode yang efektif hasilnya, hubungan terapis-klien yang sehat, serta hasil terapi yang transformatif, berada jauh diatas hal-hal kecil lainnya.  

Terakhir, saya percaya suatu hari, science/keilmiahan akan mengejar ketinggalan, dan mampu bercerita lebih banyak.  Saya tidak akan menunda pekerjaan ini, hanya karena menunggu keilmiahan yang Anda harapkan, karena dari sejarah kita bisa belajar bahwa science selalu muncul telat dan di paling akhir, sementara terlalu banyak masalah, trauma dan penyakit yang butuh pertolongan, di saat ini juga.

Semoga diskusi bermanfaat bagi kita semua,
Reza</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo mas Adi Saputra,</p>
<p>Saya hargai pendapat Anda. Di bidang yang saya tekuni, terutama aplikasi penyembuhan trauma, sudah banyak sekali bukti empiris, dan masih terbatas bukti yang masuk dalam rentang pembuktian yang Anda harapkan. Verifikasi punya banyak bentuk dan makna, sehingga tidak mungkin muat di ekspektasi semua orang.</p>
<p>Di lain pihak, metode penyembuhan trauma yang efektif cenderung sedikit sekali, padahal kondisi kita sekarang tinggal di negara yang rentan bencana alam, sehingga cedera jiwa mudah terjadi.  </p>
<p>Itulah pertimbangan saya, mengapa saya bagikan ilmu TAT untuk trauma bencana secara gratis, karena begitu kita sudah menjadi korban trauma, dengan segala efeknya, argumen tentang pembuktian ilmiah dan sejenisnya, akan mundur karena yang penting apakah suatu metode bisa memberikan penyembuhan/transformasi yang diharapkan.  </p>
<p>Sejujurnya adakah metode lain yang mungkin bagi Anda lebih efektif dan terbukti sesuai harapan keilmiahan Anda untuk aplikasi trauma bencana? Bila ada, dengan senang hati saya bersedia diskusikan dengan terbuka.</p>
<p>Dan saya tidak sepakat tentang suatu ilmu harus diverifikasi ketika orang perlu membayar untuk mendapatkan ilmu tersebut. Menurut saya, setiap ilmu harus dipelajari, diamalkan dan diverifikasi, terlepas dari apakah penggunaannya komersial ataupun tidak.  </p>
<p>Seorang terapis menetapkan tarif itu bukan semata karena alasan komersial, namun proses memperoleh ilmu pun juga ada investasi yang harus dia lakukan untuk menjadi terapis yang lebih kompeten, dan menurut saya selama tujuan utamanya bukan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, namun hidup berkecukupan dari profesi yang dijalankan dengan niat baik, dan benar-benar membawa manfaat bagi kliennya, itu tidak ada masalah.  Saya sendiri dalam berpraktek fulltime selama hampir 8 tahun ini, belum sekali pun mengiklankan jasa saya di media-media, bukan berarti bagi saya beriklan itu haram.</p>
<p>Dan sekali lagi Anda boleh menyebut judul apapun untuk profesi saya, sejujurnya saya tidak terlalu peduli.  Buat saya, niat baik, ilmu &#038; metode yang efektif hasilnya, hubungan terapis-klien yang sehat, serta hasil terapi yang transformatif, berada jauh diatas hal-hal kecil lainnya.  </p>
<p>Terakhir, saya percaya suatu hari, science/keilmiahan akan mengejar ketinggalan, dan mampu bercerita lebih banyak.  Saya tidak akan menunda pekerjaan ini, hanya karena menunggu keilmiahan yang Anda harapkan, karena dari sejarah kita bisa belajar bahwa science selalu muncul telat dan di paling akhir, sementara terlalu banyak masalah, trauma dan penyakit yang butuh pertolongan, di saat ini juga.</p>
<p>Semoga diskusi bermanfaat bagi kita semua,<br />
Reza</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bambang w</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-446</link>
		<dc:creator>bambang w</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 02:37:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-446</guid>
		<description>salam kenal mas Reza, 

apa perbedaan yg signifikan antara TAT dan EFT, dan seberapa manjur dalam mengatasi masalah2 fisik atau emosional.
terima kasih 

salam, 
bambang w</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal mas Reza, </p>
<p>apa perbedaan yg signifikan antara TAT dan EFT, dan seberapa manjur dalam mengatasi masalah2 fisik atau emosional.<br />
terima kasih </p>
<p>salam,<br />
bambang w</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: boedie</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-432</link>
		<dc:creator>boedie</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 15:31:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-432</guid>
		<description>ya sudah jangan berdebat, kalau memang berniat mau menolong sesama alangkah baiknya melepaskan ego pribadi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya sudah jangan berdebat, kalau memang berniat mau menolong sesama alangkah baiknya melepaskan ego pribadi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Adi Saputra</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-430</link>
		<dc:creator>Adi Saputra</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:12:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-430</guid>
		<description>Hallo mas Reza,
Terima kasih atas komentar Anda tentang profesi Anda.

Singkat saja ya, apa yang saya utarakan di sini bukan mengenai profesi Anda. Di dunia ini (bahkan di Amerika sekali pun) profesi dukun tetap laku, apalagi di Indonesia. 
Yang jadi masalah adalah ketika ilmu dari profesi itu disebarkan (diaplikasikan) ke orang lain apalagi diiklankan di media-media dan orang harus bayar untuk mendapatkan atau mengetahui ilmu tersebut (pasang tarif). Disini perlu ada verifikasi.
Kalau Anda mau praktekkan ilmu Anda (atau profesi Anda) tersebut dalam diri atau keluarga Anda sendiri, silahkan, tidak ada larangan. Tapi ketika sudah menyentuh khalayak ramai, sekali lagi hal itu harus diverifikasi.

Salam,
Adi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo mas Reza,<br />
Terima kasih atas komentar Anda tentang profesi Anda.</p>
<p>Singkat saja ya, apa yang saya utarakan di sini bukan mengenai profesi Anda. Di dunia ini (bahkan di Amerika sekali pun) profesi dukun tetap laku, apalagi di Indonesia.<br />
Yang jadi masalah adalah ketika ilmu dari profesi itu disebarkan (diaplikasikan) ke orang lain apalagi diiklankan di media-media dan orang harus bayar untuk mendapatkan atau mengetahui ilmu tersebut (pasang tarif). Disini perlu ada verifikasi.<br />
Kalau Anda mau praktekkan ilmu Anda (atau profesi Anda) tersebut dalam diri atau keluarga Anda sendiri, silahkan, tidak ada larangan. Tapi ketika sudah menyentuh khalayak ramai, sekali lagi hal itu harus diverifikasi.</p>
<p>Salam,<br />
Adi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alva</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-424</link>
		<dc:creator>Alva</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 03:59:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-424</guid>
		<description>Mas Reza,

Terimakasih sharing ilmunya walaupun masih banyak pihak yang mempertanyakan, sebagai manusia kita hanya mampu untuk berusaha menjadi bermanfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain terlepas ilmiah atau tidak.

Salam,

Alva</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Reza,</p>
<p>Terimakasih sharing ilmunya walaupun masih banyak pihak yang mempertanyakan, sebagai manusia kita hanya mampu untuk berusaha menjadi bermanfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain terlepas ilmiah atau tidak.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Alva</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Reza Gunawan</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-422</link>
		<dc:creator>Reza Gunawan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 05:42:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-422</guid>
		<description>Halo mas Adi,

Barangkali bila profesi utama saya adalah peneliti ilmiah, maka faktor keilmiahan menjadi porsi yang paling dominan dalam menghasilkan laporan riset.  Namun saya seorang terapis, bukan peneliti ilmiah. Bagi saya, yang terpenting adalah &quot;masuk akal&quot;, etis, efektif dan berintegritas.

Pada saat yang sama, mendewakan keilmiahan pun perlu disikapi dengan hati-hati.  Misalnya di profesi lain seperti psikiatri misalnya, meski secara umum diakui sebagai profesi resmi yang dihormati, namun metodologi pemilihan obatnya pun bukan mengikuti prinsip science. Hampir semua pemilihan obat berdasarkan trial dan error, tanpa tes darah, maupun konfirmasi kondisi fisiologis pasien.  Jadi dalam profesi yang dianggap resmi dan ilmiah pun, metodologi praktek di lapangannya juga tidak 100%.  

Contoh saya sebelumnya mengenai aspirin, penekanannya bukan tentang masalah disclosure kepada pasien.  Yang saya maksud, adalah para dokter tetap menggunakan aspirin selama 100 tahun, TANPA para dokter sendiri tahu secara ilmiah tentang bagaimana aspirin bekerja dalam tubuh manusia.  Terlepas dari pasiennya berhak diberitahu atau tidak, adalah kesalahan untuk berasumsi bahwa dokter berpraktek SELALU berdasar prinsip ilmiah/science.  

Dan terakhir, apa yang disebut ilmiah dalam dunia kedokteran pun, ternyata berubah sejalan dengan penelitian lebih lanjut.  Sudah berkali-kali kita mengalami, dulu tentang pengangkatan kelenjar thymus serta amandel pada anak. Di level epigenetika, asumsi lama tentang inti sel / nukleus adalah otak utama dalam sel, sekitar 5 tahun ini dipatahkan oleh temuan bahwa ternyata otak sel terletak di membran sel, bukan inti sel.

Jadi saya tetap rela dan peduli untuk menjelaskan apakah Anda tertarik untuk informasi tentang terapinya, profesinya, maupun efektivitasnya di lapangan. Peduli bukan untuk membuktikan diri, karena penerimaan atas profesi saya dan manfaatnya sudah cukup mendapatkan bukti riil di lapangan, tetapi peduli karena Anda berhak mendapat penjelasan.  Masalah penjelasannya rela diterima atau tidak, sejujurnya bukan tanggung jawab saya, tapi pilihan Anda sendiri.

Sebagian dari guru saya berasal dari kalangan akademis bahkan hingga bergelar profesor.  Mereka profil manusia yang menurut saya berimbang antara pengetahuan akademis, kejernihan memilah, dan praktikalitas lapangan.  Dari merekalah saya belajar bahwa science bukan segala-galanya, meski tetap perlu dijaga proporsinya dalam mengenal sesuatu yang baru.

Terakhir, saya lampirkan studi ilmiah tentang TAT (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17309380), yang sudah pernah dilakukan untuk aplikasi weight loss, dan sekarang SEDANG berjalan riset baru dalam skala yang lebih besar. Kita bisa bersabar menunggu hasilnya dipublikasikan.

Setiap teknik baru, pasti akan mengalami kontroversi serta butuh waktu untuk mendapatkan validasi ilmiah, karena melakukan penelitian butuh banyak faktor.  Barangkali, bila belum ada riset ilmiahnya, lebih bijaksana menunda kesimpulan, ketimbang tergesa mengkategorikan sesuatu yang belum dikenal.  Itulah sifat dari pikiran ilmiah, punya takaran skeptis namun tetap terbuka.  

Saya sendiri sering bercanda dan mengibaratkan profesi saya seperti persilangan antara dokter, psikolog dan dukun (hehehe...) karena melihat manusia dari aspek fisik, psikologis dan spiritual. Dan mohon maaf, sejujurnya Anda berhak meletakkan profesi saya di kategori mana, dan saya tetap bisa menerima itu, sembari tetap menjalankan profesi ini dengan niat utama membantu sesama.  

Saya tidak pernah menjalankan pekerjaan ini demi validasi ilmiah dari siapapun.  Buat saya &quot;masuk akal&quot; sudah cukup sebelum ada bukti ilmiah lebih lanjut, dan lebih penting melihat pada hasil efektivitas, integritas dan etika sebagai terapis.

Terimakasih,
Reza Gunawan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo mas Adi,</p>
<p>Barangkali bila profesi utama saya adalah peneliti ilmiah, maka faktor keilmiahan menjadi porsi yang paling dominan dalam menghasilkan laporan riset.  Namun saya seorang terapis, bukan peneliti ilmiah. Bagi saya, yang terpenting adalah &#8220;masuk akal&#8221;, etis, efektif dan berintegritas.</p>
<p>Pada saat yang sama, mendewakan keilmiahan pun perlu disikapi dengan hati-hati.  Misalnya di profesi lain seperti psikiatri misalnya, meski secara umum diakui sebagai profesi resmi yang dihormati, namun metodologi pemilihan obatnya pun bukan mengikuti prinsip science. Hampir semua pemilihan obat berdasarkan trial dan error, tanpa tes darah, maupun konfirmasi kondisi fisiologis pasien.  Jadi dalam profesi yang dianggap resmi dan ilmiah pun, metodologi praktek di lapangannya juga tidak 100%.  </p>
<p>Contoh saya sebelumnya mengenai aspirin, penekanannya bukan tentang masalah disclosure kepada pasien.  Yang saya maksud, adalah para dokter tetap menggunakan aspirin selama 100 tahun, TANPA para dokter sendiri tahu secara ilmiah tentang bagaimana aspirin bekerja dalam tubuh manusia.  Terlepas dari pasiennya berhak diberitahu atau tidak, adalah kesalahan untuk berasumsi bahwa dokter berpraktek SELALU berdasar prinsip ilmiah/science.  </p>
<p>Dan terakhir, apa yang disebut ilmiah dalam dunia kedokteran pun, ternyata berubah sejalan dengan penelitian lebih lanjut.  Sudah berkali-kali kita mengalami, dulu tentang pengangkatan kelenjar thymus serta amandel pada anak. Di level epigenetika, asumsi lama tentang inti sel / nukleus adalah otak utama dalam sel, sekitar 5 tahun ini dipatahkan oleh temuan bahwa ternyata otak sel terletak di membran sel, bukan inti sel.</p>
<p>Jadi saya tetap rela dan peduli untuk menjelaskan apakah Anda tertarik untuk informasi tentang terapinya, profesinya, maupun efektivitasnya di lapangan. Peduli bukan untuk membuktikan diri, karena penerimaan atas profesi saya dan manfaatnya sudah cukup mendapatkan bukti riil di lapangan, tetapi peduli karena Anda berhak mendapat penjelasan.  Masalah penjelasannya rela diterima atau tidak, sejujurnya bukan tanggung jawab saya, tapi pilihan Anda sendiri.</p>
<p>Sebagian dari guru saya berasal dari kalangan akademis bahkan hingga bergelar profesor.  Mereka profil manusia yang menurut saya berimbang antara pengetahuan akademis, kejernihan memilah, dan praktikalitas lapangan.  Dari merekalah saya belajar bahwa science bukan segala-galanya, meski tetap perlu dijaga proporsinya dalam mengenal sesuatu yang baru.</p>
<p>Terakhir, saya lampirkan studi ilmiah tentang TAT (<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17309380" rel="nofollow">http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17309380</a>), yang sudah pernah dilakukan untuk aplikasi weight loss, dan sekarang SEDANG berjalan riset baru dalam skala yang lebih besar. Kita bisa bersabar menunggu hasilnya dipublikasikan.</p>
<p>Setiap teknik baru, pasti akan mengalami kontroversi serta butuh waktu untuk mendapatkan validasi ilmiah, karena melakukan penelitian butuh banyak faktor.  Barangkali, bila belum ada riset ilmiahnya, lebih bijaksana menunda kesimpulan, ketimbang tergesa mengkategorikan sesuatu yang belum dikenal.  Itulah sifat dari pikiran ilmiah, punya takaran skeptis namun tetap terbuka.  </p>
<p>Saya sendiri sering bercanda dan mengibaratkan profesi saya seperti persilangan antara dokter, psikolog dan dukun (hehehe&#8230;) karena melihat manusia dari aspek fisik, psikologis dan spiritual. Dan mohon maaf, sejujurnya Anda berhak meletakkan profesi saya di kategori mana, dan saya tetap bisa menerima itu, sembari tetap menjalankan profesi ini dengan niat utama membantu sesama.  </p>
<p>Saya tidak pernah menjalankan pekerjaan ini demi validasi ilmiah dari siapapun.  Buat saya &#8220;masuk akal&#8221; sudah cukup sebelum ada bukti ilmiah lebih lanjut, dan lebih penting melihat pada hasil efektivitas, integritas dan etika sebagai terapis.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Reza Gunawan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ovy</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-421</link>
		<dc:creator>Ovy</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 11:30:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-421</guid>
		<description>Hi Reza,

Saya sangat setuju dan mendukung Anda. Biarkan orang2 di luar sana mau memberikan cap apa, yang penting tugas2 mulia terus dijalankan dan pesan2 agung terus dikumandangkan, demi kemaslahatan umat manusia.

Kalau mau dikatakan paranormal, itu adalah kelompok orang2 yang memiliki kemampuan di atas normal. Justru orang2 itulah yang turut andil menyelamatkan dunia sehingga kita umat manusia tetap bisa exist hingga saat ini.

Mantapkan langkah! Hidup reza Gunawan! 
Viva Paranormal!

Ovy</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi Reza,</p>
<p>Saya sangat setuju dan mendukung Anda. Biarkan orang2 di luar sana mau memberikan cap apa, yang penting tugas2 mulia terus dijalankan dan pesan2 agung terus dikumandangkan, demi kemaslahatan umat manusia.</p>
<p>Kalau mau dikatakan paranormal, itu adalah kelompok orang2 yang memiliki kemampuan di atas normal. Justru orang2 itulah yang turut andil menyelamatkan dunia sehingga kita umat manusia tetap bisa exist hingga saat ini.</p>
<p>Mantapkan langkah! Hidup reza Gunawan!<br />
Viva Paranormal!</p>
<p>Ovy</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Adi Saputra</title>
		<link>http://www.rezagunawan.com/2009/10/penyembuhan-trauma-rasa-takut-paska-bencana-dengan-tat/comment-page-1/#comment-366</link>
		<dc:creator>Adi Saputra</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 07:24:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rezagunawan.com/?p=343#comment-366</guid>
		<description>Hallo Bung Reza,

1. Berdasarkan informasi Anda, saya mencoba googling di internet dan menemukan di wikipedia (saya kutip salah satu paragraf):

&quot;No scientifically plausible method of action is proposed for Tapas Acupressure Technique, instead relying on unvalidated putative energy and meridians with no identified biophysical or histological basis. A 2005 review of so-called &quot;Power Therapies&quot; concluded that TAT and similar techniques &quot;offered no new scientifically valid theories of action, show only non-specific efficacy, show no evidence that they offer substantive improvements to extant psychiatric care, yet display many characteristics consistent with pseudoscience.&quot;[2] TAT also conforms to the &quot;nine practices of pseudoscience&quot; as identified by AR Pratkins.[6]

Dari informasi di internet tersebut, saya melihat bahwa pendidikan Anda (maaf) tidak terakreditasi dan tidak credible, karena hanya berupa kursus-kursus  yang tidak ilmiah.

2. Karena pedidikannya tidak ilmiah, maka ilmu yang diajarkannya pun bukan ilmu yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

3. Karena pendidikan dan ilmunya yang tidak ilmiah, maka jenis terapi Anda ini tidak dapat diverifikasi secara ilmiah.

Dengan segala hormat saya, Anda tetap dikategorikan sebagai paranormal atau dukun dalam bahasa awam. Contoh Anda mengenai Aspirin; dalam ilmu kedokteran zaman dahulu kala seperti yang Anda sebutkan, pasien tidak berhak tahu (bahkan tidak mau tahu) terhadap apa yang diberikan oleh para dokter kepadanya. Ilmu kedokteran modern mewajibkan dokter memberitahu (dan pasien berhak tahu) apa saja yang diberikan sehingga pasien tahu resiko terhadap perlakuan medis yang diberikan kepadanya. 

Salam,
Adi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo Bung Reza,</p>
<p>1. Berdasarkan informasi Anda, saya mencoba googling di internet dan menemukan di wikipedia (saya kutip salah satu paragraf):</p>
<p>&#8220;No scientifically plausible method of action is proposed for Tapas Acupressure Technique, instead relying on unvalidated putative energy and meridians with no identified biophysical or histological basis. A 2005 review of so-called &#8220;Power Therapies&#8221; concluded that TAT and similar techniques &#8220;offered no new scientifically valid theories of action, show only non-specific efficacy, show no evidence that they offer substantive improvements to extant psychiatric care, yet display many characteristics consistent with pseudoscience.&#8221;[2] TAT also conforms to the &#8220;nine practices of pseudoscience&#8221; as identified by AR Pratkins.[6]</p>
<p>Dari informasi di internet tersebut, saya melihat bahwa pendidikan Anda (maaf) tidak terakreditasi dan tidak credible, karena hanya berupa kursus-kursus  yang tidak ilmiah.</p>
<p>2. Karena pedidikannya tidak ilmiah, maka ilmu yang diajarkannya pun bukan ilmu yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.</p>
<p>3. Karena pendidikan dan ilmunya yang tidak ilmiah, maka jenis terapi Anda ini tidak dapat diverifikasi secara ilmiah.</p>
<p>Dengan segala hormat saya, Anda tetap dikategorikan sebagai paranormal atau dukun dalam bahasa awam. Contoh Anda mengenai Aspirin; dalam ilmu kedokteran zaman dahulu kala seperti yang Anda sebutkan, pasien tidak berhak tahu (bahkan tidak mau tahu) terhadap apa yang diberikan oleh para dokter kepadanya. Ilmu kedokteran modern mewajibkan dokter memberitahu (dan pasien berhak tahu) apa saja yang diberikan sehingga pasien tahu resiko terhadap perlakuan medis yang diberikan kepadanya. </p>
<p>Salam,<br />
Adi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
